TAKDIR

Pernahkah engkau coba menerka…
Apa yang tersembunyi di sudut hati?
Derita di mata, derita dalam jiwa..
Kenapa tak engkau pedulikan? #Ebiet. G. Ade#

Cinta, entah dari mana ia datangnya. Ia menghampiri ketika aku melapisi dunia dengan dinding-dinding baja. Ku pikir ini sudah kokoh. Aku tak sadar ada celah yang tak tertutupi. Ia bagai benih jagung, satu dua hari tersirami, hari kelimanya tumbuh kecambah. Ini lah yang kesebut cinta.

Dia yang mengawali. Oh tidak, waktu yang mempertemukan. Kami adalah dua orang murid baru di sekolah itu: SMA Harapan Hati. Aku tak tahu pasti kenapa sekolah itu dinamai demikian. Seakan semuanya berkehendak. Ada harapan yang memanduku untuk pindah ke sekolah ini. Beberapa minggu lalu ibuku menawarkan daftar sekolah ngetop di kota Bandung. Nilaiku tak pernah kurang dari 80, besar kemungkinan aku bisa bersekolah di sana. Tapi aku tak tertarik.

Hanya karena SMA Harapan Hati dekat dengan Situ Cileunyi aku tertarik. Ada kenangan dan kisah di sana. Saat ayahku masih ada, kami menghabiskan liburan hari raya di sana. Aku yang masih berumur 8 tahun tak pernah percaya ada perahu kecil yang bisa mengelilingi danau. Ayahku memanggilnya sampan. Bagai suatu keajaiban, perahu kecil yang terdiri dari papan-papan tipis bisa menyeimbangkan posisinya di atas air danau. Ayah dan Ibu sering menertawakan aku ketika nyengir-nyengir melihat danau biru. Ayahku bilang dia tak pernah tahu seberapa dalam Situ Cileunyi. Biru warnanya membuat Ayah tak pernah ragu: danau itu sangat dalam. Anehnya, di saat musim kemarau, Situ Cileunyi berubah warna menjadi merah kekuningan. Saat itu lah tak ada orang yang berana ke sana. Begitu juga ayah.

Sekolah adalah rumah keduaku. Di sana aku kenal seorang lelaki muda, namanya Takdir. Takdir duduk tepat di sebelahku. Saat kelas pertama, Pa Santoso, guru Matematikaku menanyakan kenapa nama kita nyambung: Garis Takdir. Yah, namaku Garisa. Namun Ayah Ibu memanggilku Garis. Aku bilang ini: hanya kebetulan.

***

Dunia sempit. Kenapa si Takdir itu selalu pulang searah denganku? “Ah, lelucon apa ini”. Tapi aku yakin ini kebetulan.

Kebetulan yang sungguh terlihat direkayasa. Jadwal piket bareng. Sama-sama naik angkot nomer 8. Dan paling parah: rumahnya di sebelah rumah baruku.

“Nak, kata Pa Mahyun kamu temen sekelas Takdir ya?” Ah, ini pertanyaan yang sangat tidak penting. Tapi aku menangguk.

“Dia anaknya rajin. Sering nyuci baju keluarganya.” Entah kenapa, omongan ibu sangat membekas di memoriku. Sejak hari itu aku sering memperhatikan Takdir.

Jadwal piket bersama dan duduk bersebelahan membuatku ada sesuatu yang aneh. Ada bayang-bayang indah yang menyelinap ke dalam dada. Garis takdir membuatnya seirama. Dia mengirimi aku surat kecil di bawah meja.

Aku sudah melihatmu dari pertama. Kau memakai kerudung segi empat dengan bros pita biru muda. Kau sungguh berbeda. Teman-temanmu berjilbabkan rambut, kau tidak.

Salam kenal: Takdir Kuasa Ilahi.

