PETIR: SEBUAH NOVEL

“Akan tiba saatnya orang berhenti menilaimu dari wujud fisik, melainkan dari apa yang kamu lakukan”
_Dee Lestari

wp_000059

gambar dari: sukadownload.blogspot.com

Ini pertama kalinya aku membaca novel karya Dee Lestari. Karya sastra yang sungguh luar biasa ini membuat aku jatuh cinta sejak pandangan pertama. Bagaimana tidak, cerita yang disajikan membuat aku penasaran untuk menghabiskan halaman demi halamannya. Bahkan, aku sudah tidak sabar untuk membaca buku Dee selanjutnya: Partikel.
Cinta itu dimulai ketika aku menginjakan kaki ke sebuah toko buku di Pare, Kediri. Karena bingung apa yang harus aku lakukan selama liburan ini, jadi aku memilih untuk membeli novel sebanyak-banyaknya. Di tempat itu, aku lihat beberapa karya besar novelis Indonesia, seperti karangan Andrea Hirata, Kang Abik, Pidi Baiq, Tere Liye, dan Dee Lestari. Nama yang disebutkan terakhir adalah pilihan pertamaku.
“PETIR”. Membaca judulnya saja sudah membuat aku penasaran. Bagaimana bisa cerita orang dihubungkan dengan benda menyeramkan itu? Ah, atau mungkin itu cerita horror yang dikemas dalam bentuk novel? Begitulah pertanyaan dangkal yang aku ungkapkan ketika membaca kata “petir”. Namun setelah membacanya, semua kedangkalan itu digantikan dengan kisah menakjubkannya Dee.
Novel ini menceritakan tentang perjalanan hidup seseorang yang buta dengan masa depannya. Meskipun ia telah menamatkan S1, tapi tak ada yang bisa ia lakukan. Baiklah, supaya jelas, Dee menamakan tokoh utama ini: Elektra. Sebut saja dia Etra, sebagai panggilan akrabnya. Etra hidup bersama seorang kakak (Wati) dan ayah (Wijaya) yang menghabiskan waktunya untuk berhubungan dengan benda-benda elektronik. Kedekatan dengan professi ini menjadi sebab mengapa Elektra dinamakan Elektra. Lebih menakjubkan lagi, Elektra mewarisi keajaiban dan kekuatan ayahnya: tahan disetrum dan bersahabat dengan listrik, bahkan petir.
Entah kenapa Etra sangat mengidolakan petir. Setiap kali hujan turun, Etra menari-nari dan berlari ke luar untuk menyambut petir. Kebiasaan yang aneh ini membuat orang-orang di sekitar Etra menyangka bahwa dia telah kerasukan jin, setan, atau mungkin dikutuk oleh iblis. Sampai akhirnya, Etra menemukan pintu pertama yang ia cari untuk menghilangkan keresahannya: ia bertemu dengan Ibu Sati. Ibu Sati, pemilik toko yang menyediakan perlengkapan untuk ilmu ghaib, seakan telah menjadi penangkal Etra. Ia mengajarkan Etra cara untuk mengendalikan muatan listrik yang ada di tubuhnya dengan yoga atau bersemedi.
Namun demikian, ketidakberdayaan Etra untuk mengendalikan kelebihannya membuatnya harus bersandar kepada Bu Sati. Sehingga, ketika Bu Sati sedang tidak ada di dekatnya, dia melakukan berbagai hal sebagaimana air mengalir. Aliran tersebut membawanya berkenalan dengan kecanggihan era millenium: internet. Berubahlah Etra yang pengannguran menjadi seorang sang entrepreneur warnet “Elektra Pop”. Namun, tetap saja semuanya terjadi atas dukungan dan saran dari Bu Sati pula, seseorang yang telah dianggap ibu sendiri oleh Etra.
Menariknya, dari sini lah cerita romantis mulai menjadi bumbu kehidupan Etra, meski tak terlalu kental. Waktu dan kegiatan telah mempertemukannya dengan lelaki acak-acakan tapi cerdas keturunan Italia, Mpret. Adanya cerita ini menurutku telah mewarnai novel yang dikemas Dee tidak membosankan. Ah, cerita romantis memang selalu digemari banyak orang. Sayangnya, perjalanan hidup Etra tidak selesai sampai di sini. Bergulat dengan rutinitas dan banyak orang membuatnya sakit keras yang ternyata disebabkan karena kekuatan listrik yang tidak disalurkan secara benar di tubuh Etra. Lagi-lagi, Bu Sati menjadi sang penyelamat jiwa Etra. Melaluinya, Etra diajarkan melakukan yoga dan memanfaatkan kekuatannya. Di sini, kehidupan Etra pun berubah menjadi seorang tabib atau, mungkin, paranormal.
Ada satu kutipan menarik yang aku ambil dalam novel ini:
“Sesuatu yang ‘lebih’ baru bermanfaat kalau dibagikan. Kalau tidak, ya, Cuma ‘lebih’ tok. Nggak ada artinya”
Baiklah, orang bisa menafsirkannya secara berbeda ketika memahami kutipan tersebut. Lebih secara harta atau lebih dalam arti lain, yang penting harus bermanfaat, ya?
Yang jelas, coba bacalah novel ini! 
Sungguh menarik.

