MENGARUNGI BENUA: Hanya Keberanian

Hanya orang yang mengalaminya yang bisa merasakan betapa berharga dan pedihnya perjuangan ini. Karena, orang lain hanya ingin tahu hasil akhir, bukan perjalananmu meraihnya.

Ini bukan sebuah ledekan, tapi fakta. Cita-cita ingin melanjutkan kuliah di negeri orang memang tidak semudah rangkaian katanya. Banyak hal yang harus dilewati. Namun dari itu semua, yang terpenting adalah: kegigihan dan kesabaran. Tanpa itu semua, cita-cita itu akan hanya sekedar mimpi yang mampir di lidah berliur, setelah itu kering. Hanya keinginan yang diucapkan sejenak. Tapi kawan, seberapa pun perihnya proses mencapai cita-cita, justru perjalanan itu lah inti dari kenikmatan sesungguhnya. Percaya atau tidak, kawan, di sini aku akan mengisahkannya padamu.
…..

australia

gambar dari: adelia.web.id

Ucapan adalah doa. Istilah sacral itu ada benarnya juga. Kira-kira 10 tahun yang lalu, aku pernah bergumam kepada teman sejawat untuk bersekolah tinggi. Dan Allah mengaminkannya 5 tahun kemudian, bahkan lebih dari yang diharapkan. Tidak hanya mendapatkan beasiswa full untuk S1, tapi juga S2. Sungguh tidak pernah terbayang dalam hidupku bahwa seorang anak lugu dari keluarga biasa yang sering mendapatkan angka merah di SD bisa seperti ini. Aku semakin yakin, bahwa semuanya berawal dari keberanian untuk bermimpi.
…..
Aku juga tahu, untuk bisa mendapatkan beasiswa S2 tidak secara tiba-tiba. Seperti yang aku katakan sebelumnya, kawan, semuanya membutuhkan perjalanan. Entah itu jalan berliku, berlubang, berkerikil, menanjak, lurus, mulus, semua itu akan dirasakan.
Awal perjalananku bisa terbilang mulus. “Awalnya”. Seorang dosen (ah, aku pernah mengisahkannya padamu, tapi tak apa lah) mengajaku untuk menerjemahkan buku-buku sejarah berbahasa Inggris. Dengan satu modal: keberanian, aku berhasil menerjemahkan artikel dari koran online Washington Post. Dan ajaib ! dengan modal kemampuan berbahasa yang pas-pasan, aku akhirnya dinyatakan boleh bergabung dengan kelompok penerjemah. Semuanya berkat: keberanian.
…..
Namun semua pilihan hidup selalu berpasangan dengan konsekuensinya. Aku pun tak luput untuk merasakannya. Dunia perkuliahanku, setelah itu, disesaki oleh tamu dari dunia luar: pengembangan berbahasa Inggris. Memang tak mudah. Aku pun tak bisa berpihak adil terhadap keduanya. Kadang waktuku untuk mengerjakan tugas kuliah terabaikan untuk memberikan perhatian lebih pada penerjemahan, kadang pula sebaliknya. Iya kawan, aku memang tak pandai berpoliandri, bahkan untuk urusan pekerjaan. Aku cenderung setia pada satu hal, ha.
Tapi berkat ketekunan yang sedikit demi sedikit itu lah, Allah merestuiku untuk terus berjalan menerobos cobaan dalam meraih cita-cita: kuliah di Luar Negeri. Apa bedanya dengan kuliah di Dalam Negeri? Sekali lagi kawan, hanya yang mengalaminya yang bisa membedakan sensasinya. Percayalah…

 

Iklan

2 thoughts on “MENGARUNGI BENUA: Hanya Keberanian

Tanggapi disini ya... ^_^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s