Duhai, bagai kemarau tersiram air hujan. Rumput mulai tumbuh, dan bunga bermekaran. Aku tak pernah merasakan cinta seperti ini. Piket menjadi sangat lama karena kita sering mengobrol ini itu. Senyumannya milikku, senyumku ada karenanya. Diariku berisi cerita indah semua. Begitu selama 1.5 tahun. Kami tak pernah bosan. Sampai dalam hati aku yakin: aku tergaris dengan takdirnya.

***

Bersambung…

ANAK ISTRI EMASKU

Aku telah menikah dengan istriku selama dua tahun lebih. Dalam dua tahun itu aku hampir berhasil memiliki buah hati, tapi selalu gagal karena rahim istriku sangatlah lemah. Selama denganku, telah dua kali istriku kecewa karena selalu mengalami keguguran. Padahal hanya mengangkat ember cucian untuk dijemur atau hanya lelah sedikit, calon bayiku selalu tak tahan. Kadang kejadian ini membuat aku sedih, tapi apapun yang terjadi pada istriku akan aku tanggung. Aku tak ingin wanitaku kecewa diasingkan suami tuk ke dua kalinya. Cukup aku suami terakhirnya.

gambar dari: goodreads.com

gambar dari: goodreads.com

Tiga tahun lalu, aku mulai mengenal istriku. Ia adalah wanita cantik yang ku dapati di depan restroan tempat aku kerja. Setiap kali aku mengelap sudut meja dan kursi, ku lihat keelokannya di warung kecil seberang jalan. Meskipun terhalang oleh kaca, tapi wajahnya tak terhalang apapun dalam pikiranku. Bahkan sampai aku tertidur dan bermimpi, wajahnya selalu mengikutiku. Aku kesal dengan hal ini. Bayangannya terus menjelajahi alam pikiranku yang tinggi, tapi hanya sekedar bayangan. Dengan bermodalkan sebongkah keberanian, aku putuskan untuk mendekatinya. Mula-mula hanya membeli makanan eceran dan beberapa batang rokok, padahal aku tak merokok.

“Kamu kerja di restoran itu ya?” pertanyaan itu selalu aku nantikan, tapi ketika ia datang, suaraku tersendak di tenggorokan.

“Iya, panggil saja aku Danar.”

“Aku sudah tahu. Ibu yang sering cerita, kan abang sering ngobrol sama ibu.”

“De Dini baru ya disini? Perasaan dulu gak pernah lihat.” Mukaku semakin memerah, tapi ku beranikan bertanya di kesempatan istimewa ini.

“Ya, baru sebulan ini.” dia tiba-tiba terdiam. Ku buat percakapan ini semakin memanjang.

“Rumahnya di Kiara ya? Kebetulan ketika pulang saya sering lewat sana. Emh, motor saya kosong kalau Ade mau bareng sama saya.”

Sejak saat itu, dia selalu menemani perjalananku. Aku merasa menjadi lelaki paling beruntung karena bisa mendapatkan wanita paling cantik di Kiara. Namun, suatu kenyataan yang aku kadang hampir sulit untuk menerimanya yaitu dia tak lagi perawan. Awalnya aku hampir menyerah untuk meminangnya, apalagi kebiasaan di kampung pantang bagi pemuda sepertiku menikahi janda. Tapi, cinta sudah merekah tak bisa ku hindari. Wajah Dini selalu saja tergambar di depan mukaku. Tak bisa aku pergi darinya. Perasaan cintaku telah dibumbui rasa kasihan pada insan jelita itu. Lelakinya dulu enggan menerima kekurangannya. Setiap manusia di dunia ingin mendapatkan keturunan, tapi Dini perlu perjuangan untuk meraihnya. Sudah tiga kali pula ia keguguran. Kesabaran yang diemban suaminya dulu telah terkikis dari waktu ke waktu, hingga ia menyerah dan berpisah darinya.

Kini wanita yang aku cintai itu sedang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Suatu masa yang aku kagumi dari dia, untuk pertama kalinya dia berhasil mempertahankan buah hati kami selama sembilan bulan dalam rahim lemahnya. Tapi, kini ia harus berjuang lagi. Wajah ayunya semakin nampak, semakin bertambah pula rasa sayangku padanya.

