HATI-HATI MEDICAL CHECK UP

INGAT! Syarat-syarat medical check up untuk visa meliputi:

  1. Passport asli. Ini berarti bukan scan atau fotokopian. Jika tidak ada yang asli maka harus dilegalisir di Kedutaan Besar, misal: kedubes Australia, Inggris, dll.
  2. KTP asli
  3. HAP (dokumen ini akan diberikan setelah peserta mendaftar visa dan mendapatkan COE)
  4. Tidak sedang menstruasi bagi wanita karena akan sangat berpengaruh pada pemeriksaan X-ray dan hormon sedang tidak stabil.

Selain untuk memenuhi persyaratan kerja, medical check up juga diperlukan sebagai persyaratan visa. Karena ini khusus, maka tidak semua rumah sakit menyediakan pelayanan untuk medical check up. Sesuai pengalaman saya, ada beberapa rumah sakit dengan label ‘premier’ menyediakan layanan ini, seperti RS Premier Jatinegara, di Jakarta Timur dan RS Premier Bintaro di Tanggerang.

Namun sebelum itu, diusahakan supaya kita membaca setiap dokumen medcek dengan hati-hati. Saya bilang seperti ini karena saya tidak ingin keawaman seseorang menjadi kendala proses medcek.

Ceritanya, kemarin pada tanggal 27 Juni 2016 saya akan melakukan medcek di RS Premier Jatinegara untuk pembuatan visa Australia. Cerobohnya, saya tidak membaca dengan teliti hal-hal yang harus dipersiapkan untuk medcek. Saya benar-benar tidak tahu bahwa passport akan sangat dibutuhkan. Tanpa ini, medcek batal dan harus mengulang lagi pendaftaran medcek. Dan hal ini terjadi pada saya. Saya harus mencari jadwal lain untuk medcek. Hah, semoga hal ini tidak pernah terjadi pada siapa pun.

Demikian sharing saya. Semoga bermanfaat. Ingat, “Malu bertanya sesat di Jalan!” Jadi bagi yang pertama kali akan mengurus visa, medcek, passport, atau yang lainnya usahakan tanya-tanya pada orang yang berpengalaman.

Tanggerang, 28 Juni 2016

 

Wina Sumiati

(yang sedang menunggu medcek pada Kamis, 30 Juni 2016 di RS Premier Bintaro)

MENGARUNGI BENUA: Hanya Keberanian

Hanya orang yang mengalaminya yang bisa merasakan betapa berharga dan pedihnya perjuangan ini. Karena, orang lain hanya ingin tahu hasil akhir, bukan perjalananmu meraihnya.

Ini bukan sebuah ledekan, tapi fakta. Cita-cita ingin melanjutkan kuliah di negeri orang memang tidak semudah rangkaian katanya. Banyak hal yang harus dilewati. Namun dari itu semua, yang terpenting adalah: kegigihan dan kesabaran. Tanpa itu semua, cita-cita itu akan hanya sekedar mimpi yang mampir di lidah berliur, setelah itu kering. Hanya keinginan yang diucapkan sejenak. Tapi kawan, seberapa pun perihnya proses mencapai cita-cita, justru perjalanan itu lah inti dari kenikmatan sesungguhnya. Percaya atau tidak, kawan, di sini aku akan mengisahkannya padamu.
…..

