UNTUK TIDAK MENYERAH

Pernahkah kau mengalaminya? Ketika usaha sudah kau lebihkan, namun hasil jauh dari harapan? Aku mengalaminya. Hari ini. Di universitas internasional ini hatiku tercabik-cabik. Tiga kali konsultasi dengan dosen, tiga minggu hanya fokus pada penelitian itu, dan keyakinan yang mengirinya. “Wah, aku yakin nih lumayan pasti nilainya,” Begitulah kira-kira aku berangan. Tapi hasil di luar harapan.

Apa yang salah? Salahkah bila terlalu yakin? Tidak mudah kawan. Tidak mudah. Aku telah menghabiskan waktuku untuk menulis penelitian “Did sexology liberate or imprison Australians?”. Dengan percaya dirinya aku menulis berdasarkan bukti yang banyak. Dengan sepenuh hati. Plus hati, tidak tanggung-tanggung. Tapi mau dikata apa ketika tulisan takdir harus berkata B. Pasrah saja.

Tidak. Hatiku terus berontak. Bagaimana ini? apa yang harus aku lakukan untuk menenangkan hati? Bodoh! Pertanyaan tak pantas dijawab, sedang engkau mengetahui jawabannya. Kembali. Kembali kepada yang Menulis Takdir. Dia lah tempat engkau meminta. Berkeluh kesahlah pada Dia. Jika orang lain akan bosan mendengarkan ceramahmu, maka tidak dengan dia. Yakinlah, mintalah jalan.

Hapus air mata itu. Kau lebih berharga untuk kembali berjuang, bukan mengeluh.

Canberra, 26 Oktober 2016

 

Wina Sumiati

RESOLUSI MINGGU KE-4 OKTOBER 2016

Bismillahirrahmanirrahiim..
Baru saja aku membaca status FB di suatu grup Islami, dan aku langsung terenyuh ketika membaca manfaat sholat awal waktu. Aku berfikir, mungin saja masalah jiwa, hati, dan pikiran yang tidak sehat datang karena sering menunda-nunda sholat. Wallahu’alam.
Yang jelas, menunaikan sholat awal waktu sangat banyak cobaannya, tapi ada banyak hikmah yang akan kita dapatkan jika kita istiqamah. Insha’allah.

Aku ingin memperbaiki diri menjadi lebih baik. Aku ingin mendapatkan hikmah yang luar biasa dengan sholat awal waktu. Ini memang tak mudah, tapi Insha’allah aku akan mencobanya. Sekarang.

Ini lah resolusiku minggu ini:

  1. SOLAT AWAL WAKTU
  2. TAAT KOMITMEN WAKTU

Minggu depan, aku akan menuliskan pencapaian dari resolusiku di minggu akhir bulan Oktober ini. Good luck!

Canberra, 13 Oktober 2016

Wina Sumiati

TAKDIR

Pernahkah engkau coba menerka…
Apa yang tersembunyi di sudut hati?
Derita di mata, derita dalam jiwa..
Kenapa tak engkau pedulikan? #Ebiet. G. Ade#

Cinta, entah dari mana ia datangnya. Ia menghampiri ketika aku melapisi dunia dengan dinding-dinding baja. Ku pikir ini sudah kokoh. Aku tak sadar ada celah yang tak tertutupi. Ia bagai benih jagung, satu dua hari tersirami, hari kelimanya tumbuh kecambah. Ini lah yang kesebut cinta.

Dia yang mengawali. Oh tidak, waktu yang mempertemukan. Kami adalah dua orang murid baru di sekolah itu: SMA Harapan Hati. Aku tak tahu pasti kenapa sekolah itu dinamai demikian. Seakan semuanya berkehendak. Ada harapan yang memanduku untuk pindah ke sekolah ini. Beberapa minggu lalu ibuku menawarkan daftar sekolah ngetop di kota Bandung. Nilaiku tak pernah kurang dari 80, besar kemungkinan aku bisa bersekolah di sana. Tapi aku tak tertarik.

Hanya karena SMA Harapan Hati dekat dengan Situ Cileunyi aku tertarik. Ada kenangan dan kisah di sana. Saat ayahku masih ada, kami menghabiskan liburan hari raya di sana. Aku yang masih berumur 8 tahun tak pernah percaya ada perahu kecil yang bisa mengelilingi danau. Ayahku memanggilnya sampan. Bagai suatu keajaiban, perahu kecil yang terdiri dari papan-papan tipis bisa menyeimbangkan posisinya di atas air danau. Ayah dan Ibu sering menertawakan aku ketika nyengir-nyengir melihat danau biru. Ayahku bilang dia tak pernah tahu seberapa dalam Situ Cileunyi. Biru warnanya membuat Ayah tak pernah ragu: danau itu sangat dalam. Anehnya, di saat musim kemarau, Situ Cileunyi berubah warna menjadi merah kekuningan. Saat itu lah tak ada orang yang berana ke sana. Begitu juga ayah.

