JANGAN TIDUR SAAT PUASA!

puasa-tidur

Tidur sampe siang (gambar dari: blog.lazada.co.id)

Memang tak ada ayat atau hadits yang melarang untuk tidur di bulan suci Ramadhan. Malah dikatakan bahwa tidur pun mendapat pahala. Tapi menurut pengalaman saya, tidur di pagi hari setelah menunaikan solat subuh akan membuat badan cepat dehidrasi, perut jadi lapar, dan tidak segar. Akibatnya, saya tidak terlalu bersemangat dalam menjalankan aktivitas lainnya.

Well, mungkin tidur atau tidaknya di bulan suci ini tergantung kebiasaan orannya. Soalnya teman dekat saya sering tidur hingga 4 jam setelah solat subuh, dan menurutnya hal itu tidak terlalu mengurangi kebugaran tubuh. Aneh memang ketika saya dengar orang mampu tidur lebih dari dua jam di pagi/siang hari. Haha. Jadinya, bulan puasa ini seperti ladang untuk tidur panjang, bukan untuk menjadi lebih produktif.

berzikir-kepada-allah

Tidur sampe siang (gambar dari: blog.lazada.co.id)

Bagi beberapa orang yang libur kerja atau kuliah di bulan puasa, ada baiknya bulan ini kita menjadi semakin produktif dalam hal dunia dan akhirat. Dalam masalah duniawi, waktu yang panjang tanpa makan dan minum bisa dimanfaatkan untuk membaca buku dan menulis sebanyak-banyaknya. Saya yakin bahwa kebanyakan orang memiliki beberapa buku yang belum habis dibaca karena kesibukan di hari biasa. Tidak jauh-jauh, saya sendiri mengoleksi banyak buku sejarah dan budaya yang tidak sempat dibaca tuntas. Maka dengan itu, bulan puasa adalah waktu yang paling tepat untuk bermesraan dengan buku.

Dalam urusan akhirat, sudah banyak dakwah-dakwah yang menasihati kita untuk memanfaatkan bulan yang berkah ini. Salah satu amalan yang sering digalakan adalah membaca al-Qur’an lebih sering dan banyak dari pada biasanya. Selama 11 bulan sebelumnya, kita terlalu sibuk dalam urusan dunia yang kadang tidak pernah membuat kita puas. Nah pada bulan ini, apa salahnya jika kita merelakan waktu beberapa menit setelah sholat fardu untuk membaca kitab suci selembar dua lembar.

Tidak hanya membaca al-Qur’an. Amalan lain pun bisa menjadi pahala jika dikerjakan di bulan suci ini. Bersedekah dan mengerjakan solat-solat sunah, misalnya, pahalanya bisa dikalikan berlipat-lipat. Subhanallah, Maka nikmat Tuhan manakah yang kau dustakan?

Cisompet, 09 Juni 2016

 

Wina Sumiati

LAGU KLASIK ‘JUARA’

Bila saja, kau ada di sampingku..

sama-sama arungi danau biru..

Bila malam, mata enggan terpejam,,

Berbincang tentang bulan merah..

_Nyanyian RIndu, Ebiet G. Ade

Ratusan lagu terbaru, baik itu berbahasa Indonesia atau pun Inggris sekarang ini memang bisa kita nikmati dengan mudah. Bahkan dengan mengklik soundloud.com, saya bisa mengakses lagu-lagu dari penyanyi keren seluruh dunia. Tapi, entah kenapa saya mudah bosan ketika beberapa kali memutar lagu tersebut. Satu dua kali dinikmati, lagu-lagu itu terasa terdengar biasa.

musi

gambar dari: musicupgrade.wordpress.com

Karena kurang puas, saya akhirnya berbalik untuk mencari lagu-lagu klasik. Ternyata saya sangat menikmati lagu-lagu ini. Bagi saya, lirik-lirik dan irama dalam lagu klasik membuat saya tenang dan damai. Beberapa lagu-lagu jadul yang tidak pernah membuat saya bosan adalah lagu ciptaan Ebiet G. Ade. Apakah Ada Bedanya, Senandung Jatuh Cinta, dan Nyanyian Rindu adalah tiga lagu yang paling saya sukai. Ah, semua lagu Ebiet G. Ade bagi saya sangat mengasyikan, tapi mungkin karena saya sangat suka hal-hal romantic, tiga lagu itu sangat saya puja.

