UNTUKMU YANG SELALU MELIHAT WAKTU, SUAMIKU..

Masih ingat tiga bulan yang lalu saat seorang pria di sampingku mengucapkan ijab dengan lantang. Dia lah suamiku yang saat ini mengisi kehidupan yang dulu sepi. Bersamanya kini semuanya terasa berwarna. Setiap mata terbangun di pagi hari, ada orang yang tertidur dengan lelap dan tenang. Menggambarkan sosoknya yang bijak dan penuh kesabaran.

17670527_269750683474255_1956227882_o17690284_269675650148425_1197280030_n

 

Aku tak mungkin tak menyayanginya. Suamiku adalah pria yang berani berkorban demi keluarganya. Luar biasa bukan? Ceritanya bermula empat bulan yang lalu. Saat itu aku sedang menjalankan studi S2 di negeri Kangguru, Australia. Tiba-tiba dia memutuskan untuk menikahiku saat libur kuliah. Kami tak ingin jarak menjadi penghalang dalam hubungan ini. Tanggal 11 Desember 2016, dua hari setelah aku tiba di Indonesia, kami menikah. Lucunya, waktu itu rumahku masih dalam proses pembangunan, tapi mertuaku tetap ingin melaksanakan pernikahan secepatnya. Tanpa ditunda-tunda lagi. Keluarga dan saudara-saudaraku sangat kaget karena belum mempersiapkan apapun. Jadinya, hanya dalam dua hari persiapan pernikahan dilakukan. Semuanya terlaksana dengan lancar, meskipun dengan sangat sederhana. Begitulah suamiku, dia orang yang sangat penuh kejutan. Bagiku, tak masalah pestanya tak meriah, yang penting kami sah!

Menikah memang menjadi solusi untuk tetap bersama, tapi tetap ada yang harus dikorbankan. Suamiku melepas pekerjaannya dan rela ikut bersamaku ke Canberra. Dengan modal Bahasa inggris yang pas-pasan, akhirnya suamiku berkomitmen dan berani ikut apa pun resikonya. Dia belajar pagi sampai sore supaya bisa berbicara Bahasa Inggris. Aku paham dengan ketulusan dan pengorbanannya, maka dengan itu dialah orang yang paling aku sayangi di dunia ini. Dan lagi, bukankah sebagai seorang istri pengabdian yang harus dilakukan adalah kepada suami?

aa

Sebagai orang yang menyayangi suaminya, ingin rasanya aku memberikan kado barang yang paling suamiku inginkan, yaitu jam tangan. Sebenarnya 2 bulan lalu sebelum ke Canberra, suamiku telah membeli sebuah jam tangan di pasar tradisional dengan harga di bawah 50 ribu. Aku masih ingat senyumannya yang luar biasa karena ia memiliki jam tangan baru dengan tampilan yang keren. Tapi belum berusia sebulan, jam tangan itu sudah eror. Jam tanganku menunjukan angka 12, sedangkan jam tangannya menjadi sangat lambat, di angka 9. “Ah mungkin batrenya sudah habis,” kata suamiku. Tapi setelah dipasang batre baru, jam tangan tersebut tetap tidak beroprasi. Wajahnya terlihat tidak bersemangat karena mulai saat ini suamiku tidak memakai jam tangan ke tempat kerjanya.

Sesekali, setiap pulang kerja, suamiku melihat kembali jam tangannya. Mungkin dia memperhatikan apa yang salah dengan jam tangan yang masih berusia bayi itu. Kadang aku menawarinya untuk membeli jam tangan di Canberra, tapi dia terus menolak. Aku sangat paham suamiku sadar bahwa harga jam tangan di sini sangat mahal. Tak mungkin bisa membeli jam tangan dengan harga minimal sekitar $100, sedangkan suamiku belum memiliki pekerjaan tetap di negeri orang. Katanya daripada membeli jam tangan di Australia, lebih baik gunakan saja uangnya untuk biaya makan sehari-hari. Aku yakin dia sangat menginginkan jam tangan, tapi aku juga sadar dia tidak ingin egois untuk kebutuhan sekundernya, sedangkan dia masih mencari-cari pekerjaan tetap.

14116836_A3
http://www.elevenia.co.id/prd-esiafone-promo-skmei-men-sport-analog-led-watch-ad1148-jam-14116836

Tinggal 2 bulan lagi menuju hari kelahirannya, jadi inilah kesempatan yang seharusnya aku manfaatkan. Kado jam tangan sepertinya akan menjadi hadiah terindah untuk seseorang yang penyabar seperti suamiku. Sering aku melihat produk-produk jam tangan di elevania.co.id. Ada salah satu jam tangan berwarna hitam, agak besar, dan sangat elegan. Aku tahu, jam tangan hitam ini akan menjadi kesukaannya. Seseorang yang seperti dia sangat layak mendapat kado indah dari pemujanya, aku. 

Dirinya tanpa jam tangan seperti setengah jiwa. Kurang lengkap. Dia selalu bilang bahwa jam tangan sangat berarti bagi dirinya. Ketika ia melihat jadwal bis, dia harus mengecek jam tangan. Ketika akan ibadah, dia perlu jam tangan. Dan, untuk memastikan dia tidak telat kerja, matanya pun tidak berhenti melihat jam tangan. Suara jam tangan mengingatkannya bahwa waktu terus bergerak ke depan, tidak akan kembali. Saat itulah, katanya, kita harus memikirkan dua kali perbuatan yang akan dilakukan. Jam tangan akan membantunya supaya tidak menyesal tentang waktu yang telah terlewati.

Untukmu suamiku, semoga kasih kita tak lekang oleh waktu. Dan kau bisa mencapai keinginanmu tentang mengingat waktu, yaitu melalui jam tangan.

http://www.elevenia.co.id/ctg-perhiasan-jam

_Tulisan ini diikutsertakan dalam “Lomba Blog Cerita Hepi Elevania”_

 

Iklan

Tanggapi disini ya... ^_^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s