BUMI MANUSIA, PRAMOEDIYA ANANTA TOER

Bumi Manusia, Pramoediya Ananta Toer

Bumi Manusia, Pramoediya Ananta Toer

“Harus adil sudah sejak dalam pikiran, kita tidak boleh menghakimi perkara yang belum tahu benar tidaknya”–Pramoediya Ananta Toer.

“Sungguh karya yang agung,” begitu pandangan saya setelah membaca novel Bumi Manusia, karya Pramoediya Ananta Toer. Pujian ini ternyata bukan saja keluar dari hati dan pikiran saya sebagai anak bangsa yang mencitai karya bangsanya, tapi ternyata seluruh dunia pun mengatakan hal yang sama.

Setiap kata pada lautan huruf dalam karya Pram begitu indah. Pram begitu mampu meramu setiap kata dan alur cerita dengan penuh mempesona. Benar-benar mempesona. Tema kemanusian sebagai nilai dalam cerita disampaikan dengan kisah kehidupan yang sangat pas. Hal ini bukan saja karena Pram pernah mengalami sendiri peristiwa yang dikembangkannya dalam bentuk novel, tapi juga tangan, hati, dan pikiran Pram benar-benar cerdik untuk meramu cerita yang memukau.

Cerita Pram dalam novel Bumi Manusia dimulai dalam zaman kolonialisme Belanda. Tapi, tentu saja cerita tidak disampaikan secara kaku. Peranan tokoh utama, MINKE, dalam novel ini benar-benar menjadikan cerita ini bisa membuat hati kita terenyuh. Minke adalah pemuda keturunan raja Jawa yang terpengaruhi oleh keilmuan Belanda. Dua kararakter inilah yang membentuk kepribadiannya menjadi sangat berbeda. Minke adalah manusia yang tidak senang dengan ketetapan adat Jawa, tapi juga tidak senang dengan hukum Belanda. Dia hanya ingin keadilan dalam hidupnya.

Perjuangan Minke dimulai sejak pertemuannya dengan sebuah keluarga rumit, tapi menarik, yaitu Keluarga Mellemma. Meskipun banyak orang yang menilai betapa buruknya keluarga itu, Minke tetap teguh pada sikap dan pikirannya. Ia tidak ingin terlalu percaya terhadap omongan orang yang belum tentu benar atau tidaknya. Ketertarikan Minke pada keluarga ini membawanya pada perjuangan hidup yang sebenarnya, cinta dan pembelaan terhadap hak pribumi.

Keluarga Mellemma adalah keluarga kaya raya yang hidup di daerah Wonokromo. Mereka memiliki ribuan hektar tanah yang dikelola dalam berbagai sector pekerjaan. Menariknya, keluarga Mellema ini bukan berada di bawah kuasa seorang Belanda, tapi seorang Nyai. Ya, seorang Nyai yang bernama Nyai Ontosoroh. Nama Mellemma sendiri berasal dari seorang Belanda kaya raya. Kehancuran keluarga Mellemma bermula dari datangnya anak istri syah Tuan Mellema yang menuntut pertanggungjwaban atas keluarganya.

