CISOMPET DALAM BERITA

kantor desa cisompet

Karena dengan tulisan, kamu akan hidup

Karena dengan tulisan, kamu akan dikenal

 Karena dengan tulisan, kamu akan dikenang

 Tak hanya sekarang, kawan

Juga, nanti!

 

Ceritanya, sore ini saya iseng membuka blog. Maklum, tugas kuliah yang menumpuk ditambah beban kesepian membuat segalanya tak sedap. Jadi pilihan yang paling tepat untuk membuang jenuh: adalah dengan menulis isi otak, plus hati. He. Sekali buka blog, tiba-tiba ada komentar pengunjung yang membuat pikiran saya segar kembali. Taukah isi komentarnya apa?

 “Trims atas info tulisannya tentang Cisompet Teh, saya lagi cari info tentang Cisimpet, kebetulan lagi dapat tugas dari dinas sosial untuk mengubek ngubek sekecamatan Cisompet.

Salam kenal juga sebagai blogger…”

Sederhana bukan? Tapi menurutku ini luar biasa. Senang tiada terkira karena tulisan tentang Cisompet bisa bermanfaat “bagi yang membutuhkan”. Karena ini lah gunanya menulis. Meskipun tulisan ini hanya hal kecil, tapi kita tak pernah tau bahwa suatu saat nanti, itu akan sangat berguna. Begitu pula dengan tulisan tentang Cisompet.

Cerita ini belum selesai, kawan. Karena penasaran, aku pun langsung searching informasi tentang Cisompet di sahabat google. Sambil bertanya dalam hati, “Apakah benar hanya tulisanku saja yang nongkrong di memori Mbah Google?” “Satu dua tahun lalu sih iya, nah sekarang?”. Sekarang sudah ada beberapa tulisan tentang Cisompet yang ditulis oleh urang Cisompet asli, bukan cuma saya. http://www.desakuringngawangun.blogspot.com telah menyuguhkan serial verita tentang Cisompet. Tampilan blognya yang lumayan keren menunjukan keahlian pemiliknya sebagai blogger yang tidak kudet (kurang up-date). Tidak hanya kulit luarnya, tulisannya juga enak dibaca. Memang blog ini dikhususkan untuk Desa Sukanagara, salah satu desa di Kecamatan Cisompet. Tapi, kehadirannya tetap memberi sumbangan untuk Cisompet.

Munculnya penulis-penulis Cisompet tentang cerita desanya menandai kemajuan yang harus dibanggakan. Bangga? Bangga dong! Bagaimana tidak? Itu berarti ada kesadaran intelektual tentang sejarah desa sendiri yang memang harus dilestarikan. Tanpa ada tulisan, mana mungkin orang di luar daerah tahu tentang Cisompet kecuali ada kenalan. Tanpa literatur, mana mungkin generasi masa depan kenal sejarah desanya. Kalau bukan kita yang peduli desa sendiri, terus siapa lagi?

Selain blog saya dan http://www.desakuringngawangun.blogspot.com, berikut ada beberapa situs yang sekilas membahas tentang Cisompet:

  1. http://www.kompasiana.com/fasmawi/desa-emas-ada-di-kecamatan-cisompet-kabupaten-garut-yaitu-desa-depok_551c1c24813311611e9de183
  2. http://www.pikiran-rakyat.com/jawa-barat/2016/02/22/361850/pvmbg-mengkaji-kondisi-tanah-cisompet
  3. http://www.radargarut.com/2016/06/14/pengungsi-cisompet-mulai-beraktifitas/
  4. http://www.tribratanewsjabar.com/2016/08/29/kapolsek-cisompet-garut-menembus-rimbunnya-hutan-belantara/

Udah dulu ya, sisanya cari sendiri! Semoga bermanfaat!

Canberra, 08 September 2016

 

Wina Sumiati

 

OKE GOOGLE, INI LAH DESA CISOMPET!

kantor desa cisompet

Kantor Desa Cisompet

Belakangan ini, orang-orang Cisompet diramaikan dengan kecanggihan voice searchingnya google. Bagai penemuan yang hebat, oke google menjadi bahan perbincangan masyarakat dari semua usia, baik itu anak SMP, SMA, sampai tante-tante modern. Di sekolah dan di toko, oke google sangat ramai jadi bahan candaan. Bahkan tak tanggung-tanggung, anak muda iseng mencari belahan hatinya di oke google. Seakan google adalah dewa yang bisa diminta segala.

