SEMUA PUNYA POTENSI, TERMASUK ANAK-ANAK CISOMPET

Sebagai salah satu generasi Cisompet yang dilahirkan dan besar di sana, aku banyak menyaksikan berbagai perubahan yang terjadi, termasuk dalam segi pendidikan. Dulu sewaktu aku masih berusia Sekolah Dasar (SD), hanya sedikit dari pemuda Cisompet yang memiliki kesadaran untuk sekolah tinggi. Bisa dihitung dari satu kampung di Kecamatan Cisompet yang melanjutkan ke tingkat SMA. Kebanyakan dari mereka hanya selesai sekolah sampai SMP dan selanjutnya bekerja ke kota untuk menjadi salah satu tulang punggung keluarga.

Nasib yang lebih miris harus ditanggung wanita. Sebagai perempuan yang dilabeli harus pulang ke 3R (Dapur, Kasur, dan Sumur), setelah lulus SMP mereka hanya berdiam diri di rumah untuk menunggu pinangan dari pemuda yang meminati atau diminati. Sehingga tidak heran jika di kampung-kampung, wanita muda berusia 17/18 tahunan sudah menimbang anak.

Kenapa hal ini terjadi? Salah satu jawaban yang pasti adalah dari ketersediaan sekolahnya. Sebelum tahun 2004, di Cisompet belum berdiri SMA yang dinamai SMA Negeri I Cisompet atau yang sekarang berubah nama menjadi SMA N 22 Garut. Sehingga sebelum tahun ini, sebagian masyarakat yang sadar akan pendidikan menyekolahkan anaknya ke SMA di kota-kota lain, terutama di Garut Kota dan Pameungpeuk (Kecamatan yang berlokasi setelah Kecamatan Cisompet). Uniknya, Garut Kota telah menjadi tren sekolah waktu itu. Barang siapa yang mampu bersekolah di sana, berarti dia keren dan naik strata menjadi masyarakat menengah atas.

Ketika pada tahun 2004 SMA N I Cisompet didirikan, perubahan yang luar biasa pun terjadi dalam segi kesadaran pendidikan dan perbaikan sosial ekonomi dalam masyarakat Cisompet. Pada saat aku memasuki sekolah SMA di tahun 2007, sudah banyak teman-temanku yang lebih memilih untuk bersekolah dari pada lulus sampai SMP dan bekerja. Masih ingat dengan jelas bahwa sudah ada 200 lebih siswa yang bersekolah di SMA N 1 Cisompet. Dari jumlah total 5 kelas ( jurusan IPA dua kelas dan IPS tiga kelas), setiap kelas terdiri dari 39-40 siswa. Ini hanyalah jumlah remaja Cisompet yang bersekolah di SMA N I Cisompet, belum lagi ada beberapa anak dari keluarga kaya yang bersekolah di Garut Kota. Dari sini terlihat jelas bahwa pendirian sekolah di suatu daerah telah mempengaruhi tingkat kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan.

sma
gambar dari: sekolah.data.kemdikbud.go.id

 

Mungkin juga kesadaran untuk sekolah yang lebih tinggi dipicu oleh impian untuk bekerja sebagai buruh pabrik di kota. Banyak yang berasumsi bahwa lulusan SMA akan mudah diterima di pabrik Kahatex yang gajinya hampir 2 juta (saat itu) atau bekerja di mall-mall besar di kota. Mendapatkan uang lebih dari 1 juta per bulan adalah salah satu impian setiap orang di desa saat itu, karena nyatanya gaji guru honor pun jarang melebihi angka Rp. 500. 000 an. Saat itu, nilai 1 juta, apalagi 2 juta sangatlah besar.

Namun, lagi-lagi saat aku masuk SMA, aku menyaksikan sedikit sekali minat siswa SMA yang ingin melanjutkan kuliah. Lagi-lagi, yang melanjutkan kuliah adalah siswa yang berasal dari keluarga berpendidikan atau siswa pintar yang mendapatkan beasiswa S-1. Hal yang sama pun terjadi pada tahun 2010 ketika aku lulus SMA. Dari satu kelas yang berjumlah 40 orang (total 5 kelas), kira-kira hanya 3-4 orang yang belajar di perguruan tinggi setelah lulus SMA. Namun demikian ada hal yang aku banggakan tentang kesadaran orang tua dan siswa setahun setelah aku lulus SMA (tahun 2011), yaitu ketika beberapa teman angkatanku memutuskan untuk berkuliah di Universitas Terbuka (UT). Secara sadar, impian masyarakat naik tingkat dari sekedar buruh pabrik menjadi professional: seorang guru. Disinilah perubahan dalam segi kesadaran pendidikan dan sosial ekonomi mulai terjadi di dalam masyarakat Cisompet.