Sekolah adalah rumah keduaku. Di sana aku kenal seorang lelaki muda, namanya Takdir. Takdir duduk tepat di sebelahku. Saat kelas pertama, Pa Santoso, guru Matematikaku menanyakan kenapa nama kita nyambung: Garis Takdir. Yah, namaku Garisa. Namun Ayah Ibu memanggilku Garis. Aku bilang ini: hanya kebetulan.

***

Dunia sempit. Kenapa si Takdir itu selalu pulang searah denganku? “Ah, lelucon apa ini”. Tapi aku yakin ini kebetulan.

Kebetulan yang sungguh terlihat direkayasa. Jadwal piket bareng. Sama-sama naik angkot nomer 8. Dan paling parah: rumahnya di sebelah rumah baruku.

“Nak, kata Pa Mahyun kamu temen sekelas Takdir ya?” Ah, ini pertanyaan yang sangat tidak penting. Tapi aku menangguk.

“Dia anaknya rajin. Sering nyuci baju keluarganya.” Entah kenapa, omongan ibu sangat membekas di memoriku. Sejak hari itu aku sering memperhatikan Takdir.

Jadwal piket bersama dan duduk bersebelahan membuatku ada sesuatu yang aneh. Ada bayang-bayang indah yang menyelinap ke dalam dada. Garis takdir membuatnya seirama. Dia mengirimi aku surat kecil di bawah meja.

Aku sudah melihatmu dari pertama. Kau memakai kerudung segi empat dengan bros pita biru muda. Kau sungguh berbeda. Teman-temanmu berjilbabkan rambut, kau tidak.

Salam kenal: Takdir Kuasa Ilahi.

Duhai, bagai kemarau tersiram air hujan. Rumput mulai tumbuh, dan bunga bermekaran. Aku tak pernah merasakan cinta seperti ini. Piket menjadi sangat lama karena kita sering mengobrol ini itu. Senyumannya milikku, senyumku ada karenanya. Diariku berisi cerita indah semua. Begitu selama 1.5 tahun. Kami tak pernah bosan. Sampai dalam hati aku yakin: aku tergaris dengan takdirnya.

***

Bersambung…

KERTAS YANG TERKOYAK

 

Image result for bayang-bayang

Coretan sudah tak bisa terhapus

Abadi bagai gelap malam

Namun siang tak pasti akan datang

Benda yang kau anggap penghapus itu tak berdaya

Aku abadi dalam coretan

 

Tolong jangan kau anggap aku malang

Angin masih setia memberiku nafas kehidupan

Dengannya aku terbang,

melayang ke mana saja; Aku tak peduli

Aku tinggal coretan.

 

Dengan air aku terkoyak,

dengan sentuhan_Nya aku berjalan,

Kian lama kian jauh,

Bayangku lenyap, hanya bayangan.

MIMPI BELUM BERAKHIR: RENCANA CADANGAN KULIAH S3

Image result for kuliah

gambar dari: kuisbisman41.blogspot.com

Kawan, kuliah magister di the Australian National University baru saja dimulai. Tapi entah kenapa aku sudah memikirkan tentang pendidikan lanjutan S3 atau doctoral. Beban paling besar yang bersarang dalam pikiran adalah syarat beasiswa untuk S3. Beasiswa Pendidikan Indonesia LPDP yang aku dapatkan sekarang mengharuskan awardeenya untuk memiliki karya tulis (thesis) jika ingin mendapatkan beasiswa S3. Masalahnya, tidak semua mahasiswa di the Australian National University bisa menyusun thesis, kecuali bagi mereka yang mendapatkan Distinction (rata-rata A) dan High Distinction (Rata-rata A+). Dan untuk bisa mendapatkan nilai itu di Universitas kelas internasional tidaklah mudah. Ini lah dilemma terbesarku.

Jadi, baiklah, aku memiliki rencana cadangan untuk bisa mengejar cita-cita melanjutkan S3.

  • Plan A: Kerja keras untuk A !

Wah, jujur, aku mahasiswa internacional yang memiliki kemampuan Bahasa Inggris pas-pasan. Nilai awal untuk tugas terakhir di semester ini hanya Pass ( C ) dan Credit ( B ). Apakah aku bisa mendapatkan A? Tergantung. Tergantung jiga malas jarang singgah. Tergantung, jika rasa galau jarang mengganggu konsentrasi. Dan alasan yang terakhir itu adalah virus yang sangat mengganggu. Aku rasa pikiran galau adalah musuh terbesar yang harus segera dibasmi. Karena galau, dua tiga jam waktu bisa habis hanya dengan melamun. Ya Allah, harus bagaimana untuk mengatasi masalah ini? 😦

download

gambar dari: kaskus.co.id

  • Plan B: Mencari Beasiswa unggulan lain, tapi nilai akhir S2 minimal B.