Saya sempat berpikir tentang kehebatan penyanyi jaman dahulu. Persaingan di kancah hiburan bagi penyanyi mungkin tidak sesesak sekarang, tapi kualitas mereka tidak bisa diragukan lagi. Meskipun kadang video klipnya sangat biasa, tapi mereka selalu membawa hati dalam setiap lirik yang dilantunkan. Sungguh juara!

Dibandingkan dengan masa sekarang, para seniman bisa membuat lagu semaunya, tapi hanya dikagumi sekali waktu. Setelah ada lagu baru, para penikmat lagu beralih menggandrungi lagu lain. Saya berani menyebut mereka ‘semaunya’ karena lirik-lirik dalam lagu sama sekali tidak pantas dikonsumsi semua usia. Apalagi sekarang ini, anak-anak pun ikut menikmati lagu-lagu dewasa. Dengan asyiknya mereka bersenandung bersama teman-temannya di sekolah, di rumah, dan di tempat-tempat bermain lainnya.

Well, well, well, saya yakin setiap orang memiliki lagu kesukaannya. Baik itu modern atau klasik, kecintaan seseorang terhadap lagu memang tidak bisa dilarang. Seperti saya, saya sangat mengagumi lagu klasik. 🙂

Cinta Sebening Embun

 

KU’KAU

 

slide_1

gambar dari: slideplayer.info

Hatiku terenggut di tiga waktu

Satu masa, embun tak berani menjelma

Hanya karena jurus ajaib yang kau bawa

 

Lalu,

Sinar surya mengiringi tubuhnya

Bayangan oranye dan hitam yang ku rindu

Di senja itu

 

Dan,

Kegelapan memeluk hari menjadi malam

Kau simpan sepasang sepatu itu ke rumahmu

Walau kau ragu,

 

Yah, aku tau kau bergegas,

Tapi setengah ragamu masih tak kau bawa,

 

Kita bertukar hati,

Dengan segenggap rasa percaya.

SELAMAT DATANG, YOGYAKARTA

Sungguh tidak pernah disangka bahwa hari ini aku telah memijakan kakiku di Yogyakarta. Kota ini adalah kota yang aku idam-idamkan sejak dulu. Kota yang katanya dijuluki sebagai kota pelajar dan kaya akan budaya, siapa yang tak ingin mampir? Namun kedatangan ke kota impian ini berkaitan dengan Pelatihan Bahasa Inggris yang akan aku lakukan selama tiga bulan di Universitas Gadjah Mada.

Pada awalnya, aku mengira bahwa pelatihan bahasa untuk meneruskan studi S2 ini akan dilakukan di Bandung. Namun ternyata LPDP menentukan lain. Setiap orang dari seluruh Indonesia mendapatkan tempat berbeda untuk mengasah kemampuan Bahasa INggrisnya. Bayangkan… TIGA BULAN !!!! Yups, aku mesti usaha keras untuk mendapatkan nilai yang ingin dicapai. Bismillah…

Ada yang didapat, namun ada juga yang harus direlakan. Mungkin seperti itu lah ketika aku memutuskan untuk meraih impian S2 ku. Keputusan ini mengharuskan aku melepas pekerjaan dan teman-teman yang ada di SMA Negeri 22 Garut. Rutinitas dari Senin sampai Sabtu di sekolah kini sudah tidak ku hadapi lagi. Jika sebelumnya selama weekday aku harus mengajar, sekarang di hari yang sama pula aku harus belajar. Belajar untuk mendapatkan skor tinggi di IELTS.

Do’akan aku ya… J

 

Yogyakarta, 21 November 2015, 06:04

 

Wina Sumiati

WANITA DALAM GUBUK NESTAPA

Marwati tetap saja diam di depan perapian. Entah apa yang dia tunggu. Matanya tak berkedip menatap api yang saling memburu ke bujur panci. Tangannya merekat di depan kaki yang dilipatkan ke dada. Rambutnya sudah tak hitam lagi, di usianya yang masih separuh baya, rambutnya sudah lapuk seperti nenek-nenek berusia 70 tahunan. Tapi siapa tahu, usianya kini belum pantas menerima perubahan rambut putih seperti benang putih kusam yang terjatuh ke tong sampah.

