TANAH YANG SEPI

AUSTRALIA

Di dunia ini ada pembunuh yang paling kejam daripada senjata tajam dan racun, yaitu kesepian. Mirisnya, kata menyeramkan ini adalah keadaan yang biasa di negara maju. Canberra, misalnya, kehidupan yang serba cepat dan kesibukan yang tidak ada habisnya mengantarkan manusianya ke arah kesepian. Di balik kesibukan dan padatnya aktivitas hidup, di sana tersimpan suatu hal yang ditakuti semua orang, yaitu kesepian. Apakah orang-orang di Canberra sangat menyibukan dirinya semata-mata untuk menutupi rasa sepinya?

Asumsiku tidak terlalu salah, tapi belum tentu akurat. Ada perbedaan yang sangat menonjol antara kehidupan di negara maju dan di negara berkembang. Pertama dalam hal hubungan antara individu, orang-orang di Canberra adalah orang yang tidak membuka diri untuk siapa saja. Semua orang sibuk dengan dirinya masing-masing. Akan sangat jarang kita bisa menemukan tetangga yang bisa diajak ngobrol dan saling bertegur sapa. Menurut teman, yang kebetulan serumah dengan orang asli Australia, orang-orang disini akan menjalin hubungan komunikasi hanya dengan komunitasnya saja. Karena dengan ini kemungkinan waktu mereka akan bisa termenej. Hah, beginikah hidup?

SENJA

Di Indonesia, tempat aku dibesarkan, dunia terasa sangat hidup. Setiap kita keluar dari rumah, pasti ada saja orang yang menyapa dan melambaikan senyuman. Bahkan, kita bisa memasuki rumah tetangga untuk sekedar sharing pengalaman dan makan bersama. Indah bukan? Suasana seperti ini lah yang aku rindukan sejak aku tinggal di Canberra. Kadang aku tidak yakin bahwa Canberra ini berpenghuni manusia. Karena setiap kali aku keluar dari rumah, aku jarang menemukan orang di sekitar ku. Aku baru akan menemukan mereka di pusat perbelanjaan dan kampus. AH, apakah ini benar-benar kehidupan negara maju?

Perbedaan selanjutnya adalah your business is your own (masalahmu adalah masalahmu). Kalau kau mendapatkan kesulitan ketika dalam perjalanan, misalnya, orang tak akan langsung membantumu jika kau tak meminta. Rasa peduli antara masyarakat biasa dan masyarakat maju sangatlah jauh berbeda. Di Australia, jika kita pun melihat orang yang jatuh di jalan, mau itu nenek-nenek atau anak kecil, kita tidak boleh langsung membantunya. Ini mungkin sudah menjadi budaya mereka dimana selama orang masih mampu dan tidak terlalu parah, kita tidak boleh sedikit pun membantunya. Ini bukan sekedar asumsi, tapi pengalaman pribadi. Waktu itu, aku berniat membantu seorang nenek-nenek yang kesulitan menaiki bis. SIalnya, aku malah dimaki karena mungkin disangka telah menghina kemampuan si nenek itu. Ah, ada saja.

Baiklah, ceritaku ini hanya rangkuman dari banyak kisah yang sebenarnya terjadi. Nanti aku cerita lagi, sekian dulu ya.

Canberra, 4 April 2017

 

Wina Sumiati

JANGAN DENGERIN SENDIRI: HOROR INDONESIA, LAYAK TONTON

Poster-film-Jangan-Dengerin-Sendiri

gambar dari: bacaberita.com

Sudah hampir dua tahun aku tidak pernah menikmati film horror Indonesia. Dalam pikiran, film-film horror Indonesia masa kini sangat tidak layak ditonton karena kebanyakan isinya bukan horror, tapi adegan sexual. Namun prasangka itu berubah ketika kemarin aku membuka youtube dan menemukan film Jangan Dengerin Sendiri. Menurutku, film ini sangat menarik dan pantas disebut sebagai film horror. Dari adegan awal sampai akhir cerita, film JDS dibumbui dengan aura magis dan sarat hantu. Seram!