Sebenarnya masih banyak kemungkinan untuk bisa mendapat nilai B. Ini masih bisa diusahakan. Asalkan kerja keras dan rajin belajar. Insha’allah bisa. Tapi mungkin perjuangan untuk mendapatkan beasiswa lagi harus dimulai dari awal. Mau tidak mau!

  • Plan C: nabung dari sekarang untuk S3 di dalam negeri.

Well, perlu pemikiran yang sangat matang untuk mengumpulkan biaya S3 Dalam Negeri. Biayanya tidak semahal kuliah di Luar Negeri, tapi kalau tidak nabung dari sekarang mana bisa!

Beasiswa LPDP                                6,000/a-quarter

Biaya adek kuliah                                700

Hidup ortu

Living Cost                                           2,640

Food                                                           500

lain-lain                                                    300

1,860

 

Biaya kuliah S3 Universitas Indonesia atau Universitas Gadjah Mada

Fee per semester                                     750

SISA                                                        1,150

Ya Allah, semoga mimpiku untuk melanjutkan kuliah doktoral bisa terlaksana. Aamiin. Aku memohon kepada_Mu ya Rabb, semoga Plan A yang akan terwujud. Meskipun aku tahu, Engkau memiliki rencana yang terbaik.

Image result for semoga berhasil

gambar dari: mobavatar.com

‘HALAL FOOD’? Mudah di Canberra !

Hai kawan, kali ini aku akan berbagi cerita tentang mencari makanan halal di Canberra. Ini sangat penting lhoh, apalagi sebagai seorang Muslim makanan adalah hal yang harus diperhatikan. Sengaja salah makan sangat bahaya. Bisa-bisa ibadah kita tidak diterima selama 40 hari. Wah, harus hati-hati ya!

Bisa dibilang, mencari makanan halal di Canberra itu gampang-gampang susah. Jadi lebih banyak gampangnya daripada susahnya. Hehe. Well, saat ini perkembangan MUslim di Canberra sudah bisa diperhitungkan. Meningkatnya jumlah Muslim baik pekerja dan mahasiswa mendorong beberapa pengusaha untuk membuka restoran halal. Memang perlu sedikit usaha untuk bisa mendapatkan halal food ini karena tidak semua restoran bisa menyediakan menunya.

Di the Australian National University, kampus dimana aku belajar, ada dua toko yang menyediakan makanan halal. Pertama, Asian Bistro yang berada di lantai 1 Union Court. Jika masih ragu, kamu sangat dianjurkan untuk bertanya. Tenang kawan, orang-orang di sini bisa dipertanggungjawabkan kejujurannya. Memang tidak semua makanan di toko ini halal. Tapi, ada banyak menú sayur dan ayam yang dibeli dari toko daging halal. Ingat, jangan ragu untuk bertanya ya!

Hasil gambar untuk asian bistro in ANU

gambar dari: tripadvisor.com

Tempat halal food kedua di kampus yaitu Panjeka’s Cafe. Café ini menyediakan dua menú halal, yaitu chicken crispy with chips and salad dan Burger with chips. Beda dengan Asia Bistro yang menyediakan harga di bawah $10, kafe ini menawarkan harga yang sedikit mahal, yaitu $11.50 untuk menu pilihan yang sama. Aku sendiri termasuk orang yang jarang makan di sini karena harganya kurang bersahabat. Tapi kalau sedang malas untuk pergi jauh atau bosan dengan menu Asian Bistro, baru Panjeka’s menjadi pilihan.

Tidak jauh dari ANU, beberapa tempat di luar komplek kampus juga bisa menjadi alternative membeli makanan halal, seperti Roti House dan Indian Cuisine. Harga menunya variatif. Ada yang di bawah $10 ada juga yang harga sangat mahal. Tapi tenang kawan, harga bisa membayar. Porsi makanan bule itu luar biasa besar. Untuk ukuran orang Asia, khususnya Indonesia, porsi bule bisa dimakan berdua. Serius!