Konyol memang. Tapi hal ini patut diapresiasi ketika masyarakat mulai melek teknologi. Lewat oke google, mereka terangsang untuk mengakses informasi dunia saat ini. Tidak hanya berita, tapi informasi tentang kerabat dan kenalan lama pun jadi sasaran pencarian.

Namun demikian, sekali lagi oke google  bukan dewa. Ia adalah ciptaan manusia yang memiliki kekurangan. Berdasarkan keluhan salah satu warga Cisompet, di oke google mereka tidak bisa melihat gedung Cisompet, padahal gedung desa-desa lainnya bisa mereka akses. Nah, maka dengan itu, pada kesempatan kali ini, saya akan mempersembahkan tulisan tentang Desa Cisompet lengkap dengan gambar kantornya. Biar pemirsa Cisompet tidak kecewa! ^_^

Kelanjutan…

Gedung Desa Cisompet dibangun untuk memudahkan perangkat desa dalam melayani masyarakat dalam berbagai hal. Berdasarkan pengalaman saya, di kantor desa ini kita bisa mengurus surat-surat, seperti Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM), surat penghasilan, rujukan membuat KTP, Kartu Keluarga, dan masih banyak lagi. Memang ini lah fungsi kantor desa seperti halnya di desa lain seluruh Indonesia.

Untuk membuat kelengakapan administratif, pelayanan di kantor Desa Cisompet dibuka dari hari Senin sampai Jum’at dari jam 08.00 WIB. Pelayanan ditutup jika tidak ada lagi warga yang memiliki kepentingan, namun tak lebih dari jam 15.00 WIB. Ketika sepi pengunjung, kantor ini bisa tutup jam 14.00 WIB.

Tidak perlu susah untuk mencari lokasi kantor Desa Cisompet. Semua masyarakat desa akan langsung mengetahui kantor ini karena memang lokasinya yang dekat dengan Kantor Kecamatan Cisompet dan tepat berada di pinggir jalan raya.

Menariknya, kantor desa Cisompet tidak hanya bisa digunakan untuk keperluan pemerintahan. Beberapa warga pernah memanfaatkan gedung ini sebagai tempat berlangsungnya acara pernikahan. Kenapa tidak? Selama masih diberi izin untuk menyelenggarakan acara pernikahan di kantor ini, sah-sah saja kan? 🙂

Nah, kawan, begitu lah sekilas tentang Kantor Desa Cisompet. Semoga tulisan ini bisa menjadi sumbangan dalam memudahkan masyarakat ketika menggunakan Oke Google!

HANJELI DI CISOMPET: Tanaman Liar yang Mulai Langka

Exif_JPEG_420

Hanjeli di Cisompet

Masa kecilku dipenuhi dengan hal yang tak pernah membosankan. Kemana pun bermain, baik itu sendiri atau pun bersama bapak, tak ada hal yang perlu dirisaukan. Sebab, alam waktu itu menyediakan segalanya untuk anak-anak penghujung abad ke-20 sepertiku. Hal ini pula yang menghubungkan ingatanku pada tanaman liar yang tak pernah aku lupa: hanjeli.

Tak banyak orang yang tahu tanaman yang satu ini. Daunnya agak kasar seperti bambu, bertubuh kerdil, dan berbuah keras agak bulat dengan ujung kepala agak meruncing ke atas. Biasanya tanaman ini tumbuh di dekat sawah atau di pinggiran sungai.

Ketika masih kecil, aku sering bermain dengan tanaman ini. Aku masih ingat, waktu itu aku sering menemani bapak untuk memotong rumput di sekitar jalan Cipongpok, Cisompet-Garut. Jajaran tanaman hanjeli yang tertanam liar di pinggiran sawah sering menarik penglihatanku. Puluhan biji-biji hanjeli pun bisa aku kumpulkan di kedua tangan. Waktu itu aku benar-benar tak terpikir siapa pemilik tanah yang tertanam hanjeli. Yang ada di pikiranku, hanjeli adalah salah satu sumber kebahagiaan yang disuguhkan alam untukku. Sungguh menyenangkan!

hanjeli-solusi-pangan

gambar dari: agrokomplekskita.com

Sesampainya di rumah, aku mencoba untuk melubangi hanjeli dan membuatnya seperti tasbih atau cipoah untuk menghitung. Dengan jarum dan benang seadanya, aku berhasil membuat keterampilan semacam itu. Bagiku, apa pun fungsinya, semua yang ku buat dari biji hanjeli bagaikan permainan.