Alya, tokoh utama dalam film ini, mendapat wasiat kalung kuno beberapa saat sebelum ayahnya meninggal. Ia tidak pernah tahu asal-muasal kalung tersebut, tapi ayahnya berpesan padanya untuk selalu memakai kalung itu demi keselamatan keluarga.

Suatu saat, pacar Alya (Reno) dan teman akrabnya (Helda) memiliki rencana untuk pergi ke Gunung Sadahurip yang terletak di Kabupaten Garut untuk melakukan sebuah penelitian. Dibuatlah rencana satu hari untuk pergi ke Gunung Sada Hurip yang terkenal anker dan masih sering digunakan sebagai tempat sesajen.

Adegan mulai sarat akan suasana magis sejak petualangan ke gunung Sada Hurip dilakukan. Keanehan pertama terjadi ketika Alya, Reno, dan Helda melewati seorang kakek tua yang sedang merapikan hasil panennya. Kakek itu menatap Alya dengan sangar setiap kali dia melewat. Kemudian, suasana pun jadi semakin horror ketika mobil mereka secara tiba-tiba berhenti di tengah perjalanan, di dalam hutan.

Sampai jam menunjukan pukul 11 malam, montir mobil yang ditelepon Reno tidak kunjung dating. Akhirnya, mereka mendengarkan siaran radio “Jangan Dengerin Sendiri”. Reno menantang Alya dan Helda bahwa JDS hanya judul, tidak akan berpengaruh apapun. Apalagi mendatangkan hantu, mustahil. Namun kemustahilan itu berubah menjadi kepercayaan ketika seorang hantu nenek-nenek mendatangi mereka. Beruntung, kalung Alya bisa membuat hantu itu jauh.

Cerita tidak selesai sampai di sini. Terror hantu yang terus-menerus terjadi membuat ketiga orang itu tidak nyaman. Didatangkanlah Naomi, sepupu Helda yang merupakan tim JDS dan memiliki kekuatan pancaindra pula, untuk menyelesaikan masalah terror hantu itu.

crop

gambar dicrop dari film Jangan Dengerin Sendiri

Setelah ditelusuri, ternyata si nenek hantu menginginkan kalung Alya. Konon, kalung itu adalah kalung kekuatan si hantu yang direbut oleh ayah Alya. Karena ingin kehidupan berjalan normal tanpa mendapatkan terror, ALya pun mengikhlaskan kalung tersebut. Esok harinya kalung itu dikembalikan ke mayat nenek hantu yang letaknya ada di salah satu pintu rahasia di Gunung Sadahurip.

Meski dikembalikan, arwah hantu itu masih membalas dendam dengan memasuki tubuh Helda untuk membunuh ALya. Inilah akhir cerita, dimana Reno akhirnya membakar mayat nenek hantu supaya bisa tersempurnakan.

Isi cerita film ini biasa saja, namun latar, suara, dan suasana yang dimunculkan dalam film sangatlah menarik. Aku bahkan berkali-kali dibuat deg-degan dan penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya. Hantu yang ditampilkan dalam film ini pun cukup menyeramkan. Ditambah, film ini bisa ditonton oleh semua orang karena tidak mempertontonkan adegan porno.

Canberra, 2 April 2017

 

Wina Sumiati

UNTUKMU YANG SELALU MELIHAT WAKTU, SUAMIKU..

Masih ingat tiga bulan yang lalu saat seorang pria di sampingku mengucapkan ijab dengan lantang. Dia lah suamiku yang saat ini mengisi kehidupan yang dulu sepi. Bersamanya kini semuanya terasa berwarna. Setiap mata terbangun di pagi hari, ada orang yang tertidur dengan lelap dan tenang. Menggambarkan sosoknya yang bijak dan penuh kesabaran.