Meskipun berstatus Nyai, Nyai Ontosoroh memiliki keilmuan yang tidak bisa dianggap remeh oleh orang Indonesia sezamannya, bahkan oleh orang Belanda sendiri. Kehadiran Nyai Ontosoroh, ditambah dengan keberadaan seorang puteri cantik bernama Annalies dalam keluarga Mellemma benar-benar telah menyihir sosok Minke untuk masuk ke dalam permasalahan keluarga Ontosoroh yang rumit dan pelik.

Puncak perjuangan Minke bermula ketika pembelaannya terhadap Keluarga Mellemma di Pengadilan Putih Eropa. Tuntutan harta gono-gini atas perceraian istri sah Tuan Mellema telah menuntun keluarga Nyai Ontosoroh menghadapi pengadilan putih yang anti-pribumi. Saat itulah dia menyadari bagaimana sosok pengadilan putih yang sebenarnya. Pengadilan Putih hanya membela orang-orang berkulit putih, keturunan Belanda dan Eropa. Tidak ada hak pribumi untuk menang dalam pengadilan ini. Semua kemenangan milik Belanda. Meskipun berbagai cara telah dilakukan oleh Nyai Ontosoroh dan Minke untuk memperjuangkan kekayaannya dan Annalies, Nyai Ontosoroh tetap harus kalah dalam hukum ini.

Di akhir cerita, tidak satu pun kebahagiaan dunia didapatkan Nyai Ontosoroh dari kekalahannya. Kekayaan yang telah diraih dari keringat seumur hidupnya kini hilang, begitu pun anak tercintanya Annalies, lenyap ditelan kekejaman hukum Belanda.

SETEGUK MAKNA DALAM SAMUDERA KEHIDUPAN “SELASA BERSAMA MORRIE: Pelajaran tentang Makna Hidup”

20131101_101000

“Pengaruh seorang guru bersifat kekal; ia tak pernah tahu kapan pengaruhnya berakhir.”

n  Henry Adams

Mungkin terkesan sedikit serius apabila kita berbicara tentang makna hidup. Hal ini karena makna hidup sering kali diarahkan pada kehidupan dewasa. Pun tidak semua orang di dunia ini mampu mendapatkan makna hidupnya sendiri. Kebanyakan orang di semua penjuru dunia menjalani hidupnya dengan sia-sia. Sia-sia karena kekayaan yang didapatkan tidak mampu membahagiakannya. Sia-sia karena menghabiskan seluruh hidupnya untuk sibuk mengurusi urusan pribadi. Sia-sia karena kesimpulan dari seluruh hidupnya adalah NOL.

Pemikiran tentang makna hidup ini pun mungkin baru saya sadari beberapa pekan lalu ketika saya menemukan sebuah buku luarbiasa. Buku yang mungkin dari sisi luar terlihat membosankan, tapi tidak sama sekali ketika setiap lembaran buku tersebut saya buka. Yups, seperti yang ditampilkan pada gambar, buku ini berjudul “Selasa Bersama Morrie: Pelajaran Tentang Makna Hidup”

Morrie, sosok inspiratif yang ditampilkan dalam buku ini, bukan hanya sekedar guru pelajaran di kampus, tapi juga guru spiritual dan guru kehidupan. Bagaimana tidak, melalui mata kuliah kemanusiaan yang diberikannya setiap hari selasa di Brandeis University di kota Waltham, Massachusett, Amerika Serikat, Morrie tidak hanya memberikan pelajaran wajib kampus, tapi juga memberikan pelajaran tentang makna hidup yang sesungguhnya.

Murid terdekat Morrie, Mitch, adalah sosok manusia yang sering membincangkan semua hal tentang kehidupan bersama Morrie. Bahkan sampai akhir hidupnya Mitch tetap setia berhubungan dengan Morrie. Berawal dari studi hubungan antar manusia itu, persahabatan antara Mitch dan Morrie dimulai. Setiap pertemuan kuliah di kampus dan pertemuan pribadi di rumah inilah setiap pelajaran tentang “makna hidup” disampaikan.