Meskipun demikian, itu kisah yang terjadi sekitar 15 tahun lalu, waktu aku kira-kira berada di kelas 2 atau 3 Sekolah Dasar. Tepat tiga hari yang lalu di tahun 2016 ini, pemandangan masa lalu sudah hampir sirna. Hanjeli yang sangat banyak sekarang sudah jarang ditemukan. Sehingga, betapa bahagianya ketika kemarin aku masih bisa menemukan satu tanaman hanjeli di sekitar jalan Cipongpok.

Kini, aku mulai curiga bahwa hanjeli merupakan salah satu tanaman penting yang menyokong kehidupan petani di Cisompet. Ah, entahlah. Sejauh ini aku belum menanyakan mengenai fungsi tanaman menarik ini. Jika tanaman ini pernah mendapatkan kejayaannya di masa lalu, maka sungguh disayangkan apabila masyarakat Cisompet sudah mengabaikan manfaatnya.

Kelanjutan…

Well, setelah menelusuri melalui beberapa situs, ternyata hanjeli atau jail-jali merupakan tanaman yang sangat berguna untuk masyarakat. Namun sayangnya, karena pengolahan tanaman ini sangat sulit, maka masyarakat banyak yang tidak tertarik untuk membudidayakannya. Meskipun pada kenyataannya, hanjeli adalah tanaman yang mampu bertahan di segala musim.

Sebagaimana informasi yang aku dapatkan, fungsi hanjeli itu tidak hanya bisa dibuat manik-manik, tapi juga bisa menjadi pangan pengganti nasi. Kandungan nilai gizinya hampir setara dengan nasi, dengan nilai kalsium lebih tinggi.

Nah guys, ternyata banyak tanaman liar yang bermanfaat untuk kehidupan. Namun manusia lebih memilih bertahan pada satu hal, dan enggan berganti dengan alternative lainnya. Mungkin kalau pangan yang popular sekarang sudah mulai punah, baru manusia akan tersadar akan tanaman yang diabaikan.

Cisompet, 19 April 2016

Ditulis oleh,

 

Wina Sumiati

 

CURUG CIPONGPOK: KEINDAHAN YANG TERSEMBUNYI DI BUMI CISOMPET

Exif_JPEG_420

PEMANDANGAN DARI JALAN CIPONGPOK

Cisompet, sebuah kecamatan yang berada di selatan Kota Garut, ternyata memiliki keindahan alam yang tidak kalah menarik dengan daerah lainnya. Sebagai daerah perbukitan, Cisompet sering menawarkan objek wisatanya, salah satunya yaitu Curug Cipongpok.

Exif_JPEG_420

Sebagaimana namanya, curug (air terjun) ini terletak di Kampung Cipongpok, Desa Sindangsari. Untuk bisa mencapainya, wisatawan bisa memulai perjalanan dari SMP Negeri I Cisompet, yang terletak tidak jauh dari Kapolsek Cisompet. Tepat di pinggir SMP, ada jalan terjal dengan batu-batu besar yang harus ditempuh para wisatawan. Sehingga, fisik yang sehat diperlukan karena sekitar 30 menit lebih perjalanan akan dihabiskan untuk sampai ke curug ini.

Sebenarnya, selain Curug Cipongpok, ada juga banyak curug-curug lainnya. Curug ini merupakan bagian dari Sungai Cikaso yang mengalir dan membelah daerah di kaki pegunungan Cisompet. Sehingga ketika kita terus menelusuri sungai ini, dari hulu sampai ke hilir, akan banyak ditemukan curug-curug kecil lainnya. Seperti sungai-sungan di daerah lain, di sini juga kita bisa menikmati keindahan batu-batu besar yang tertancap di sungai. Tidak mengherankan apabila banyak orang yang ingin memotretnya langsung di atas batu itu.