australia

gambar dari: adelia.web.id

Ucapan adalah doa. Istilah sacral itu ada benarnya juga. Kira-kira 10 tahun yang lalu, aku pernah bergumam kepada teman sejawat untuk bersekolah tinggi. Dan Allah mengaminkannya 5 tahun kemudian, bahkan lebih dari yang diharapkan. Tidak hanya mendapatkan beasiswa full untuk S1, tapi juga S2. Sungguh tidak pernah terbayang dalam hidupku bahwa seorang anak lugu dari keluarga biasa yang sering mendapatkan angka merah di SD bisa seperti ini. Aku semakin yakin, bahwa semuanya berawal dari keberanian untuk bermimpi.
…..
Aku juga tahu, untuk bisa mendapatkan beasiswa S2 tidak secara tiba-tiba. Seperti yang aku katakan sebelumnya, kawan, semuanya membutuhkan perjalanan. Entah itu jalan berliku, berlubang, berkerikil, menanjak, lurus, mulus, semua itu akan dirasakan.
Awal perjalananku bisa terbilang mulus. “Awalnya”. Seorang dosen (ah, aku pernah mengisahkannya padamu, tapi tak apa lah) mengajaku untuk menerjemahkan buku-buku sejarah berbahasa Inggris. Dengan satu modal: keberanian, aku berhasil menerjemahkan artikel dari koran online Washington Post. Dan ajaib ! dengan modal kemampuan berbahasa yang pas-pasan, aku akhirnya dinyatakan boleh bergabung dengan kelompok penerjemah. Semuanya berkat: keberanian.
…..
Namun semua pilihan hidup selalu berpasangan dengan konsekuensinya. Aku pun tak luput untuk merasakannya. Dunia perkuliahanku, setelah itu, disesaki oleh tamu dari dunia luar: pengembangan berbahasa Inggris. Memang tak mudah. Aku pun tak bisa berpihak adil terhadap keduanya. Kadang waktuku untuk mengerjakan tugas kuliah terabaikan untuk memberikan perhatian lebih pada penerjemahan, kadang pula sebaliknya. Iya kawan, aku memang tak pandai berpoliandri, bahkan untuk urusan pekerjaan. Aku cenderung setia pada satu hal, ha.
Tapi berkat ketekunan yang sedikit demi sedikit itu lah, Allah merestuiku untuk terus berjalan menerobos cobaan dalam meraih cita-cita: kuliah di Luar Negeri. Apa bedanya dengan kuliah di Dalam Negeri? Sekali lagi kawan, hanya yang mengalaminya yang bisa membedakan sensasinya. Percayalah…

 

RESOLUSIKU

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIIM..
RESOLUSI UNTUK TAHUN 2016
Tahun baru 2016 tinggal dua jam lebih 15 menit lagi. Waw, tidak terasa waktu berjalan begitu cepat sehingga baru sadar bahwa banyak harapan-harapan yang belum terwujud. Baiklah, menyambut tahun baru 2016, rasanya sangat keterlaluan apabila tidak ada perubahan-perubahan yang lebih baik dalam diri ini. Tahun depan tidak boleh meleset. Target harus tercapai supaya kegagalan tidak terulang untuk kedua kalinya. Supaya sesuai sasaran, di sini aku akan membuat target-target untuk tahun depan. Banyak orang bilang itu namanya RESOLUSI.

