WANITA DALAM GUBUK NESTAPA

Marwati tetap saja diam di depan perapian. Entah apa yang dia tunggu. Matanya tak berkedip menatap api yang saling memburu ke bujur panci. Tangannya merekat di depan kaki yang dilipatkan ke dada. Rambutnya sudah tak hitam lagi, di usianya yang masih separuh baya, rambutnya sudah lapuk seperti nenek-nenek berusia 70 tahunan. Tapi siapa tahu, usianya kini belum pantas menerima perubahan rambut putih seperti benang putih kusam yang terjatuh ke tong sampah.

150127094958_devi3

Dihadapannya, rebusan ayam masih lengkap dengan bulu-bulu kotor tak tercuci. Marwati masih saja diam tanpa peduli air rebusan itu sudah mulai menyusut terlahap si jago merah. Kesepian telah menyebabkan Marwati terpaku setiap hari di depan perapian. Ia tak akan beranjak dari perapiannya sebelum ada suara keributan dari dalam perutnya. Seperti saat ini, suara gemuruh itu mendorong tangannya untuk mengambil ayam dalam panci itu. Beberapa bulu ayam masih menempel lekat pada kulit ayam, tapi mulutnya tidak berhenti melahapnya.

Jauh dari rumah penduduk, janda marwati tinggal di dalam gubuk lapuk. Sinar kecil dari lampu petromak telah menerangi gubuk satu ruangan itu. Samar-samar sinar dari api dan sarang laba-laba telah menemani kesendirian marwati selama 20 tahun. Belum pernah ada yang berani mengunjungi gubuk Marwati. Sekalipun gubuk itu berada di dekat lapang sepak bola, anak-anak tidak berani sedikitpun menginjak pekarangan rumahnya. Anak-anak desa menganggap gubuk itu berhantu. Orang tua mereka melarang anak-anak itu untuk mendekati gubuk Marwati.

***

Marwati sebenarnya tidak tinggal di gubuk jelek itu. Kesendirian dan nasib buruknya telah membawanya ke dalam rumah yang tidak pernah jadi impiannya. Mimpi buruk Marwati bermula setahun setelah pernikahan keduanya. Bersama anak gadisnya ia hidup dengan Darso, seorang duda yang ia temui secara tidak sengaja di Pasar Tradisional ketika Marwati mencoba mencari peruntungan demi kehidupannya. Marwati masih ingat, di Pasar itu, Darso sering menemui Marwati yang menunggu pelanggan membeli sayur-mayurnya. Ia sangat senang menerima Darso yang memilki wajah luamayan. Darso sering sekali menghibur Marwati yang kesal dengan tawaran rendah pembeli. Meski banyak penjual lain yang berbisik-bisik dan tertawa kecut melihat kedekatan mereka, Marwati menganggap para penjual itu iri karena Marwati bisa menarik hati duda keren itu.

ibu_elsaelsi

“Heh, Marwati, kamu harus jaga jarak dengan si Darso itu. Kamu tau gak asal usul si Darso?”

“Tak usah dibicarakan. Aku tak mau lagi dengar bulan-bulanan warga. Kami akan menikah minggu depan. Kalo kalian mau datang, datang saja ke rumah kami, kami tak membuat undangan.”

“Cuihhh.. !!! berani sekali kau mengambil keputusan,” sambil meninggalkan Marwati, Ceu Asih menggerutu, “dasar janda tak tau diri. Mentang-mentang sepi ditinggal mati suami…ssss.,,,,” seiring dengan kepergiannya, suara Ceu Asih kian lama kian samar dan hilang.

***

Tiga bulan pernikahannya, Marwati merasa ada keanehan dalam keluarganya. Nesi, anak gadisnya, tak pernah lagi ia temui bermain dengan teman-temannya. Sejak Marwati menikah dengan Darso, jarang sekali ia lihat senyuman dari bibir anak sulungnya. Sesekali Marwati menengok kamar Nesi, Nesi hanya duduk menatapi jendela. Matanya kosong ke arah pematang sawah penduduk.

Tak pernah tak sehari pun Marwati tak menengok kamar anaknya. Gadis itu masih saja terpaku di depan jendela menuju ke arah pematang sawah itu. Marwati kini mencoba menghampirinya. Ia menemani Nesi memandangi pematang sawah itu. Ada gubuk kecil di pinggirnya. Marwati hanya menengok keterpakuan Nesi, ia tidak mampu mengganggu lamunan Nesi.

Hari berikutnya, Marwati bersemangat untuk menemui anak kesayangannya. Ia membeli baju baru untuk Nesi. Meski tidak terlalu mahal, Marwati yakin, Nesi akan senang dengan hadiah itu. Ia sangat berharap, senyum Nesi bisa kembali ke sedia kala. Karena mungkin, Nesi malu bermain dengan teman-temannya dengan baju lusuh yang ia pakai.