Pelajaran tentang makna hidup ini begitu masuk dan bersemayam dalam hati penulis (Mitch), dan bahkan di hati saya sendiri. Ini terlihat dari cara bagaimana penulis menyampaikan setiap alur ceritanya. Hal ini juga mungkin karena Morrie tidak hanya bisa menyampaikan makna hidup lewat setiap kata yang keluar dari mulutnya, tapi juga kita bisa mengambil makna hidup dari kehidupan yang dijalani Morrie. Ya, Morrie begitu menikmati setiap waktu yang ada di hidupnya. Walaupun tubuhnya kecil, sekilas tidak terlihat sebagai orang yang cerdas, tapi Morrie begitu bahagia melewati setiap keadaan dalam hidupnya, baik senang ataupun sedih.

Kekaguman kita terhadap buku ini mungkin tidak hanya akan ditemukan ketika kita membaca setiap pelajaran makna hidup yang disampaikan Morrie, tapi juga melalui perjuangan hidup yang harus ditempuh Morrie. Ya, di usianya yang menginjak kepala enam, Morrie divonis mengidap ALS, suatu penyakit yang menyerang tulang menuju kelumpuhan. Kini hidupnya hanya tersisa beberapa bulan lagi. Lewat sisa-sisa hidupnya ini, Morrie bertahan dalam penderitaan, tapi dihadapi dengan kelapangan.

Beberapa kalimat tentang makna hidup yang bisa saya kutip, diantaranya yaitu:

“Begitu banyak orang menjalani hidup mereka tanpa makna sama sekali. Mereka seperti separuh terlelap, bahkan meskipun mereka sedang sibuk mengerjakan sesuatu yang menurut mereka penting. Ini karena mereka memburu sasaran-sasaran yang salah. Salah satu cara agar hidupnya bermakna adalah mengabadaikan diri untuk menyayangi orang lain, mengabdikan diri bagi masyarakat di sekitar kita, dan mengabdikan diri untuk menciptakan sesuatu yang memberi kita tujuan serta makna.”

“Yang paling penting dalam hidup adalah belajar cara memberikan cinta kita, dan membiarkan cinta itu datang, karena cinta adalah satu-satunya perbuatan yang rasional.”

“ Sebagai manusia kita perlu RASA AMAN SPIRITUAL, yakni rasa aman karena tahu ada keluarga yang memperhatikan kita. Tidak ada yang dapat menggantikan peran ini. Tidak harta. Tidak pula kemasyhuran.”

Sebenarnya ada begitu banyak kata-kata mutiara yang bisa kita ambil dalam buku ini. Tapi karena begitu banyak, saya pikir lebih baik saya menyarankan kawan-kawan untuk membaca buku penuh makna ini. Saya jamin cara pandang kawan-kawan terhadap hidup akan menjadi lebih berbeda dan lebih baik.

CERPEN ROBOHNYA SURAU KAMI

20131110_093129CERPEN ROBOHNYA SURAU KAMI

Jika berbicara mengenai cerpen masa kini, alangkah baiknya jika kita tidak melupakan cerpen masa lalu. Kita bisa membedakan bagaimana cerita masa lalu disajikan pengarangnya dalam bentuk yang meng-asyikan, tak kalah mengasyikan dengan cerpen masa kini.

Seperti cerpen karangan A.A. Navis yang saya baca beberapa pekan lalu. Dengan judul utama Robohnya Surau Kami, cerpen ini begitu memikat hati saya untuk terus membaca dan membandingkannya dengan cerpen lainnya. Cerpen yang dikeluarkan pada tahun 1986 ini benar-benar sarat nilai moral. Bukan jenis cerita biasa yang hanya berbicara mengenai cerita kurang berbobot, tapi menyajikan nilai-nilai kehidupan yang dikemas dengan bentuk cerita yang mengasyikan.