150127094958_devi3

Dihadapannya, rebusan ayam masih lengkap dengan bulu-bulu kotor tak tercuci. Marwati masih saja diam tanpa peduli air rebusan itu sudah mulai menyusut terlahap si jago merah. Kesepian telah menyebabkan Marwati terpaku setiap hari di depan perapian. Ia tak akan beranjak dari perapiannya sebelum ada suara keributan dari dalam perutnya. Seperti saat ini, suara gemuruh itu mendorong tangannya untuk mengambil ayam dalam panci itu. Beberapa bulu ayam masih menempel lekat pada kulit ayam, tapi mulutnya tidak berhenti melahapnya.

Jauh dari rumah penduduk, janda marwati tinggal di dalam gubuk lapuk. Sinar kecil dari lampu petromak telah menerangi gubuk satu ruangan itu. Samar-samar sinar dari api dan sarang laba-laba telah menemani kesendirian marwati selama 20 tahun. Belum pernah ada yang berani mengunjungi gubuk Marwati. Sekalipun gubuk itu berada di dekat lapang sepak bola, anak-anak tidak berani sedikitpun menginjak pekarangan rumahnya. Anak-anak desa menganggap gubuk itu berhantu. Orang tua mereka melarang anak-anak itu untuk mendekati gubuk Marwati.

***

Marwati sebenarnya tidak tinggal di gubuk jelek itu. Kesendirian dan nasib buruknya telah membawanya ke dalam rumah yang tidak pernah jadi impiannya. Mimpi buruk Marwati bermula setahun setelah pernikahan keduanya. Bersama anak gadisnya ia hidup dengan Darso, seorang duda yang ia temui secara tidak sengaja di Pasar Tradisional ketika Marwati mencoba mencari peruntungan demi kehidupannya. Marwati masih ingat, di Pasar itu, Darso sering menemui Marwati yang menunggu pelanggan membeli sayur-mayurnya. Ia sangat senang menerima Darso yang memilki wajah luamayan. Darso sering sekali menghibur Marwati yang kesal dengan tawaran rendah pembeli. Meski banyak penjual lain yang berbisik-bisik dan tertawa kecut melihat kedekatan mereka, Marwati menganggap para penjual itu iri karena Marwati bisa menarik hati duda keren itu.

ibu_elsaelsi

“Heh, Marwati, kamu harus jaga jarak dengan si Darso itu. Kamu tau gak asal usul si Darso?”

“Tak usah dibicarakan. Aku tak mau lagi dengar bulan-bulanan warga. Kami akan menikah minggu depan. Kalo kalian mau datang, datang saja ke rumah kami, kami tak membuat undangan.”

“Cuihhh.. !!! berani sekali kau mengambil keputusan,” sambil meninggalkan Marwati, Ceu Asih menggerutu, “dasar janda tak tau diri. Mentang-mentang sepi ditinggal mati suami…ssss.,,,,” seiring dengan kepergiannya, suara Ceu Asih kian lama kian samar dan hilang.

***

Tiga bulan pernikahannya, Marwati merasa ada keanehan dalam keluarganya. Nesi, anak gadisnya, tak pernah lagi ia temui bermain dengan teman-temannya. Sejak Marwati menikah dengan Darso, jarang sekali ia lihat senyuman dari bibir anak sulungnya. Sesekali Marwati menengok kamar Nesi, Nesi hanya duduk menatapi jendela. Matanya kosong ke arah pematang sawah penduduk.

Tak pernah tak sehari pun Marwati tak menengok kamar anaknya. Gadis itu masih saja terpaku di depan jendela menuju ke arah pematang sawah itu. Marwati kini mencoba menghampirinya. Ia menemani Nesi memandangi pematang sawah itu. Ada gubuk kecil di pinggirnya. Marwati hanya menengok keterpakuan Nesi, ia tidak mampu mengganggu lamunan Nesi.

Hari berikutnya, Marwati bersemangat untuk menemui anak kesayangannya. Ia membeli baju baru untuk Nesi. Meski tidak terlalu mahal, Marwati yakin, Nesi akan senang dengan hadiah itu. Ia sangat berharap, senyum Nesi bisa kembali ke sedia kala. Karena mungkin, Nesi malu bermain dengan teman-temannya dengan baju lusuh yang ia pakai.