17670527_269750683474255_1956227882_o17690284_269675650148425_1197280030_n

 

Aku tak mungkin tak menyayanginya. Suamiku adalah pria yang berani berkorban demi keluarganya. Luar biasa bukan? Ceritanya bermula empat bulan yang lalu. Saat itu aku sedang menjalankan studi S2 di negeri Kangguru, Australia. Tiba-tiba dia memutuskan untuk menikahiku saat libur kuliah. Kami tak ingin jarak menjadi penghalang dalam hubungan ini. Tanggal 11 Desember 2016, dua hari setelah aku tiba di Indonesia, kami menikah. Lucunya, waktu itu rumahku masih dalam proses pembangunan, tapi mertuaku tetap ingin melaksanakan pernikahan secepatnya. Tanpa ditunda-tunda lagi. Keluarga dan saudara-saudaraku sangat kaget karena belum mempersiapkan apapun. Jadinya, hanya dalam dua hari persiapan pernikahan dilakukan. Semuanya terlaksana dengan lancar, meskipun dengan sangat sederhana. Begitulah suamiku, dia orang yang sangat penuh kejutan. Bagiku, tak masalah pestanya tak meriah, yang penting kami sah!

Menikah memang menjadi solusi untuk tetap bersama, tapi tetap ada yang harus dikorbankan. Suamiku melepas pekerjaannya dan rela ikut bersamaku ke Canberra. Dengan modal Bahasa inggris yang pas-pasan, akhirnya suamiku berkomitmen dan berani ikut apa pun resikonya. Dia belajar pagi sampai sore supaya bisa berbicara Bahasa Inggris. Aku paham dengan ketulusan dan pengorbanannya, maka dengan itu dialah orang yang paling aku sayangi di dunia ini. Dan lagi, bukankah sebagai seorang istri pengabdian yang harus dilakukan adalah kepada suami?

aa

Sebagai orang yang menyayangi suaminya, ingin rasanya aku memberikan kado barang yang paling suamiku inginkan, yaitu jam tangan. Sebenarnya 2 bulan lalu sebelum ke Canberra, suamiku telah membeli sebuah jam tangan di pasar tradisional dengan harga di bawah 50 ribu. Aku masih ingat senyumannya yang luar biasa karena ia memiliki jam tangan baru dengan tampilan yang keren. Tapi belum berusia sebulan, jam tangan itu sudah eror. Jam tanganku menunjukan angka 12, sedangkan jam tangannya menjadi sangat lambat, di angka 9. “Ah mungkin batrenya sudah habis,” kata suamiku. Tapi setelah dipasang batre baru, jam tangan tersebut tetap tidak beroprasi. Wajahnya terlihat tidak bersemangat karena mulai saat ini suamiku tidak memakai jam tangan ke tempat kerjanya.

Sesekali, setiap pulang kerja, suamiku melihat kembali jam tangannya. Mungkin dia memperhatikan apa yang salah dengan jam tangan yang masih berusia bayi itu. Kadang aku menawarinya untuk membeli jam tangan di Canberra, tapi dia terus menolak. Aku sangat paham suamiku sadar bahwa harga jam tangan di sini sangat mahal. Tak mungkin bisa membeli jam tangan dengan harga minimal sekitar $100, sedangkan suamiku belum memiliki pekerjaan tetap di negeri orang. Katanya daripada membeli jam tangan di Australia, lebih baik gunakan saja uangnya untuk biaya makan sehari-hari. Aku yakin dia sangat menginginkan jam tangan, tapi aku juga sadar dia tidak ingin egois untuk kebutuhan sekundernya, sedangkan dia masih mencari-cari pekerjaan tetap.

Tinggal 2 bulan lagi menuju hari kelahirannya, jadi inilah kesempatan yang seharusnya aku manfaatkan. Kado jam tangan sepertinya akan menjadi hadiah terindah untuk seseorang yang penyabar seperti suamiku. Sering aku melihat produk-produk jam tangan di elevania.co.id. Ada salah satu jam tangan berwarna hitam, agak besar, dan sangat elegan. Aku tahu, jam tangan hitam ini akan menjadi kesukaannya. Seseorang yang seperti dia sangat layak mendapat kado indah dari pemujanya, aku. 

