BUAT APA MENYERAH

“Pernah mendengar bahwa apa yang sedang kita nikmati dan hadapi saat ini adalah hasil dari keputusan masa lalu yang kita pilih?

Yang pasti, jangan pernah menyerah dengan hal apa pun. Karena semua orang tidak akan ‘bim salabim aba kadabra’ tiba-tiba suskses tanpa proses. Semua ada masanya..”

Ide menulis dengan judul “Buat Apa Menyerah” ini muncul ketika saya mendapatkan email dari dosen the Enlightenment Worlds, DR Alexander Cook. Sungguh tidak ada nasihat yang diberikan tentang motivasi atau tema never give up. Hanya saja, aku sangat menghargai dan mengagumi semua dosen di universitas ini, the Australian National University. Beliau adalah salah satunya. Sebagai seorang dosen, beliau sangat professional dan peduli terhadap semua mahasiswanya. Meskipun mahasiswa dari luar Australia, terutama non-native English speaker tidak sehebat mahasiswa di sini ketika memberikan pendapat dan komentar, tak ada pembeda dan pilih kasih dalam segi nilai. Semuanya adil. Aku kadang merasa bersalah ketika beliau menanyakan tentang topik penelitian, dan aku telat membalas emailnya. Karena memang belum ada judul penelitian yang tepat dengan sumber yang mudah.

Don%u2019t-give-up
picture source: havingtime.com

Dari dosen yang professional dan tidak pilih kasih itu ada hal yang kemudian aku pikirkan. Ada suatu proses menjadi seorang yang berpendidikan, tidak hanya dalam segi ilmu, tapi juga attitude. Sikap humanisme kepada orang lain adalah nilai plus dari ilmu yang luhur. Aku yakin ilmu yang didapatkan Beliau tidak hanya menerap lewat titel “DOKTOR”, tapi juga lewat sikap adil terhadap semua orang. Ramah terhadap semua orang. Selalu ada waktu untuk murid dan keluarga. Selalu bijak dalam mengatur ilmu. Bukan kah Islam mengajarkan demikian? Tapi kenapa kita yang Muslim, termasuk aku sendiri, masih jauh dari sikap itu?

Aku yakin seorang ilmuan (Sejarawan, apapun itu profesinya) yang hebat memiliki motivasi hebat dari dalam dirinya. Motivasi yang dibangun sejak lama. Niat yang kuat untuk melawan ego untuk bermalas-malasan, bermanja dengan teknologi, dan terpaku dengan perasaan (terlalu sensitif). Aku juga yakin seorang yang hebat di masa dewasanya bukan berarti karena dia selalu berasal dari lingkungan yang mudah, tanpa cobaan, dan tanpa rasa menyerah. Cobaan pasti dan akan selalu menemui manusia, tak terelakan. Tapi dia yang bertahan dan mampu melewati adalah dia yang menang.

Pernah mendengar bahwa apa yang sedang kita nikmati dan hadapi saat ini adalah hasil dari keputusan masa lalu yang kita pilih? Jadi bijak dalam setiap hal, selalu dipikirkan dengan matang sebelum bertindak adalah hal yang penting dilakukan. Manusia di masa depan adalah akibat dari tindakannya dulu. Jadi orang sukses tidak mungkin terjadi secara tiba-tiba, tapi dari proses dan perjuangan dan panjang. Jadi pengusaha besar bukan secara kebetulan, tapi ada ikhtiar, ada fase dimana manusia itu mengalami masa-masa bangkrut dan kecewa. Jadi ‘dosen keren’ bukan berarti dia tidak pernah menghabiskan waktunya dengan bijak. Pasti dia menghabiskan waktu untuk belajar lebih lama dari pada teman-teman sejawatnya. Semua ada proses, dan pasti ada hasil.

Yang pasti, jangan pernah menyerah dengan hal apa pun. Karena semua orang tidak akan bim salabim ada kadabra tiba-tiba suskses tanpa proses. Semua ada masanya, dan ada baiknya masa itu kita jalani untuk hal yang baik: belajar, berbuat baik, beribadah, dan selalu bersyukur dengan apa yang dimiliki. Good Luck !!!

 

Iklan

Tanggapi disini ya... ^_^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s