Jarak 2 KM dari pasar ke rumahnya tidak ia rasakan. Marwati hanya membayangkan senyuman melayang dari wajah anaknya. Langkah demi langkah pun telah berhasil ia selesaikan. Pintu rumah kini sudah di depan mata, hanya beberapa langkah lagi menuju kamar Nesi.

“Nok, nok, emak datang nok,” semangat sang Ibu begitu membara menanti kemunculan anaknya. Dua kakinya, perlahan ia langkahkan ke kamar anaknya.

Sebelum hadiah itu jatuh ke tangan anaknya, air mata Marwati telah lebih dahulu jatuh ke papan rumah. Matanya yang semula berbinar-binar, tergantikan oleh nestapa yang mengawali hari-harinya. Sekujur tubuh Nesi tergantung di atas kamarnya. Sangat jelas ia lihat, anak satu-satunya memutuskan mengakhiri ajalnya.

Beberapa saat tanpa sadar, Marwati memaksakan kakinya untuk meminta bantuan warga. Diketuknya satu demi satu rumah tetangga di desanya, tapi tak satu pun warga merelakan dirinya melihat Marwati. Warga menganggap, paling-paling mau minjem uang lagi, minta bantuan lagi. Ketukan Marwati pun akhirnya mencapai rumah Lurah Sudarjo.

“Pa, Pa Lurah, anak saya pa, anak saya.. tolong?” merah membara muka Marwati terguyur air mata yang mulai mengering.

“Apa, ada apa dengan anak sulungmu itu? Jangan bilang kau belum beri makan dia. Sudah, aku sibuk harus membikin surat buat tokoh-tokoh masyarakat.” Belum usai Marwati menyelesaikan ucapannya yang terbata-bata, Lurah Sudarjo menarik pintu untuk menutup.

“Anak saya.. gantung diri pa. aa.. anaak saya pa. anak saayaa..” tubuh Marwati pun roboh di serambi rumah Lurah Sudarjo. Beberapa jam lamanya, ia tak sadarkan diri.

Warga berkumpul mengambil tindakan. Beberapa mengurusi mayat Nesi, beberapa orang lainnya mencari Darso. Amin, sekertaris desa, melemparkan pandangan garangnya pada sosok yang ia kenal. Semakin mendekat ke tempat perjudian itu, semakin yakin yang ia lihat. “Heh Darso, perlu kau perbaiki otakmu itu. Tak tahu kau keluargamu sedang menderita kini? Mabuk saja kerjaanmu. Judi saja tingkahmu.”

Tubuh darso tidak bergerak. Kaku. Di atas meja penuh kartu dan botol-botol itu tubuh Darso tergeletak. Dari mulutnya keluar busa berbau. “Hah, oplosan. Tak sudi aku kuburkan dia juga,” Amin menyeret langkahnya menuju rumah Lurah. Dalam pikirannya, Amin masih bertanya-tanya, ada apa dengan keluarga baru ini? Ada apa dengan anak sulung Marwati –Nesi- ?

***

Malam itu, gerimis membasahi bumi Parahyangan. Keheningan malam dan suara jangkrik terbisukan oleh suara gerimis yang enggan untuk berhenti. Di rumah, Nesi membaringkan tubuhnya di atas kasur kapuk peninggalan alarhum ayahnya. Nesi masih ingat, ketika ayahnya masih hidup, ayahnya sangat rajin menjahit kasur kapuk yang sering bolong termakan usia. Diperhatikan ayahnya baik-baik, ayahnya sangat terampil menambal kasur itu. Kini, kenangan bersama ayah kesayangannya hanya berbekas pada tambalan kasur yang masih menempel. Tangan Nesi tiba-tiba menyentuh semua tambalan kasur. Ia masih belum bisa melupakan ayahnya, meski sekarang ia mendapat Ayah baru. Ayah tiri.

Lamunan Nesi terbuyarkan. Suara orang membuka pintu begitu keras menusuk telinganya.

“mak.. mak.. mak sudah pulang?”, langkahnya memburu sumber suara gaduh itu.

“ba…ba.. bapak? Bapak kenapa?” seluruh nafas dan detak jantung Nesi saling berbalapan. Ia melihat Darso setengah tak sadar. Langkah Darso yang terhunyung pun semakin lama semakin mendekat ke tempat Nesi berdiri terpaku.