THINKSTOCKPHOTOS
1. MENDAPAT IELTS BAND SCORE 7
Mungkin? Tak ada yang tak mungkin. Tapi, untuk membuatnya semakin nyata, maka usaha pun harus lebih ditingkatkan lagi. Beberapa bulan lalu, score test bahasa Inggrisku hanya mendapat score 6, kurang 0.5 lagi untuk bisa merasakan kuliah di luar negeri. Untuk tahun depan di bulan Februari, IELTS BAND SCORE 7 harus sudah digenggam.
Well, masih banyak memang kekurangan dalam bahasa Inggris, terutama listening. Padahal hampir setahun ini aku berkutat dengan yang namanya English, tapi kemampuan listening masih saja naik-turun. Yah, yah, yah, sabar adalah kunci utama. Thomas Alva Edison saja belum tentu bisa menemukan bola lampu kalau tidak sabar, iya kan? Jadi jawabannya.. Usaha, usaha, usaha ! jangan lupa berdoa. 
2. MENDAPATKAN LOA UNCONDITIONAL
Nah harapan ini juga tak kalah penting dan tak boleh telat. Aku harap akhir Februari 2016 aku sudah mendapatkan LOA (Letter of Acceptance) dari universitas-universitas luar negeri. Pertanyaannya… Ko universitas-universitas? He, kan kalau banyak diterima di berbagai universitas, kita bisa memilih universitas mana yang paling cocok, iya kan? 
3. MERAMPUNGKAN PROPOSAL PENELITIAN
Well, dari tahun lalu proposal penelitianku harus terombang-ambing tak karuan. Masih belum mendapatkan arah. Usaha? Sudah. Tapi mungkin belum maksimal karena ada beberapa tuntutan menanti untuk didahulukan, seperti bekerja, pelatihan bahasa, dan seabreg pekerjaan lainnya. Untuk tahun 2016, proposal penelitian pokoknya harus selesai dan diterima oleh professor universitas tujuan. 
4. KULIAH S2 DI BELANDA
Aku rasa resolusi nomer 1 dan 2 mengalir ke tujuan yang satu ini, kuliah di luar negeri. Ini adalah mimpiku sejak lama, sekitar tiga tahun lalu. Namun sangat banyak tahapan untuk mewujudkan mimpi ini, seperti memupuk kemampuan bahasa Inggris dari basic, membagi waktu antara tugas kuliah dan belajar bahasa, sabar karena belum bisa, dan masih banyak lagi. Hehe.
Ada cerita lucu, haru, dan sedih pada saat mengembangkan kemampuan bahasa Inggris dulu. Awalnya, satu demi satu kata aku terjemahkan sampai mata tak bisa focus melihat, pikiran sudah hampir spaneng, dan aku pun mulai bosan. Karena sangat susah memahami bahasa Inggris, aku pun memutuskan untuk merajuk. Aku marah pada diriku sendiri. Kenapa sih aku susah banget paham bahasa asing? Setelah itu, aku memutuskan untuk tidak menyentuh buku-buku bahasa Inggris hampir satu bulan.
Satu bulan pun berlalu. Perasaan rindu tiba-tiba datang mengganggu. Akhirnya, aku meyakinkan diriku bahwa aku akan berusaha mempelajari bahasa INggris apapun keadaannya. Yah, begitulah.
Sekarang, aku berusaha mati-matian untuk bisa mendapatkan beasiswa S2 ke luar negeri. Sudah hampir setahun lebih pula, jadwal harianku disibukan dengan menerjemahkan, membaca artikel di BBC, dan listening. Aku berharap, semoga usaha ini bisa membuahkan hasil. Aamiin.
5. MARRIED SOON
I just want to make all better. That is the main reason I want to marry soon. Well, I have to tell you that right now I have a boy friend who is four years older than that of my age. Although I want to continue to study abroad, I have a good intention to make a deep relationship with him. And I honestly want to go abroad with him.
6. MEMBELI TAB
Huhuyyy,,, akhir-akhir ini aku mendambakan barang yang satu ini. Aku hanya membayangkan bahwa jika aku memiliki tab, aku akan lebih mudah mengakses dan mendapatkan informasi dalam internet. Otomatis, pengetahuanku akan semakin bertambah. Semoga cepat terkabul, ya.. aamiin.
7. MENGUNJUNGI TEMAN-TEMAN LAMA
Hah kalau boleh jujur, sedih rasanya sudah beberapa lama tidak bertemu kawan-kawan lama. Karena terlalu banyak hal-hal mendadak yang menuntut untuk selesai dikerjakan, aku tinggalkan mereka sebentar. Mungkin mereka menganggap aku sombong atau tak ingat. Tapi sejujurnya sudah lama aku ingin menemui mereka untuk sekedar bercerita pengalaman dan mengetahui kondisi teman-teman. Well, ada banyak sekali teman yang ingin aku kunjungi, mulai dari teman SD (Ai Irna), SMA (Kania), hingga universitas (Wahyuni, Pa Tolib, Susi, Ms Iis, Teh Aris, Teh Harni, Dedeh). Ah, I miss them.
8. KONSISTEN MEMBACA AL-QUR’AN PLUS TERJEMAHNYA DUA KALI SEHARI

Sejauh ini, baru ada 8 resolusi yang sangat aku impikan. Nanti kalau ada tambahan lagi nyusul ya? He. Semoga saja dari 8 harapan tersebut tidak ada yang meleset satu pun. Aamiin. 😉

KEMBALI KE PERADABAN

Sudah tiga bulan lamanya saya tidak meninggalkan jejak di kampung halaman blog Putri’na Cisompet ini. Terhitung dari bulan September lalu hingga awal Desember ini, saya berpetualang ke sana ke mari tanpa menulis catatan pengalaman sedikitpun. Ada banyak alasan mengapa saya bisa degan tega melakukan hal tersebut.

