Di antara Permata Berkilauan

Sebagaimana judul tulisan ini, saat ini aku sedang dikelilingi dengan permata yang indah. Mendapatkan beasiswa LPDP program Master of History di the Australian National University (ANU) telah menyeretku dalam kelompok orang-orang hebat. Sedang, aku merasa menjadi manusia yang paling rendah di antara mereka. Ah, aku hanya berusaha memberikan yang aku bisa untuk Indonesiaku.

Ketika akan mengikuti persiapan Program Kepemimpinan (PK) LPDP, aku disuruh membuat Linkedin, semacam sosmed yang baru-baru ini aku kenal. Secara otomatis aku mencari jaringan kepada anggota PK-67. Nah, di sanalah aku semakin sadar bahwa aku sedang dikelilingi oleh putra-putri bangsa yang luar biasa. Mereka memiliki pengalaman kerja dan keahlian yang hebat di bidangnya. Sungguh, di sini aku merasa dituntut untuk tidak main-main dalam menempuh studi S2 yang dibiayai negara itu.

Meskipun demikian, aku yakin bahwa mereka yang saat ini bagai permata itu mengawali hidup dan karirnya dari nol. Sama sepertiku. Hanya saja, mereka lebih awal merintis, atau mereka memang berasal dari universitas yang berkualitas di negeri ini. Apa pun itu, aku harus merasa bangga bisa mengenal mereka. Karena dengan ini, motivasi untuk menjadi sejarawan hebat di Indonesia akan semakin terdorong.

 

 

Cisompet, 03 May 2016

Salam,

 

Wina Sumiati

 

 

MASIH SEPERTI ANGIN

asadad

gambar dari: sitwithyourleg.blogspot.com

Kawan, mungkin sudah seharusnya wanita yang memikul usia 23  bisa lebih dewasa dan matang dalam menghadapi kehidupan. Tapi aku belum merasakan hal itu dalam hidupku. Aku masih sangat mudah untuk terombang-ambing arus yang ada di sekitarku. Ketika aku membaca karya seseorang, misalnya, aku akan dengan mudah termotivasi dan mempunyai pikiran yang lebih terang. Tapi beberapa saat kemudian ketika aku memikirkan hal yang buruk, aku bisa dengan mudahnya membatalkan kebaikan yang akan aku lakukan.

Tuhan, tolong bantu aku.

Aku bagai debu yang terbawa angin.

Kemana pun dia berarah, ke sana lah aku akan melaju.

Mungkin debu pun lebih berharga dari padaku.

Ia selalu bersyukur dengan keadaannya yang demikian.

AKu? Aku pengeluh yang ulung, tapi besok tidak lagi.

Harapan yang suci semoga direstui.

Parahnya kawan, aku itu cenderung pemalas. Aku sering membaca banyak karya-karya orang, tapi sangat sulit bagiku untuk membuat tulisan. Ada ide, tapi sia-sia belaka. Hah, mungkin aku harus lebih banyak membaca karya inspiratif kawan-kawanku. Agar aku bisa bangkit. Aku yakin semua hal buruk dalam diri ini bisa dirubah. Selama aku mau dan berusaha untuk melakukannya. Karena, Allah tak akan mengubah nasib seseorang, selama dia tidak berusaha dengan tangannya sendiri. Jadi, usaha dulu lah. Bismillah!

FOTO YANG BELUM SEMPAT DIUNGGAH, ENTAH..

Untuk kedua kalinya. Yah, aku telah membiarkan seorang ahli tata rias untuk memulas wajahku untuk kali kedua pada saat wisuda. Entah kenapa, saat itu bagai keharusan untuk menampilkan hal terbaik yang ada pada diri kita, termasuk penampilan.

IMG20140914053852

WISUDA KE-60 (2014)

Aku sebut ini yang kedua karena tak pernah seumur hidupku aku merias wajah sedemikian rupa, kecuali saat acara perpisahan di SDN Cisompet III. Itu adalah pertama kalinya aku merasa menjadi mahluk paling aneh di muka bumi. Aku merasa bukan diriku. Aku melihat diriku sebagai sosok yang lain, sosok berbeda dengan beraneka warna menghiasi wajah. Tak ingin rasanya aku melihat cermin. Haha.

Tapi mimpi buruk masa kecil itu tidak membuatku kapok. Perayaan wisuda ke-60 memaksaku untuk merubah warna wajahku lagi. Jika saat kecil riasan itu membuatku merasa berbeda, saat acara wisuda itu aku merasa menjadi aku yang terbaik karena aku melihat teman-temanku pun demikian.

DSC_0082

Sudah sekian lama aku membiarkan gambar diriku itu tersekap dalam folder di Netbook. Tak pernah ku buat catatan untuknya di blog ini. Tapi saat ini, entah kenapa rasanya aku harus membuat catatan untuk gambar specialku. 🙂

 

PERTEMUAN PERTAMA..