Bau alkohol semakin tercium ketika Darso meraih lengan Nesi. “Pak,, bapak mabuk? Pa, sadar pa, ini Nesi, anak bapak!”

Entah apa yang Darso pikirkan. Darso melemparkan tubuh Nesi ke atas kasur kapuk peninggalan almarhum ayahnya. Pikiran dan pandangan Nesi pun mencapai suatu ruang yang tidak sadar. Beberapa menit ia merasakan dirinya tak berdaya. Seluruh pandangannya gelap. Juga, ruangan di sekelilingnya ia rasakan begitu gelap. Semenjak itu, hari-hari Nesi, masa depan Nesi gelap pula. Semuanya sirna.

***

Sore itu, semilir angin menggoyangkan ranting-ranting pohon yang mulai menjatuhkan dirinya ke atas tanah. Lambayan daun kelapa menari-nari di tepian sawah. Di bawahnya, seorang wanita separuh baya menyibukan dirinya mencari ranting-ranting kering. Seikat kayu kecil turut pula ia kumpulkan dan ia ikat. Di samping gubuk tua itu, ia letakkan bahan pembakar api itu.

Di tangan kirinya, seekor ayam kampung tak berdaya tergoyang-goyangkan oleh gerakan tubuh Marwati yang berjalan kesana kemari. Dari kejauhan, di pemukiman warga, terdengar keributan orang-orang yang terdengar samar-samar. Samar-samar terdengar, warga kehilangan lagi ayamnya. Suara itu, terdengar bagai bisikan angin yang menggoyangkan ranting-ranting di dekat gubuk Marwati.

Bersama bisikan itu, kenangan pahit 20 tahun lalu terkenang lagi. Dalam kenangan pahit yang masih bersarang dalam pikirannya, Marwati mengurung dirinya dalam kesepian di gubuk itu. Belum bisa Marwati mengubur ingatannya. Semuanya ia rasakan bagaikan kejadian kemarin sore. Dalam pikirannya, Marwati masih menyesali nasib buruknya. Belum terbayar pula rasa penasarannya, misteri sebab kematian Nesi belum ia ketahui. Satu yang paling ia sesali, pernikahannya dengan Darso mengawali mimpi buruknya. Kini, ia pun terselimuti oleh lamunan yang tak kunjung padam, bagai api yang memburu bujur panci di depannya sekarang.

APAKAH KEKURANGANKU?

Sudah lama rasanya tidak mencorat-coret blog ini. Terutama sejak mengabdikan diri menjadi pengajar (yang masih belajar), semuanya tergantikan dengan berfokus pada sekolah. Entah karena sibuk beneran, atau sok sibuk tak karuan. Yang jelas, sangat kangen rasanya kembali pada dunia blog. Wuaahhhh!
Btw, nih, tidak mengisi blog bukan berarti vakum menulis. Beberapa tulisan tentang curahan hati, cerpen, dan pengalaman telah rampung dikerjakan. Namun karena sok sibuk itu lah, waktu untuk menyalin dalam blog belum terlaksanakan. Nah, dengan alasan itu lah, sekarang aku ingin menerbitkan tulisan-tulisan dalam my dear blog… he

gambar dari: amaluddinnasution.blogspot.com

gambar dari: amaluddinnasution.blogspot.com

Beberapa pekan lalu, ketika aku mempersiapkan beasiswa LPDP, aku menulis kekurangan dalam diriku. Dan sekarang, waktunya untuk membagikan kekurangan diri yang tidak sepenuhnya tersuratkan.

Menjelaskan kekurangan diri sendiri kadang gampang, kadang susah. Saya sendiri pun kurang begitu ahli dalam mengakui diri sendiri. Apakah karena saya terlalu sombong, atau belum mengenali diri sendiri? Entahlah. Tapi dalam tulisan ini, saya akan mencoba menguraikan beberapa kekurangan yang ada dalam diri saya.