Pertama kali naik 'Kereta', hihi

Pertama kali naik ‘Kereta’, hihi

Dimulai dari pasca-Wisuda tanggal 14 September 2014, kehidupan saya diwarnai dengan berbagai kesibukan yang saya sibuk-sibukan sendiri. Seminggu setelah wisuda, saya berjuang mati-matian untuk menyelesaikan semua hal yang berkaitan dengan kampus, seperti penjilidan skripsi, pengumpulan, tanda-tangan kesana-kemai, hingga hasil pemotretan wisuda. Waktu satu minggu itu adalah tuntutan bagi saya karena saya memiliki janji dengan teman untuk belibur ke Kampung Pare, Kediri, Jawa Timur.

Waktu dua bulan yang dihabiskan di Pare pun bukan sekedar  liburan biasa. Saya harus benar-benar mendapatkan hati my beloved English (Bahasa Inggris tercinta). Meskipun hanya dua program per hari, saya benar-benar kurang bisa membagi waktu dengan yang lain. Sehingga, hampir seluruh waktu di bulan itu saya habiskan bersamanya.

 Sebenarnya, saat ini pun saya masih bekutat dengan kegiatan penguasaan bahasa Inggris, tapi saya memantapkan lagi tekad untuk terus berkiprah di Peradaban Tulis-menuls meskipun saya begitu (so) sibuk. Hehe..

Welcome back.. to OUR CIVILIZATION…

PERNIKAHAN PENUH PENGORBANAN

jalan menuju rumah pengantin wanita

jalan menuju rumah pengantin wanita

Peribahasa “Gunung kan ku daki, lautan luas kan ku seberangi” dalam cinta memang bukan basa-basi. Hal ini saya saksikan sendiri dalam acara pernikahan kakak sepupu di Tasikmalaya. Bagaimana tidak, perjalanan menuju rumah sang mempelai wanita ternyata bukan main sulitnya. Trek yang harus kami tempuh dari rumah mempelai pria menuju rumah mempelai wanita tidak semulus jalan manapun yang pernah saya temui. Di samping berluka-liku, jalanannya juga kecil (sebesar satu mobil sedan) dan curam. Wah, ini benar-benar adventure !!! hehe

iringan-iringan

iringan-iringan

Perjalanan penuh tantangan ini diawali dari Desa Cipalangka, Kec. Salawu, Tasikmalaya karena memang rumah si pengantin pria berada di desa ini. Tepat pukul 07.00 WIB, kami berkumpul terlebih dahulu di jalan kecil dekat rumah si pria. Kami berlomba-lomba menaiki mobil yang sudah dipersiapkan disana. Lucunya, orang tua yang punya hajat hampir tidak kebagian tempat duduk di mobil itu. Begitu pula si pengantin pria, karena tidak ada lowongan tempat duduk di mobil, dia pun mengendarai motor. Berbeda dengan kami, kami sudah terlebih dahulu mendapatkan tempat duduk dengan nyaman.

barang-barang bawaan untuk pengantin

barang-barang bawaan untuk pengantin

Perjalanan dari rumah si pria menuju jalan raya pun tidak bisa dikatakan mudah. Rumah mereka sama-sama berada di atas gunung (dibaca: pasir), namun berbeda kecamatan. Dengan jalanan yang curam dan rusak tersebut, kami berusaha menjaga kue pengantin dan barang bawaan supaya tidak rusak.