Barangkali takdir tengah bicara

Ia diperuntukkan buatmu

Dan pandangan matanya memang buatmu
Mengapa harus sembunyi dari kenyataan

Cinta kasih sejati kadang datang tak terduga
Bergegaslah bangun dari mimpi

Atau engkau akan kehilangan

Keindahan yang tengah engkau genggam

__Nyanyian Kasmaran, Ebiet G. Ade

images

Cerita ini dimulai ketika aku bekerja di SMAN 22 Garut, sebagai pengajar. Jalan hidup terasa lebih berwarna ketika lelaki itu datang. Tak bisa aku gambarkan bagaimana perasaan itu bermula. Namun pertama kali bertemu, ku tuliskan kisahku dengannya dalam sebuah tulisan yang belum sempat aku terbitkan di sini.

SUARA HATI UNTUKMU

THE FIRST MEETING

Seusai pertemuan pertama itu, gue memutuskan untuk bergegas pergi. Ntah apa yang dia pikirkan, yang jelas dia bilang “kok buru-buru?”

Tanpa basa-basi, gue pun bersikukuh untuk pulang. Gue gak tahu juga kenapa waktu itu gue tiba-tiba mengakhiri percakapan siang kami. Padahal tak ada yang membosankan. Jujur, gue menikmati obrolan siang di tengah terik matahari yang ditambah kisah-kisah hangat penuh gurau. Haha, padahal baru pertama kenal, tapi kami terasa begitu akrab. (tapi, masih terlihat segannya juga sih.. baik gue or dia).

Tanpa ingin mengakhiri, di perjalanan pulang pun percakapan masih terus berlangsung. Romance-nya, haha, dia menjalankan motor dengan kecepatan slow. Kalau gue boleh nebak, mungkin sekitar 30 km/h. Kali…

Singkatnya, sampailah di jalan menuju rumah. Gue kira dia akan berhenti di tempat biasa. Ternyata, eh ternyata, dia masih terus menancap gasnya untuk mengantarkan gue menuju rumah. Wah, gue bener-bener dag dig dug tuh. Bukan karena gue punya gebetan lain (jelas bukan, gue original single for three years!), tapi takut ada bisik-bisik tetangga. Jelasnya, gue belum siap membawa pria itu di depan mata nyokap. (Dalam hati: kalau mau ke rumah, bawa langsung keluarga! Ha) jadi, sebelum tambah mendekati rumah, gue tiba-tiba berkata “Udah, disini aja. Malu, hehe” dengan polosnya gue mengeluarkan kata itu. Dan gue bergegas meninggalkan dia yang mungkin masih kesulitan membelokan motornya di belakang. Walah, ada rasa menyesal terselip dalam pikiran ketika sampai di rumah. Kok gue gitu amat ya? Dia baik-baik aja kan?

Kalau gue boleh berkhayal, begini jadinya jika gue membiarkan dia mengantar ke rumah.

Usai tiba di depan rumah, mamahku menatap tanpa berkedip ingin mengetahui siapa gerangan yang membawa putrinya ke gubuk. Dengan refleks, mamahku beranjak dari kesibukannya yang sedang menjahit baju.

Pria itu kemudian memutuskan untuk menyapa mamahku dan menghampiri rumah untuk beberapa saat. Perkenalan dilanjutkan dengan percakapan yang bernaga segan,

“Saya, temannya putri ibu. Teman sekantor.”

“Oh, karyawan baru juga?”

“Iya bu, dulu saya kuliah di kota Y. Dan beberapa bulan lalu memutuskan untuk kembali ke kampung halaman.”

“Oh ya, diminum airnya. Disini gak ada apa-apa”

Begitulah percakapan orang tua dengan pria yang baru dikenalnya.

Setelah pria itu berlalu. Di rumah, gue ditanyai selusin pertanyaan yang belum pernah gue dengar sebelumnya. Dari mulai kapan kenal, hingga sejauh mana kedekatan. Meskipun gue malu, tapi tersirat senyum dari balik wajah ibunda yang tak bisa ditutupi dengan apapun.

Haha, mungkin seperti itu kejadiannya. Tapi kan itu hanya sebatas di alam khayal, belum tahu pasti bagaimana jika ada pria pertama yang gue bawa ke rumah. Ya karena itu pertemuan pertama, belum ada sinyal jelas untuk rencana kedepannya. Maksud gue, kita masih dalam masa haha… gue agak malu menyebutkannya. Ok, PDKT. Geer banget ya gue? Tak apalah. Yang perlu gue tekankan, dia pria pertama yang gue sialakan masuk setelah tiga tahun pintu hati tertutup. Haha, lebay! Biarin, orang ini blog gue.

Tapi, gue hanya bisa berharap besar kepada Sang Penguasa Hati, Sang Pembuat Garis Kehidupan, Sang Penguasa Alam, Sang Pengasih, Yang Maha Esa! Jadi, gue hanya akan meminta dia kepada Allah SWT. Biar gue gakan kecewa! Seriously!