  1. Sering Menghiraukan Hal Kecil

Ya itu memang benar. Patut saya akui bahwa saya sering sekali mengabaikan hal-hal kecil, yang kadang-kadang nantinya akan sangat besar. Contoh kecilnya, dua hari yang lalu saya membiarkan buku-buku berserakan di atas meja ruang tamu. Pada waktu itu saya sedang belajar dan mempersiapkan materi yang akan disampaikan di kelas. Dari buku yang ada dimana-mana itu, saya masih melihat selembar jadwal mengajar untuk esok harinya. Tapi karena saya pikir kertas ini biasa saja, maka saya biarkan lah kertas itu menyatu dengan buku lainnya. Pada sore harinya, saya ingin melihat kembali jadwal mengajar, dan alhasil? Kertas itu raib tak berbekas. Entas terbuang, tersapukan, atau terselip ke suatu tempat yang Hanya Allah lah Yang Maha Tahu. Walah!

  1. Kuper atau Pendiam?

Entahlah, saya masih sulit menterjemahkan diri saya sendiri. Tapi yang pasti, saya bukan termasuk orang yang pendiam. Karena kalau sudah kenal, apapun bisa saya ceritakan. Sekalipun hal yang tak penting! Hanya saja, saya bukan orang yang ahli dalam mendekati orang baru. Nah apa tuh disebutnya? Semuanya harus mereka dulu yang mengawali. Bagaimana kalau tak ada yang mengawali? Kemungkinan, diam seribu bahasa lah yang akan terjadi!

  1. Suka Ketenangan

Inilah sifat yang mayoritas menghinggapi diri saya. Dari pada kumpul-kumpul di tempat sesak orang, saya lebih memilik pergi ke tempat sepi dan tenang. Disana, saya bisa merenungi diri saya dan mendapatkan inspirasi. Makanya tidak heran kalau saya lebih sukan berkawan sedikit, daripada banyak. Satu atau dua asal nyaman, it’s ok! Saya anggap sifat ini adalah kekurangan karena saya hanya bisa mendapatkan jaringan dari kemampuan yang saya miliki, bukan karena hubungan saya dengan orang banyak.

  1. Susah Mengungkapkan

Hah, kekurangan saya memang terlalu banyak. Yup, saya adalah seorang yang susah untuk mengungkapkan sesuatu. Apakah itu? Perasaan? Hehe, apalagi! Kalau saya tak suka, saya diam tak berekspresi. Kalau saya benci orang, saya pun diam juga. Kalau saya sangat ingin sesuatu? Saya berkata terbata. Walah, kenapa diri saya ini? Yah, rela tidak rela, seperti inilah saya.

  1. Harus Menyesal Dulu

Mitosnya, sifat yang melekat ini karena saya bergolongan darah O. Masa sih? Percaya tak percaya, teman-teman saya yang bergolongan darah O pun memiliki sifat ini. Saya pikir, rasa penasaran saya terhadap sesuatu sangat besar, sehingga tak mudah percaya kalau belum mencoba.

Mh, di samping hal-hal yang saya sebutkan tadi, mungkin sangat banyak kekurangan saya lainnya yang belum berani saya ungkap. Kalau mau saya ceritakan, keberanian saya untuk mengungkap kekurangan diri karena saya sedang mempersiapkan tes wawancara beasiswa afirmasi. Maka dengan itu, supaya nanti saya tidak gagap ketika menjawab pertanyaan, maka di sinilah saya akan mengungkapkan kekurangan yang saya miliki. Untuk selanjutnya, mungkin saya akan mengungkapkan kelebihan. Tapi, apa ya? Hehe. Nanti, saya pikirkan lagi.

MUNGAHAN DI KOTA GARUT

EDISI RAMADHAN 1436 H

Bulan penuh berkah yang dinantikan semua orang ternyata datang juga. Sebelum menjalani ibadah berpuasa, kebanyakan Muslim di Indonesia menghabiskan satu hari sebelum ramadhan untuk berlibur bersama keluarga. Sehingga tidak heran jika di hari yang disebut mungahan itu, banyak orang yang pulang ke kampung halamannya. Di kampung halaman saya sendiri, hampir semua orang di Desa Cisompet menyempatkan waktu mereka untuk berkumpul bersama keluarga ke pantai-pantai yang ada di Selatan kota Garut.

Namun tidak bagi saya. Sehari sebelum ramadhan, saya masih sibuk untuk membuat persyaratan beasiswa afirmasi. Beberapa hari sebelumnya, saya menargetkan untuk menyelesaikan semua hal yang berkaitan dengan beasiswa selesai sebelum ramadhan tiba. Meskipun demikian, saya menikmati kegiatan tersebut karena saya bisa berkunjung ke beberapa tempat di Garut tanpa ditemani siapapun.