“Kamu tahan ya de, ingat aku dan anak kita.”

“sakit kak, sakiit.” Suara bidadariku semakin parau. Aku tahan perasaan dan air mataku hingga ku pasrahkan dia bersama takdir dan usaha dokter. Dari jam 08 malam aku menungguinya di kursi harapan bersama orang-orang lainnya. Baru jam 02 pagi, suara tangisan bayi terdengar dari depan ruangan yang kutunggui. Dari balik pintu itu dokter bersama beberapa orang berseragam putih lainnya keluar dengan raut wajah yang tak bisa ku tebak.

“Selamat pak, anak bapak perempuan. Tapi bapak tak bisa lihat mereka sekarang.”

“Tapi saya harus mengadzani anak saya pak. Lalu bagaimana kondisi istri saya?”

“Dia sangat lemah. Banyak pendarahan. Lebih baik bapak cegah istri bapak untuk melahirkan lagi. Demi keselamatannya.”

Perasaan campur aduk bersarang di otakku. Antara bahagia karena mendapatkan anak dan sedih dengan keadaan Dini.

Usai mendengar berita itu, cobaan kembali datang mengantri. Aku harus menyelesaikan biaya perawatan istriku sebelum aku bisa menghampirinya.

“11 juta? Padahal melahirkan kan biasanya tak lebih dari dua juta bu,”

“Ini kan rumah sakit besar pa. Terus kan istri bapak harus disesar dan dikasih darah biar selamat. Pantaslah mahal.”

Mendengar uang sebesar itu aku sangat kalap. Uang tabunganku pun hanya ada dua jutaan. Sejak saat itu, pikiran-pikiran baru bermunculan dalam benakku. Ada pikiran untuk meminjam bosku, ada juga pikiran jahat untuk mencopet. Ah, tidak, aku harus meminjam.

Tak pernah seumur hidupku aku meminjam uang jutaan bahkan puluhan juta rupiah. Tapi apa daya, aku harus menelan cobaan ini. Akhirnya aku putuskan untuk meminjam pada bosku.

Pagi-pagi buta aku berangkat ke Cirayana dengan ditemani Si Jago, motor yang paling setia yang menemaniku selama tujuh tahunan. Bayang-bayang manusia berkendara yang diburu waktu masih selalu ku lihat kemanapun aku pergi karena lampu-lampu jam 3 pagi masih benderang di sudut jalan dan rumah-rumah. Sengaja aku memburu pagi karena aku tak sabar ingin melihat istri dan si kecil. Semakin sulit aku mendapatkan uang, semakin lama pula aku akan memeluk mereka.

Jarak dari rumah ke kampung bosku hampir memakan masa lima jam. Meskipun dalam satu kecamatan, tapi jarak kami berjauhan. Selama ini aku mengabdi lebih dari 8 tahun di restoran bosku, kesetiaan ini harusnya diperhitungkan olehnya. Apapun resiko yang aku tanggung, aku siap. Yang penting, anak istriku ada bersamaku.

Usai matahari mulai terlihat memeluk pegunungan dan membelai punggungku, rumah megah di tepi sawah sudah terlihat. Di sanalah harapan dan hidupku terletak. Di tengah kekalutan, hati, pikiran, dan lidahku bekerjasama untuk berkomat-kamit melafalkan tasbih-tasbih suci pada Yang Maha Memberi Takdir. “Tuhan, aku tidak akan berarti apa-apa jika tanpa anak istriku. Meskipun aku tak punya apa-apa, aku akan merasa paling kaya jika ada mereka.”

Dengan tekad baja, akhirnya ku mendorong jemariku tuk mengetuk pintu.

“Permisi, pak, pak, permisi,” tak ada suara. Hanya hembusan angin dan suara jangkrik yang berbalapan di pagi ini.