Dirinya tanpa jam tangan seperti setengah jiwa. Kurang lengkap. Dia selalu bilang bahwa jam tangan sangat berarti bagi dirinya. Ketika ia melihat jadwal bis, dia harus mengecek jam tangan. Ketika akan ibadah, dia perlu jam tangan. Dan, untuk memastikan dia tidak telat kerja, matanya pun tidak berhenti melihat jam tangan. Suara jam tangan mengingatkannya bahwa waktu terus bergerak ke depan, tidak akan kembali. Saat itulah, katanya, kita harus memikirkan dua kali perbuatan yang akan dilakukan. Jam tangan akan membantunya supaya tidak menyesal tentang waktu yang telah terlewati.

Untukmu suamiku, semoga kasih kita tak lekang oleh waktu. Dan kau bisa mencapai keinginanmu tentang mengingat waktu, yaitu melalui jam tangan.

http://www.elevenia.co.id/ctg-perhiasan-jam

_Tulisan ini diikutsertakan dalam “Lomba Blog Cerita Hepi Elevania”_

 

Dalam hening..

hening

Tolong bedakan antara mencintai atau mencintai diri sendiri.

Aku tahu kau takut akan kehilangan.

Tapi apa artinya hanya menuntut untuk dipuja dan dicinta?

Kau sia-sia belaka, sebab hidup ada karena cinta.

Dirimu hanyalah alpa, jika cinta kosong dalam nurani.

Rasakanlah indahnya mencintai, tanpa menuntut.

Cinta itu indah jika kau berikan ia dengan ikhlas.

Bukankah kesempurnaan hidup adalah ketenangan?

Rasakanlah dalam heningmu.

Lakukanlah… Jika tidak, cobalah!

 

Canberra, 4 Maret 2017

Wina Sumiati

 

SUASANA BARU DI CANBERRA

Selamat datang lagi Canberra. Ini semester ke-duaku di negeri pembatas selatan Indonesia. Kali ini aku tidak sendiri, ada yang menemani. Dia yang ku sebut sebagai suami menjadi penambah rasa Canberra. Dulu, Canberra terasa sepi dan membosankan, sekarang semuanya terasa indah dan berwarna.

17035834_1625256340825107_686624936_o

Aku senang berada di sini sekarang. Tugas dan bacaan kuliah memang tak berubah, selalu dan terus saja bertambah. Tapi setidaknya sekarang aku memiliki teman yang bisa diajak diskusi dalam hal apa pun. Hehe. Luar biasa!

Masih ingat dulu ketika tugas di ujung tanduk deadline dan lembar-lembar bacaan menanti, pikiran sungguh sangat mumet. Di tambah dengan nilai yang pas-pasan  dan sakit perut yang tak pernah ada hentinya. Ya Allah, sungguh nestapa rasanya hidup di negeri orang. Ingin berkomunikasi tak mudah, ingin curhat kepada teman tak enak karena kita paham bahwa mahasiswa di sini sangat sibuk dengan urusannya masing-masing.

Hakikatnya cinta suci itu motivasi dan obat. Karena, penyebab penyakit adalah beban pikiran yang tidak memiliki wadahnya. Ketika memiliki suami, hehe, beban hidup kita ditanggung bersama untuk mencari solusi tentang apa yang harus dilakukan. Indah bukan? Hehe.

How are you doing Canberra? I’m doing well! 🙂

Canberra, 2 Maret 2017

Wina Sumiati

THE OPEN DOOR

The Open Door merupakan sebuah film yang dirilis pada tahun 2008 yang ditulis sekaligus didirekturi oleh Doc Duhame. Meskipun IMDb hanya menganugrahi 4.3 dari 10 bintang, tapi menurutku film ini sangatlah keren dibanding film horror lain yang pernah aku tonton. Bisa dikatakan, film ini lebih dari sekedar film horror Barat lainnya yang melulu menceritakan hantu di rumah kosong atau di gudang bawah tanah.