Hasil gambar untuk roti house canberra

gambar dari: ourownact.livejournal.com

Hasil gambar untuk chicken gourmet in city walk

gambar dari: tripadvisor.com

Pilihan tempat lainnya yaitu di City Centre. Di sana, kau bisa makan di Chicken Gourmet, Indo Cafe di Canberra Centre, dan beberapa tempat lainnya yang bisa diakses di Mbah Google. Tidak terlalu sulit sebenarnya untuk menemukan restoran halal, asal ada kemauan. Karena, tidak setiap daging yang bukan babi itu halal. Daging ayam dan sapi yang tidak memakai bismillah saat memotongnya pun akan menjadi haram. Juga, tidak semua makanan olahan yang tidak ada keterengan bacon (rasa babi) juga halal. Jangan-jangan tempat yang digunakan untuk mengolah setempat dengan daging babi atau salah satu bumbunya berasal dari lemak babi.

Nah, jika kau mau membeli snack dan minuman, ada tips jitu untuk mengecek halal apa nggaknya. Sangat jarang sekali makanan olahan di sini menggunakan sertifikat halal. Jadi, kau bisa mencek nya di internet tentang kode halal. Bandingkan dengan komposisi yang ada di belakang bungkus makanan. Tenang, komposisi makanan di Australia sering menggunakan kode, seperti 320, 330, dan sebagainya. Memang agak ribet sih jika harus mengecek dulu kode sebelum menentukan pilihan. Tapi, ini lebih aman dari pada salah makan. Benarkan ?

Well, demikian sedikit info tentang makanan halal di Canberra. Selamat berlibur dan belajar di sini ! 🙂

Canberra, 14 September 2016

 

Wina Sumiati

NOOR MEMESAN: IDUL ADHA DI CANBERRA

“Sapalah kawan, sesibuk apa pun kamu..”

Kira-kira apa yang berbeda antara hari raya Idul Adha di Indonesia dan Canberra? Suasana adalah jawaban yang utama. Di sini, aku tidak lagi mendengar suara takbir yang bergema sepanjang malam 10 Djulhijjah. Tidak pula suara sapi, kerbau, kambing, dan domba saling menyahut di pagi harinya. Jelas, karena Australia bukanlah negara mayoritas Muslim. Dikabarkan, jumlah Muslim di Canberra sendiri berada di urutan ke-5 (?) setelah Kristen, Katolik, Non-Agama, dan Budha.

Mengenai kurban, beberapa orang Muslim Indonesia banyak yang menyalurkan rejekinya untuk berdonasi. Tapi hewan kurban yang diberikan tidak untuk dipotong di sini. Di bawah manajemen Kedutaan Besar Republik Indonesia di Canberra, hewan kurban akan di salurkan ke beberapa wilayah di Indonesia, seperti Aceh, Jambi, dan beberapa wilayah lainnya. Jadi jangan harap kalau kau di negeri non-Muslim kau akan kebagian beberapa kantong daging kambing dan sapi. Tak akan ada cerita bersate ria di pekarangan rumah setelah Idul Adha. Tapi tak apa kawan. Di sini, harga daging sapi sangat murah! Tak kebagian hewan kurban pun tak apa-apa, meskipun kesannya pasti berbeda.

Meskipun begitu, ada suasana yang masih sama. Hampir setiap Muslim Australia sibuk di pagi harinya untuk menunaikan Sholat Sunnah Idul Adha di KBRI Canberra yang letaknya sekitar 10 menit dari City Centre. Awalnya, aku sendiri tidak berencana untuk pergi kesana karena kadang-kadang ada momen tertentu di mana wanita harus absen dari kewajiban ibadahnya. Tapi sungguh sangat disayangkan jika Idul Adha di tanah rantau tidak dinikmati sekarang. Karena, kita tidak pernah tahu kalau besok lusa, atau tahun depan kita sedang seperti apa dan dimana.

Kau tahu kawan? usai sholat Idul Adha dan ceramah, pekarangan KBRI mulai dikerumuni banyak orang. Orang-orang dari segala usia berhamburan dari Balai Kartini (tempat dilangsungkannya sholat) menuju ke luar. Aku pun tak mau melewatkan momen berharga ini. Aku membuntuti orang-orang untuk menyantap bakso sedap khas Indonesia. Wah, ini serasa Indonesia banget! Meskipun tidak ada ketupat dan opor ayam sepeti di kampung halaman, setidaknya bakso bisa mengobati kerinduanku kepada Tanah Air.

Hampir tiga jam aku dan kawan-kawan mengobrol segala hal. Dari mulai kesibukan di liburan ini, tugas kampus, sampai ada acara menjodoh-jodohkan. Ini adalah suasana yang sangat luar biasa. Ini pula pertama kalinya aku singgah di Kantor KBRI. Aku berpikir, kesibukan boleh ada, tapi waktu untuk bersilaturahhim harus disempatkan.

 

SELAMAT HARI RAYA IDUL ADHA 1437 H 🙂

Canberra, 12 September 2016

 

Wina Sumiati