Sontak tubuhku lemas. Meski ribuan kali ku ketukan pintu dan ku teriakan suaraku pun tak ada balasan yang ku harapkan. Di tengah kekalutan ini, dua jiwaku benar-benar terasa kehadirannya. Perdebatan hebat mereka membuat aku sakit kepala.

“Sudah, mumpung orang-orang disini lagi ke huma, sikat aja harta di rumahnya. Ini kan bukan keinginanmu, ini demi kebaikan istrimu. Takan ada yang tau, kampung ini sepi. Lagipula rumah ini terletak di dekat pematang sawah dan jauh dari rumah warga.”

Aku melirik ke sosok lain di sebelah kanan.

“Jangan, percuma kau bisa menyelamatkan anak-istri tapi mereka kecewa seumur hidupnya. Apa ingin anakmu mendapatkan kejelekan seumur hidupnya? Dicaci maki oleh anak-anak lainnya bahwa ayahnya seorang pencuri.”

“ya itu kan kalau ketahuan. Takan ada yang tahu. Banyak pula yang berhasil mencuri tapi tak ketahuan. Tak usah kau berpikir panjang.”

Dua sosok itu membuatku bingung. Beberapa menit aku usahakan pikiranku untuk berimbang. Sebenarnya aku bisa meminjam uang pada Juragan Reren, tapi bunga yang dia berikan takan sanggup dilunasi seorang pramusaji di restoran biasa. Arrrgggghhh!

Ku angkat tubuh lemasku. Ingin rasanya aku memandang pintu dan jendela di rumah bosku dan aku yakin pula banyak harta yang bisa aku jual untuk menebus anak-istri. Tapi pantang bagiku tuk merampok harta yang bukan hakku. Akhirnya ku seret kedua kakiku membelakangi rumah megah bosku. Ku elus dadaku dengan mengucap istighfar beberapa kali. Ku teguhkan jiwaku dan masih ingat tentang nasihat yang ku dapat dari para penulis hebat, man jadda wa jada dan manshabara zhafira telah aku tunaikan. Aku sudah berusaha mengerjakan apa yang aku bisa untuk menyelamatkan anak-istri, dan akupun telah melengkapinya dengan kesabaran penuh. Sekarang, tinggal Engkau yang memutuskan.

Beberapa jam dalam perjalanan dengan lamunan yang panjang membuat aku lupa bahwa aku telah berada di depan rumah sakit. Ku berjalan menelusuri lorong hingga ku lihat kamar nomer 2911. Meskipun ku curi kesempatan untuk melihat pasien dari balik kaca panjang pintu, tapi tak ku lihat seorang penghuni pun. Seketika dada terasa sesak dan pandangan kabur.

“Permisi, bapak sedang mencari siapa?”

“pasien di ruangan ini kemana pak?”

“Sudah tak ada pak.”

Tanpa berpikir panjang, aku lari menuju kamar kamboja. Di sana ku lihat beberapa orang dokter dan perawat mengemasi sesosok manusia yang terbujur kaku.

“Itu siapa pak?”

“Ini Khadijah, korban kecelakaan di Tol siang ini. bapak keluarganya?”

“Kalau Dini dari kamar 2911 dimana pak?”

“Oh tadi sudah ada yang menjemput, mungkin keluarganya.”

Dengan perasaan yang tak menentu dan serba menebak perkiraan, aku bertolak menuju rumah. Ku lihat segelintir orang berkumpul disana. Dan seorang wanita jelita terbaring di antara manusia-manusia itu. Di sampingnya ku lihat bayi mungil berkulit kemerah-merahanan sedang dikeloni yang empunya. Air mataku tak bisa ku tahan seiring dengan langkahku yang kian lama semakin mendekat.

Kepalaku roboh di pelukan bayi itu. ku rasakan pukulan lembut di punggung. Bosku tersenyum dan berkata.

“Teman kerjamu bilang, kau sedang butuh bantuan.”

Aku pun tersenyum dan mengibarkan bendera kemenangan dalam hati. Dari sana, aku semakin yakin Tuhan lah yang Maha Memberi Kejutan dalam hidup ini.