Exif_JPEG_420

CURUG CIPONGPOK

 

Meskipun keindahannya masih bisa dinikmati, namun pencemaran lingkungan kini telah mengkotori kesucian karya ilahi ini. Tidak seperti waktu saya masih SD, dewasa ini, air curug telah berwarna kecoklatan. Tidak banyak lagi anak-anak desa yang bermain air sehabis bersekolah. Selain itu, sekarang sangat jarang ditemui ikan-ikan kecil yang terlihat ceria di dalam air yang jernih. Hah, tidak bisa kita menyalahkan siapa pun karena manusia memang sulit untuk kompak dalam menjaga kelestarian alam.

Cisompet, 18 April 2016

 

Wina Sumiati

GUNUNG NAGARA: OBJEK WISATA KEC. CISOMPET POENYA

Gunung Nagara dari kejauhan

Gunung Nagara dari kejauhan

Salah satu objek wisata yang tidak asing lagi bagi masyarakat Kecamatan Cisompet adalah Gunung Nagara. Gunung (bukit) ini terletak di Depok Peuntas, salah satu kampung di Desa Depok yang bisa ditempuh dari SDN III Depok di Pangligaran. Dari Kecamatan Cisompet sendiri, kita akan menghabiskan waktu sekitar setengah jam dengan kendaraan pribadi atau elp menuju SDN III Depok. Setelah itu, kita berjalan menuju Depok Peuntas dan dilanjutkan menuju Gunung Nagara.

Meskipun disebut gunung, Gunung Nagara ini adalah bukit yang hampir sama dengan bukit-bukit lainnya. Namun keunikan, dan kisahnya (folklore) menjadikan bukit ini terkenal dan diagungkan sebagai gunung suci tempat tinggal Prabu Kian Santang, putra Prabu Siliwangi yang menyebarkan Islam di wilayah Garut. Dikatakan folklore karena masyarakat sekitar sangat mempercayainya, tapi belum ada penelitian dan catatan sejarah yang menyatakan kebenarannya.20140731_111455

Dari gerbang awal menuju Depok Peuntas, kita akan menelusuri jalan setapak hingga menemukan jembatan penyebrangan. Tapi bukan jembatannya yang akan kita lalui. Dari jalan setapak sebelum jembatan tersebut kita harus menelusuri semak belukar menuju sungai besar. Waah, pokoknya perlu perjuangan untuk melintasinya. Hehe. Sesuai pengalaman saya tahun lalu, kerjamasama antar teman sangat diperlukan. Sebagai catatan: hati-hati, kadang di sungai besar ini ada orang yang sedang mandi. Hehe. Dari sinilah keseruan mendaki dan penjelajahan dimulai.

Dari sungai yang dilalui, kita akan menelusuri satu bukit, dan sawah. Setelah itulah kita akan melihat Gunung Nagara dan objek yang akan benar-benar kita lalui. Meskipun hanya sekedar bukit, tapi perjalanan menuju puncaknya tidaklah mudah. Maka dengan itu, tongkat yang bisa kita temukan di perjalanan sangat diperlukan untuk mempertahankan diri sendiri. Saking lelahnya, teman-teman dan saya pun sering menyengajakan diri untuk berhenti sejanak. Pendakian yang saya lalui bagai takan pernah berakhir. Butuh sekitar 1 ½ jam bagi pemula seperti saya untuk mencapai bukit terkenal di Cisompet itu.

Setelah perjuangan, kelalahan, dan keringat yang tak pernah berhenti keluar, akhirnya saya pun bisa sampai di puncak Gunung Nagara. Dari sanalah kepuasan yang kita rasakan akan membayar semua perjalanan dan kelalahan.

 

Ada lima tempat suci (yang disucikan) di gunung ini. Dari tempat pemberhentian awal, kita akan menemukan Makam I. Di pekuburan ini, ada 26 kuburan yang berada di sana. Karena sering digunakan sebagai tempat mencari peruntungan dan meminta keinginan, disini ada kuncen yang akan mengarahkan orang-orang berkepentingan tersebut. Tidak jauh dari makam I, ada makam II yang memiliki dua kuburan. Jika merasa lelah dan ingin membersihkan diri, ada sumur 7 yang berada tidak jauh dari area pekuburan tersebut. Untuk penjelajah seperti saya, tempat ini hanya digunakan sebagai tempat wudhu dan bersih-bersih. Tetapi untuk orang berkepentingan, air tesebut digunakan untuk bersuci dan ritual tertentu.