Perjalanan pertama saya di kota Garut yaitu menuju Kapolres Kota Garut. Dengan modal bertanya kepada orang-orang di sekitar Terminal Guntur, saya berangkat sendiri kesana dengan menggunakan angkot berwarna biru tua. Eh jangan salah, perjalanan ini bukanlah untuk menjenguk para narapidana, tapi untuk membuat SKCK (Surat Keterangan Catatan Kepolisian). Karena sebelumnya saya pernah membuat SKCK, jadi saat ini saya hanya perlu memperpanjangnya. Pada awalnya saya tidak mengerti sama sekali bagaimana tata cara memprosesnya, tapi sekali lagi ‘dengan bertanya’ saya akhirnya bisa.

Proses membuat kelakuan baik ini tidaklah terlalu lama. Hanya perlu sabar mengantri sekita 1-2 jam (hehe), kita sudah bisa memperoleh surat itu. Meskipun begitu, ada hal-hal yang kurang saya suka dalam hal pelayanannya. Bagaimana tidak, saya sering kali mendapati salah satu polwan yang berbicara dengan nada tinggi. Pertamanya, saya kira dia adalah polisi cool yang berwajah imut, namun ketika saya lihat lebih jelas lagi, ternyata dia POLWAN. Haha. Saya sangat kecewa dengan kenyataan ini dan pelayanannya yang kurang ramah.

Setelah kenyataan pahit itu berakhir, saya meneruskan perjalanan ke Rumah Sakit Umum Dr. Slamet. Hal yang tidak pernah lupa dalam perjalanan ini yaitu meng-up-date status di FB dan BBM. Bukan untuk pamer, tapi seharian itu saya belum mengisi kolom status yang masih kosong. Jadi saya memutuskan untuk mengisinya dengan perjalanan ke RSU. Hasilnya, banyak teman-teman yang bertanya “Siapa yang sakit?, Emang mau diperiksa apa ke RSU?, Nganter siapa ke RSU?”. Seperti yang telah saya perkirakan, pasti orang akan menuding sakit ketika orang datang ke rumah sakit. Padahal nyatanya, saya hanya ingin membuat Surat Sehat, Surat Bebas Narkoba, dan Surat Bebas TBC.

Proses membuat surat-suratan di Rumah Sakit sungguh memakan waktu yang sangat lama. Berangkat dari pukul 8 pagi, saya baru bisa menyelesaikannya jam 2 sore. Alamak, sungguh sangat membosankan. Sebelum membuat surat sehat, saya mendaftar di loket 1 dan dilanjut dengan mengantri di Poliklinik Dalam. Bersama orang-orang sakit lainnya, saya mengantri. Ada yang dipapah sama dua orang keluarganya, ada yang memakai kursi roda bersama infusnya, ada juga yang berjalan tergopoh-gopoh dengan lemasnya. Ketika saya mendapat panggilan ke dalam ruangan, si dokter menanyakan keluhan. Lalu saya bilang, saya perlu surat sehat, bebas narkoba, dan bebas TBC. Hah, ternyata saya salah masuk ruangan. Setelah perawat lain mengoceh karena kesalahan saya, saya disarankannya untuk membuat surat-suratan itu di Lab, ruang ronsen, dan kembali lagi ke Poli dalam. Selama hampir 6 jam saya membuat surat-suratan itu. Dalam waktu yang sangat membosankan itu, saya hanya bisa memanggil tukang asongan, melamun, update status, dan membuka FB.

Selesai membuat surat-surat untuk persyaratan, saya memergoki beberapa orang memadati jalan sepanjang rumah sakit. Betapa senangnya saat itu karena saya bisa memilih jajaran makanan yang dijual di sisi jalan raya. Bersama beberapa orang lainnya, saya pun ikut nongkrong dengan ditemani segelas Es Goyobod –minuman asli Kota Garut- dan seplastik baso ikan. Saya anggap dua makanan tersebut sebagai rasa syukur saya di hari mungahan.

Selamat menjalani ibadah puasa di bulan ramadhan. Semoga kita bisa menuju hari kemenangan. Mohon maaf lahir batin ya.

gambar dari riniambarsari.wordpress.com

gambar dari riniambarsari.wordpress.com