Setelah tiba di desa si perempuan, ternyata perjalanan kami belum sepenuhnya usai. Masih ada 1,5 KM perjalanan yang harus kami tempuh melewati jalan setapak yang curam dan licin. Jalanan ini tentu tidak bisa ditempuh dengan mobil, maka dengan itu kami berbondong-bondong membawa penuh barang bawaan dengan tangan kosong. Beberapa di antara kami ada yang membawa kasur, lemari, domba, beras, kelapa, dan masih banyak lagi. Saking banyaknya barang untuk si perempuan, beberapa di antara kami pun harus membawa barang yang tersisa di mobil dua kali balikan.

AaAde

Perjuangan dalam pernikahan ini tidak berhenti sampai jalanan rusak tersebut berhasil ditempuh. Kami masih harus menyaksikan acara akad pernikahan tersebut berlangsung. Acara ini dipenuhi ketegangan dari kedua pihak keluarga. Ketegangan ini memuncak dalam acara ijab kabul karena si pria sudah dua kali mengucapkan ijab kabul secara tidak lancar. Karena, jika ijab kabul ke-3 tidak berhasil diucapkan dengan lancar, pernikahan pun dikhawatirkan bisa gagal. Beruntungnya, dalam ulangan ke-3, si pria pun dengan lantang dan lancar bisa mengucapkan ijab kabul secara benar. Dalam ijab kabul tersebut si pria menyerahkan mas kawin 5 gr + uang Rp. 40.000 + seperangkat alat sholat. Meskipun mahar terlihat begitu sederhana, namun hadiah-hadiah yang dibawa oleh si pria tidak bisa dikatakan kecil. Semua barang rumah tangga dan pangan dibawakan dengan jumlah yang cukup banyak. Mungkin inilah karakteristik adat pernikahan dalam budaya orang Cipalangka-Tasik Malaya.

pernikahan

pernikahan

Seperti kebanyakan acara pernikahan pada umumnya, acara ini pun diakhiri dengan acara parasmanan. Kami pun sudah tidak sabar menunggu antrian untuk bisa mencicipi hidangan yang disediakan disana. Beberapa di antara kami pun ada yang berlomba-lomba membawa buah-buahan sebanyak-banyaknya, lalu disimpan di kantong yang telah dipersiapkan. Saya hanya bisa tersenyum menyaksikan kekonyolan itu. Sampai acara benar-benar usai, untuk kedua kalinya, kami pun harus menempuh kembali perjalanan penuh tantangan tersebut dengan jalan kaki.

LIBURAN PEMILU DI KAMPUNG HALAMAN

Suasana Pedesaan

Suasana Pedesaan

Libur satu hari di hari Pemilu Legislatif 09 April 2014 adalah kesempatan yang sangat berharga bagi saya. Pada hari pesta demokrasi tersebut, saya bisa menengok kampung halaman untuk menghilangkan segala macam beban yang menumpuk di pundak. Sebenarnya, liburan pemilu hanya sebagai alasan saja bagi saya untuk bisa berlibur di tanah kelahiran tercinta. Saya sengaja mencuri-curi waktu di hari-hari penting dengan dalih “hari wajib”, hehe untuk bisa pulang ke kampung tercinta. Memang sebagai mahasiswa tingkat akhir saya bisa pulang kapan saja ke rumah. Akan tetapi, komitmen dalam suatu kelompok bahasa menahan hasrat saya untuk bebas dan seenaknya menggunakan waktu berlibur tersebut. Maka dengan itu, seperti layaknya mahasiswa di semester menengah, saya hanya bisa berlibur ketika ada libur nasional dan lebaran saja.
Kesempatan berlibur tersebut tidak hanya saya gunakan untuk ikut merayakan pesta demokrasi. Saya sengaja melonggarkan waktu liburan selama seminggu untuk refreshing. Refreshing di kampung halaman, menurut saya, adalah cara menghilangkan stress paling tepat dibanding cara lainnya. Pemandangan hijau nan indah, serta suasana pedesaan yang tenang menghanyutkan diri saya ke dalam ketenangan alami. Setelah beberapa lama terpenjara dalam hirup-pikuk kesibukan kota, di hari pemilu ini akhirnya saya bisa membuang rasa jenuh tersebut.