Setelah lulus kuliah pada tahun 2014 dan memutuskan untuk mengabdi di SMA Negeri 22 Garut di tahun 2015, aku melihat perubahan yang semakin baik terjadi pada masyarakat Cisompet, terutama dalam segi pendidikan. Siswa SMA N 22 Garut adalah siswa yang berprestasi. Buktinya, banyak siswa-siswi di sana yang memenangkan perlombaan tingkat kabupaten, seperti lomba dalam paskibra, pramuka, mojang jajaka Garut, masuk 10 besar olimpiade sains, dan lain-lain. Bukan hanya itu, tahun-tahun terakhir ini semakin banyak siswa yang melanjutkan ke perguruan tinggi. Sebagai bagian dari generasi yang terlahir di bumi Cisompet, saya bangga dengan perkembangan ini.

Melihat generasi yang cerdas dan semakin maju, aku berharap generasi-generasi Cisompet bisa kembali ke kampong halamannya untuk mengabdi. Tidak harus selalu menjadi pengajar, tapi berupaya memajukan Cisompet dalam segala bidang, seperti ekonomi, lingkungan, social, budaya, dan sudah pasti pendidikan. Aku selalu bermimpi ada generasi yang mampu memperbaiki ekonomi di Cisompet dengan mengembangkan wirausaha. Lewat wirausaha ini, akan banyak masyarakat yang mendapatkan pekerjaan dan menghidupi keluarganya dengan sejahtera. Sehingga jumlah para pemuda yang berangkat ke kota akan berkurang. Bukan apa-apa, kota-kota itu sudah sangat sesak dari orang-orang yang bermigrasi ke kota.

Dalam bidang lingkungan, aku berharap akan banyak generasi Cisompet yang cerdas dan sadar untuk menemukan solusi tentang masalah lingkungannya, terutama mengenai sampah. Aku selalu khawatir setiap kali melihat kebiasaan masyarakat Cisompet yang sering membuang sampah sembarangan, seperti ke sungai. Sepele? Bukan, ini masalah besar. Coba saja setiap keluarga setiap hari membuang sampah ke sungai, maka ada berapa banyak sampah yang akan terkumpul dua apalagi sampai 10 tahun mendatang? Ah, aku sadar ini masalah yang tidak mudah karena kami di desa tidak punya tempat pembuangan sampah khusus. Sebenarnya bukan tempat pembuangan sampah yang aku harapkan untuk ada di desa ini. Tapi, kreativitas dan kerjasama masyarakat untuk sebuah program yang beberapa tahun yang lalu popular, “Bank Sampah.” Meskipun program ini belum tentu menuntaskan masalah sampah, tapi setidaknya mengurangi resiko dari tumpukan sampah yang kian lama kian mengkhawatirkan. Ah, tapi jika hanya satu orang yang bertindak, tentu susah untuk membentuk program ini. Kita tentu perlu banyak orang untuk melaksanakan program Bank Sampah, dan tentu.. mungkin dibutuhkan dana awal. Yes, dana desa! Kemanakah itu? Semoga untuk ke depannya akan ada dari kita yang sadar akan lingkungannya, termasuk sampah. Dan semoga saja dana desa akan semakin berguna untuk membangun desa yang lebih baik.

Aku yakin banyak anak-anak Cisompet memiliki potensi untuk menjadi generasi yang cerdas dan mewujudkan impian yang sebenarnya kita harapkan: Membuat desa semakin maju dan sejahtera masyarakatnya. Kita pasti bisa!

 

Canberra, 1 Agustus 2017

 

Wina Sumiati

NB: Gambar fitur dari sma22garut.sch.id

Iklan

Tanggapi disini ya... ^_^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s