Angelica yang diperankan oleh Catherine Munden menjadi tokoh utama dalam film ini. Dia digambarkan sebagai seorang gadis SMA yang selalu diatur dan ‘dikekang’ oleh orang tuanya. Selama ini, Angelica merasa bahwa dia telah melakukan apapun atas perintah orang tuanya, tapi melarang untuk menghadiri acara terakhir sekolah Prom Night menurutnya sangatlah keterlaluan. Masalah ini lah yang menjadi puncak frustasi Angelica.

Kefrustasian seseorang akan menjadi target dari tumbal pada setiap hari ke-29 setiap bulan purnama. Tidak jelas apa yang melatarbelakangi setiap malam ke-29 ini. Yang pasti, pencarian korban dilakukan melalui siaran radio 99.9 fm oleh penyiar radio misterius. Dia mempengaruhi para pendengar radionya dengan suara yang lembut, mengajak, dan menjajanjikan mimpi untuk menjadi nyata. Dengan ajakan dari radio ini yang bersamaan dengan Angelica yang sedang frustasi, pengaruh buruk radio Orraco mencuci otak Angelica. Dia menelepon radio dan menyatakan rasa frustasi sekaligus keinginan yang ingin dicapai sebagai balasan dari rasa frustasi tersebut. Inti dari impian Angelica, dia ingin orang tuanya berhenti mengatur hidupnya dan Brad, pria pujaannya, akan menjadi miliknya. Dibuatlah perjanjian antara penyiar radio dan Angelica supaya mimpi menjadi nyata.

Mimpi itu benar-benar terjadi, tapi dengan cara yang sangat tragis. Di malam Prom Night, teman-teman Angelica mengunjungi rumahnya dan saat itu lah permainan dimulai. Rumah Angelica menjadi sangat aneh. Suasana yang suka cita berubah menjadi sangat mencekam. Kedua temannya, Timmy dan Owen berseteru tentang masalah yang tak penting. Sampai akhirnya, satu per satu teman Angelica menjadi kesurupan dan terjadi lah drama saling membunuh. Hanya Angelica dan Brad, pacarnya, yang tidak berada di bawah pengaruh mahluk jahat. Namun, karena itulah semua temannya yang termasuki roh halus menyerang Angelica dan Brad.

the-open-door-bump-in-the-night

gambar dari: ttp://horrorfreaknews.com

Meskipun aku menggambarkan cerita dalam film ini dengan sangat biasa, film The Open Door sangatlah layak ditonton. Ceritanya sangatlah menegangkan dan sangat cocok bagi penggemar film horror. Tidak hanya menghibur, ada pelajaran yang bisa dipetik dari film ini. Membangkang perintah orang tua hanya untuk kesenangan sementara akan berakhir pada penderitaan. Mungkin perintah orang tua terasa sangat membebani, tapi hidup tanpa mereka akan menjadi sangat berat.

Seperti itulah review film The Open Door, selamat menonton! J

 

WHAT DO YOU LIKE?

I am a respective historian and, now, I am doing Master of History at the Australian National University. It is a proud, but it will be useless if I am doing nothing. Well, just considering what I want to be in the future as most people hope from me. I have to decide soon, if not, I am no more than dust in the wind.

To began a decision, I have to tell you all that I want to be a lecturer as well as a historian. Both careers can be running in the same time because I will teach history. However, being a lecture is not the same as a historian. The latter shows a more productive professional in which he/she should keep writing and doing research. And I should do that.

Now, the problem comes up in my mind is ‘what kind of specialisation I will do?’. That is not easy question, while I have many interests in various discussion of history. Well, to be honest, I do like cultural history in which I can explore historical events on musics, ancient tradition, popular culture at a particular period, and film. Those subjects I really keen on. Furthermore, just crossing in my mind recently that I want to focus on criminal history in Indonesia. Such a subject has not been discussed yet by many historians, so I still have a big opportunity to focus on it.

Well, that is all. Thank you. And, wish me luck!

Canberra, 11-11-2016

Wina Sumiati