Desaku yang kucinta

Desaku yang kucinta

Suasana desa benar-benar membuat badan dan pikiran tenang. Di desa, udara sejuk bisa saya nikmati sesuka hati tanpa harus bingung mencari tempat dengan pemandangan hijau. Ketika mentari pagi memancarkan sinarnya ke permukaan bumi, ketika jendela rumah sederhana saya buka untuk menyambut pagi, di saat itulah udara pagi pedesaan yang murni bisa saya hirup sebebas-bebasnya. Di tambah lagi, suara binatang-binatang mengantrakan ingatan saya ke masa kanak-kanak yang tanpa beban.

Anak-anak desa bermain masak-masakan

Anak-anak desa bermain masak-masakan

Melihat desa bagi saya seakan melihat masa lalu. Segala hal yang saya saksikan kemarin di desa mengembalikan kenangan kanak-kanak dulu. Rerumputan hijau yang bergoyang tersapu angin mengingatkan pada saat saya mengembala domba. Juga, suasana anak-anak bermain di halaman telah mengingatkan saya pada saat bermain masak-masakan. Semua kenangan itu satu per satu kembali lagi terperangkap dalam memori.

PARABOLA DI CISOMPET-GARUT

parabola di Cisompet (sebelumnya hanya kalangan tertentu yang memiliki parabola)

parabola di Cisompet (sebelumnya hanya kalangan tertentu yang memiliki parabola)

Sudah hampir tiga tahun lebih aku meninggalkan kampung halaman di Cisompet untuk melanjutkan kuliah di Bandung. Hanya setiap liburan semester aku menyempatkan diri untuk liburan di desa tercinta, Kp. Joho Kec. Cisompet Kab. Garut. Setiap tahun ketika aku kembali ke kampung halaman ada saja hal yang berubah disana. Mungkin perubahan yang terjadi merupakan tanda dari semakin tumbuhnya desa untuk menerima hal-hal modern.

Pemandangan yang berbeda kini akan kita temui di hampir setiap rumah di desa ini. Apakah itu? PARABOLA. Sang pemancar berbagai program televise dari seluruh dunia itu, kini dapat kita temui di setiap halaman rumah. Jika tahun lalu para warga Desa Joho menggunakan TV kabel dari seorang pemilik parabola, maka mulai hari ini mereka bisa bebas memilih chanel yang mereka inginkan.

kini hampir setiap rumah memiliki parabola

kini hampir setiap rumah memiliki parabola

Sebenarnya, ada beberapa keuntungan yang bisa didapatkan dari parabola sendiri itu. Pertama, dalam segi keuangan, memiliki parabola sendiri jelas lebih irit dibandingkan dengan membayar TV kabel Rp. 15.000/bulan. Bayangkan saja, jika warga terus-menerus memasang Tv kabel selama beberapa tahun, berapa nilai kocek yang akan dihabiskan? Sedangkan harga parabola yang paten milik sendiri seharga Rp. 700.000.

Kedua, bebas memilih chanel sesuka-mu. Chanel yang bisa dipilih dari Tv kabel hanya 6 chanel saja, sedangkan dengan Parabola, kita bisa bebas memilih puluhan chanel dari berbagai jenis Negara. Woow, canggih bukan?

Nah, kecanggihan inilah yang kini melanda desa Cisompet. Rupanya, desa ini kini mulai memasuki babak transisi, mulai mengikuti arus globalisasi. Bagaimana tidak? Melalui program TV yang tak terbatas ini lah, mereka bisa memperoleh berbagai informasi dari segala penjuru. Segala hal terbaru bisa langsung didapatkan tanpa terbatas jarak dan waktu. Maka dengan itu, memalui jalur ini lah modernisasi dari segala aspek akan cepat merubah negeri nan indah ini.