Tempat keempat yang menurut saya sedikit menyeramkan, hehe, yaitu pohon Kiara. Pohon yang sangat besar itu kemungkinan berusia ratusan tahun. Kadang-kadang, pohon yang dianggap keramat itu digunakan sebagai tempat pemujaan dan ritual. Kalau sedang beruntung, kita bisa menemukan kepala sapi dan sesajian yang ditanam di bawah pohon tersebut. Se.. se…. se…. raaaaammmmmmmmm.

Tempat terakhir yang jadi primadona dan paling dikeramatkan adalah Makam III. Di tempat tersebut ada dua buah kuburan yang salah satunya dipercaya sebagai Makam Prabu Kiansantang. Menurut cerita orang-orang sekitar, di bukit inilah tempat tinggal sesungguhnya Sang Prabu. Daerah Suci yang ada di kota Garut hanya dianggap sebagai tempat persinggahan putra Prabu Siliwangi ini. Keyakinan tersebut diperkuat dengan naskah dan tongkat Baginda Ali yang telah dicuri (dipinjam tapi tak dikembalikan) oleh mahasiswa tak bertanggung jawab. Wallahu a’lam, belum ada kebenaran yang mengungkapnya.

Untuk perjalanan pulang dari Gunung Nagara, kita bisa melewati jalur yang sama. Tidak seperti pendakian, penurunan dari bukit tersebut hanya memerlukan waktu sekitar ½ jam, tapi perjuangannya tak kalah hebat. Hehe.

Seperti itulah tempat pariwisata yang harus dicoba untuk dikunjungi. Selamat Mencoba!!!!!!

BEGINILAH PEKERJAAN URANG CISOMPET

Pada umumnya, masyarakat Cisompet merupakan masyarakat yang masih hidup dalam keadaan tradisional, tapi mulai tersentuh kehidupan modern. Gambaran tradisional dan modern tersebut akan terlihat dari mata pencaharian masyarakat di desa ini.

BERTERNAK

BERTERNAK

Sebagai masyarakat yang masih bergantung pada kebaikan alam, kebanyakan masyarakat di Cisompet bekerja sebagai petani dan peternak. Hal ini mungkin karena wilayah Cisompet menyajikan kekayaan alam yang sangat sayang apabila tidak dimanfaatkan secara baik. Berbagai tanaman bisa tumbuh disini, seperti padi, karet, teh, dan kelapa sawit. Padahal tanaman tersebut bisa tumbuh di keadaan yang sangat berbeda suhu. Jawaban dari semua ini yaitu karena wilayah Cisompet melingkupi daerah dingin di Neglasari dan Sindangsari, wilayah bersuhu sedang di Desa Cisompet, dan wilayah bersuhu panas di beberapa desa perbatasan sebelum Pameungpeuk. Keadaan ini sangatlah menguntungkan masyarakat untuk bisa bercocok tanam apapun.

Mata pencaharian tradisional yang ada sejak turun temurun adalah pertanian dan peternakan. Banyak masyarakat di Cisompet yang menyandarkan hidupnya pada tanaman padi, bonteng, pisang, dan berbagai tanaman lainnya. Selain itu, hampir setiap rumah di Cisompet memelihara ternak sebagai pekerjaan sampingannya. Sebagian besar ternak yang dipelihara adalah domba, kambing, sapi, bebek, dan ayam. Maka dengan itu, tidaklah heran jika di belakang rumah warga, kita bisa menemui berbagai kandang, seperti ayam, bebek, dan domba.

PERTANIAN

PERTANIAN

Meskipun sebagian besar masyarakat bertumpu pada mata pencaharian tradisional, tapi pekerjaan modern sudah mulai merambahi masyarakat. Setelah tahun 2010’an, sangat banyak para pemuda di Cisompet yang mengenyang pendidikan S1. Sehingga, professi sebagai guru, pegawai bank, dan professional lainnya adalah pilihan yang sedang tren akhir-akhir ini. Penyebab terbesar dari perubahan ini adalah banyaknya beasiswa yang ditawarkan dan lulusan S1 yang seakan menjanjikan masa depan yang lebih terarah.