Ini pertemuan pertama. Dan, gue yakin semua telah digariskan. Wallahu a’lam.

TULISAN INI DIBUAT DI CISOMPET, 16 AGUSTUS 2015 (Mungkin suatu saat, ia akan membacanya.. ^_^)


WAITING FOR…..

Ketika usia telah berkepala dua, hampir setiap pikiran wanita diisi oleh keinginan untuk berkeluarga. Termasuk saya. Meskipun di zaman modern ini usia 22/23 masih dianggap muda dan masih banyak peluang untuk berkarir, tapi entah kenapa hidup sendiri terasa tak nyaman.

Mungkin ini karena sekarang aku hidup di kampung. Di usia sepertiku, kebanyakan wanita desa telah menikah dan memiliki anak. Jika aku berpapasan dengan mereka, pertanyaan yang sering dilontarkan tidak lain adalah “Kamu kapan?” Haah, serasa terasingkan.

gambar dari: (?)

gambar dari: (?)

HARI PERTAMA MENGAJAR… DAG DIG DUG

gambar dari: zulhazmihamad.blogspot.com

gambar dari: zulhazmihamad.blogspot.com

Kamis, 30 Juli 2015 lalu adalah hari pertama aku mengajar di SMA Negeri 22 Garut. Di hari pertama kerja ini, perasaan campur aduk sungguh tak bisa digambarkan. Deg-degan, senang, resah, dan salah tingkah, semuanya menyatu dalam pikiran. Sebagai guru baru, mungkin hal ini wajar dan patut dimaklumi. Dengan perasaan tersebut, saya pun memberanikan diri dan mengawali segalanya dengan basmallah!

Sebagai pengajar baru, tentu banyak orang yang akan bertanya dan penasaran “siapakah aku ini?” begitulah kira-kira yang dipertanyakan siswa di SMA itu. Oke, jadi pas pertemuan pertama masuk kelas, aku memperkenalkan diri, termasuk nama, alamat, kontak, hobi, cita-cita, dan latarbelakang pendidikan.Mengenai cita-cita, sebenarnya aku agak ragu untuk mengatakannya, tapi karena ingin mendapatkan doa dari 40 orang, jadi aku ceritakan cita-citaku untuk menjadi pengajar dan melanjutkan pendidikan S2 ke Luar Negeri.

Well, di SMA Cisompet ini, aku diberikan amanah untuk mengajar tiga mata pelajaran, yaitu Sejarah, BTQ (Baca Tulis Qur’an), dan Bahasa Inggris. Karena masih pertemuan pertama, jadi di semua pelajaran hal pertama yang aku lakukan adalah perkenalan dan memberikan materi-materi dasar. Misalnya untuk Bahasa Inggris, aku mengajarkan cara membaca alphabet yang benar dan bagaimana cara memperkenalkan diri. Semula aku tak begitu yakin dengan hal ini, takut dianggap cuma pelajaran SD lah, dan bla bla bla. Tapi setelah diajarkan, alhamdulillah respon mereka sangat baik. Yeeee!

begitulah sekilas hari pertamaku di sekolah. Meskipun telah menjadi Guru, tapi aku hanyalah guru yang masih patut untuk berguru. Makanya semangat untuk mencari ilmu masih terus berkobar. Semoga Allah memberikan jalan untuk meraihnya, Aamiin.

LANGKAH, MELANGKAH, TERUS MELANGKAH

picture from: homefamilysite.com

picture from: homefamilysite.com

Satu persatu teman kami pergi memastikan impiannya, sedang aku menanti giliran itu. Ya, tanggal 18 April 2015 nanti adalah waktu yang menentukan bagiku. Semua perjuangan selama setengah tahun di tanah orang semoga akan membuahkan hasil.

Langkah menuju 18 April 2015 itu juga bukan waktu yang mudah. Tiket menuju kesana benar-benar menyatukan semua kekuatan, ikhtiar, dan do’a dari orang tua, usaha sendiri, dan ‘teman’. Terbayang kan bagaimana kuatnya jalan menuju ke titik itu? Semua awal kejadian hingga mengantarkan ke gerbang mimpi itu, aku namakan “takdir.. Godwill.”

Aku tak percaya semua yang ada di semesta ini tanpa rencana. Dari mulai hal kecil sampai peristiwa besar, itu semua telah tercatat dalam ‘kitab agung’ di atas langit sana. Daun jatuh? Aku dengar mereka telah direncanakan untuk gugur di waktu itu; Penemuan Facebook? Aku juga yakin kemajuan ini telah digariskan oleh Yang Maha Agung. Dan, kita tak pernah tahu bahwa ada banyak rencana mengapa semua hal itu terjadi.

# Kadang kita tidak harus bertanya untuk memahami setiap peristiwa yang kita jalani.