Saya benar-benar yakin bahwa peminat kumpulan cerpen AA Navis ini tidak pernah habis ditelan masa. Bagaimana tidak, meski berbagai kumpulan cerpen dan novel masa kini merebak dimana-mana, tapi buku cerpen karangan AA Navis ini masih tetap dicetak beberapa kali. Anda tahu berapa kali buku ini dicetak ulang? Pertanyaan ini juga sempat menghantui saya, hingga saya menemukan jawabannya. Di lembar rincian percetakan, di sana dicantumkan bahwa buku Robohnya Surau Kami ini telah dicetak sebanyak 10 kali cetakan, dari tahun 1986 sampai tahun 2003. Waw, bukankah ini luar biasa?

Sedikit mengulas isi dari kumpulan cerpen ini, sebagaimana judulnya, Robohnya Surau Kami menceritakan mengenai kehidupan seorang lansia yang taat beribadah siang malam. Beliau menyerahkan hidupnya dari belas kasih orang lain. Namun demikian, ketaatannya dalam beribadah difahami secara salah. Kakek tua itu hanya memikirkan hablu minallah, sedangkan keluarga dan kerabatnya ia biarkan begitu saja. Apakah sikapnya yang seperti itu menjaminnya bisa masuk Syurga? Belum tentu. Karena sindiran seorang yang keterlaluan bercandanya, kakek Surau itu memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri dengan pisau yang dibuatnya. Dalam hal ini siapa yang salah atau patut disalahkan? Supaya anda bisa menentukan pilihan anda, saya sarankan supaya anda membaca cerpen ini.

Ini memang bukan kali pertama saya membaca cerpen Robohnya Surau Kami. Sejak menginjakan kaki di SMA, cerpen ini pernah menjadi bahasan dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Namun ketika itu saya tidak mengetahui nilai apa yang dapat saya petik dari cerpen tersebut. Baru saat ini, setelah kali kedua saya membaca cerpen karangan AA Navis ini, saya baru menyadari bahwa cerpen ini bukan sembarang cerpen, melainkan cerpen yang berisi nasihat-nasihat bagi kita semua. Hmm, andaikan semua cerpen masa kini pun berbobot seperti ini. Hebat bukan???

PERJALANAN KE ATAP DUNIA

20131016_160912

Mungkin beberapa di antara kalian sudah atau setidaknya pernah melihat buku Perjalanan Ke Atap Dunia, karya Daniel Mahendra. Wah, menurut saya buku ini adalah buku perjalanan yang asyik dan bisa memotivasi siapa saja yang memiliki tekad untuk menempuh perjalanan ke seluruh dunia, bukan hanya negeri atap dunia seperti Tibet, Nepal, dan Cina.

Hal yang membuat buku ini menarik untuk dibaca, menurut saya, karena bahasa yang disajikan dalam buku ini dikemas dalam bahasa yang membuat alam pikiran kita masuk ke dalam dunia yang dialami penulis. Woow, this is great!!!

“tekad, keinginan yang kuat, dan keyakinan” adalah salah satu motivasi yang ditekankan penulis dalam karya Perjalanan ke Atap Dunia ini. Tatkala ketiga hal tersebut disimpan dalam hati dan pikiran kita, bukan hanya jalan kemudahan yang akan kita temukan, tapi juga alam semesta seakan membuka segalanya, menyelesaikan segala permasalahan yang dihadapi.

Jujur, ketika pertama kali saya menemukan buku ini di Perpustakaan Daerah Bandung, dari judulnya saja saya sudah terpikat. Dan ternyata, ini bukan hanya mempesona dalam segi judul, tapi juga isinya benar-benar memuat kisah yang menggetarkan hati kita. Di dalam buku tersebut, pengalaman hidup benar-benar diungkap, bagaimana kesulitan dalam menggapai impian menghampiri kita untuk menguji sejauh mana tekad kita dalam menggapai keinginan tersebut.

Waah, pokoknya seru!!! Wajid dibaca, terlebih bagi seseorang yang memiliki keinginan tinggi untuk keliling dunia _seperti saya_. hehe.