Perubahan-perubahan di Desa Cisompet kemungkinan akan terus terjadi seiring dengan pesatnya perubahan dunia dalam berbagai hal. Kemajuan dari dunia luar tersebut tak bisa dipungkiri akan membawa dampak pula pada kehidupan masyarakat Cisompet, seperti dalam hal mata pencaharian.

CISOMPET, DIMANAKAH ITU?

20150707_060018

Pada Ramadhan kali ini, saya banyak menghabiskan waktu di kampung halaman daripada di luar kota. Hal ini mungkin karena saya tidak punya kesibukan lain, jadi saya berfikir untuk berdiam diri di Cisompet dan melakukan apa yang saya bisa. Nah, dalam kesempatan yang berharga ini, sayang sekali jika saya tidak membuat tulisan-tulisan tentang Cisompet. Mungkin memang terlihat kecil, tapi ini akan berharga di kemudian hari bagi orang yang ingin berkunjung ke desa ini.

Ah daripada banyak basa-basi, langsung aja yuk kita bahas tentang Cisompet!

Cisompet merupakan sebuah kecamatan di bagian Selatan Garut, Jawa Barat. Daerah ini terletak sebelum Kecamatan Pameungpeuk. Nah, daerah Pameungpeuk biasanya lebih terkenal daripada Cisompet karena keindahan pantai-pantainya. Jadi jangan kebingungan jika kita ingin berkunjung ke Cisompet, pokoknya letaknya searah dan sebelum Pameungpeuk. Jika dari terminal Guntur di Kota Garut, jarak menuju Cisompet sekitar 65 KM atau sekitar 3-3,5 jam perjalanan. Yups, data ini berdasarkan BPS (Badan Pusat Statistik) Garut dan pengalaman saya sendiri lhoh. Hehe

Perjalanan menuju Cisompet tidak terlalu mulus, namun tidak begitu buruk. Mungkin keadaan yang kurang menyenangkan bagi sebagian orang adalah jalanannya yang berbelok-belok seperti ular. He. Tapi tenang, di sepanjang perjalanan ke Cisompet, mata kita takan pernah bosan menatap indahnya pemandangan dari jajaran bukit, pohon-pohon pinus, teh, karet, dan sesekali kalau usai musim hujan kita bisa menikmati indahnya curug atau air terjun.

Jika perjalanan memang melelahkan, kita juga tak usah terlalu khawatir. Di sepanjang jalan, di tempat-tempat yang cenderung sepi ada beberapa warung kecil atau rumah makan. Jadi kalau kita lapar dan ingin beristirahat sejenak, warung-warung itu bisa jadi alternatif untuk melepas dahaga. Makanan dan minuman yang dijajakan disini memang tidak terlalu lengkap, hanya sekedar makanan ringan biasa, roti, mie, kopi, dan susu. Meskipun demikian, banyak warung di sepanjang perjalanan yang menjual jagung bakar. Wah, pokonya di keadaan yang super dingin karena di apit oleh bukit-bukit, menikmati jagung bakar dan secangkir kopi akan sangat terasa nikmat.

Awal perjalanan menuju ke Cisompet akan disambut oleh desa pertama di Cisompet, yaitu Neglasari. Pokoknya, setelah ada tanda Kecamatan Cihurip dan  hutan-hutan mulai jarang terlihat, disanalah Neglasari terletak. Nah desa ini menawarkan keindahan Curug Kastrol yang jadi primadonanya. Jadi kalau berkunjung ke desa ini, kurang lengkap rasanya jika kita tidak berkunjung ke Curug Kastrol.

Jika hanya ingin mengunjungi Desa Cisompet, maka kita akan menemukan tanda “Selamat Datang di Desa Cisompet”. Atau, jika masih kebingungan, berhentilah di SMP Negeri I Cisompet yang terletak usai jajaran pohon-pohon karet. Disana kita bisa menanyakan alamat yang akan kita tuju di Cisompet kepada penjual di warung yang ada disana. Insya’allah tak akan nyasar. Karena seperti di desa pada umumnya, orang-orang bisa mengenali alamat satu sama lain, meskipun bertempat tinggal di wilayah yang jauh.

Nah, untuk artikel berikutnya, saya akan mencoba untuk membahas kebudayaan dan kehidupan sosial di Kecamatan Cisompet. Sampai jumpa. ^_^