Jarak 2 KM dari pasar ke rumahnya tidak ia rasakan. Marwati hanya membayangkan senyuman melayang dari wajah anaknya. Langkah demi langkah pun telah berhasil ia selesaikan. Pintu rumah kini sudah di depan mata, hanya beberapa langkah lagi menuju kamar Nesi.

“Nok, nok, emak datang nok,” semangat sang Ibu begitu membara menanti kemunculan anaknya. Dua kakinya, perlahan ia langkahkan ke kamar anaknya.

Sebelum hadiah itu jatuh ke tangan anaknya, air mata Marwati telah lebih dahulu jatuh ke papan rumah. Matanya yang semula berbinar-binar, tergantikan oleh nestapa yang mengawali hari-harinya. Sekujur tubuh Nesi tergantung di atas kamarnya. Sangat jelas ia lihat, anak satu-satunya memutuskan mengakhiri ajalnya.

Beberapa saat tanpa sadar, Marwati memaksakan kakinya untuk meminta bantuan warga. Diketuknya satu demi satu rumah tetangga di desanya, tapi tak satu pun warga merelakan dirinya melihat Marwati. Warga menganggap, paling-paling mau minjem uang lagi, minta bantuan lagi. Ketukan Marwati pun akhirnya mencapai rumah Lurah Sudarjo.

“Pa, Pa Lurah, anak saya pa, anak saya.. tolong?” merah membara muka Marwati terguyur air mata yang mulai mengering.

“Apa, ada apa dengan anak sulungmu itu? Jangan bilang kau belum beri makan dia. Sudah, aku sibuk harus membikin surat buat tokoh-tokoh masyarakat.” Belum usai Marwati menyelesaikan ucapannya yang terbata-bata, Lurah Sudarjo menarik pintu untuk menutup.

“Anak saya.. gantung diri pa. aa.. anaak saya pa. anak saayaa..” tubuh Marwati pun roboh di serambi rumah Lurah Sudarjo. Beberapa jam lamanya, ia tak sadarkan diri.

Warga berkumpul mengambil tindakan. Beberapa mengurusi mayat Nesi, beberapa orang lainnya mencari Darso. Amin, sekertaris desa, melemparkan pandangan garangnya pada sosok yang ia kenal. Semakin mendekat ke tempat perjudian itu, semakin yakin yang ia lihat. “Heh Darso, perlu kau perbaiki otakmu itu. Tak tahu kau keluargamu sedang menderita kini? Mabuk saja kerjaanmu. Judi saja tingkahmu.”

Tubuh darso tidak bergerak. Kaku. Di atas meja penuh kartu dan botol-botol itu tubuh Darso tergeletak. Dari mulutnya keluar busa berbau. “Hah, oplosan. Tak sudi aku kuburkan dia juga,” Amin menyeret langkahnya menuju rumah Lurah. Dalam pikirannya, Amin masih bertanya-tanya, ada apa dengan keluarga baru ini? Ada apa dengan anak sulung Marwati –Nesi- ?

***

Malam itu, gerimis membasahi bumi Parahyangan. Keheningan malam dan suara jangkrik terbisukan oleh suara gerimis yang enggan untuk berhenti. Di rumah, Nesi membaringkan tubuhnya di atas kasur kapuk peninggalan alarhum ayahnya. Nesi masih ingat, ketika ayahnya masih hidup, ayahnya sangat rajin menjahit kasur kapuk yang sering bolong termakan usia. Diperhatikan ayahnya baik-baik, ayahnya sangat terampil menambal kasur itu. Kini, kenangan bersama ayah kesayangannya hanya berbekas pada tambalan kasur yang masih menempel. Tangan Nesi tiba-tiba menyentuh semua tambalan kasur. Ia masih belum bisa melupakan ayahnya, meski sekarang ia mendapat Ayah baru. Ayah tiri.

Lamunan Nesi terbuyarkan. Suara orang membuka pintu begitu keras menusuk telinganya.

“mak.. mak.. mak sudah pulang?”, langkahnya memburu sumber suara gaduh itu.

“ba…ba.. bapak? Bapak kenapa?” seluruh nafas dan detak jantung Nesi saling berbalapan. Ia melihat Darso setengah tak sadar. Langkah Darso yang terhunyung pun semakin lama semakin mendekat ke tempat Nesi berdiri terpaku.

Bau alkohol semakin tercium ketika Darso meraih lengan Nesi. “Pak,, bapak mabuk? Pa, sadar pa, ini Nesi, anak bapak!”

Entah apa yang Darso pikirkan. Darso melemparkan tubuh Nesi ke atas kasur kapuk peninggalan almarhum ayahnya. Pikiran dan pandangan Nesi pun mencapai suatu ruang yang tidak sadar. Beberapa menit ia merasakan dirinya tak berdaya. Seluruh pandangannya gelap. Juga, ruangan di sekelilingnya ia rasakan begitu gelap. Semenjak itu, hari-hari Nesi, masa depan Nesi gelap pula. Semuanya sirna.

***

Sore itu, semilir angin menggoyangkan ranting-ranting pohon yang mulai menjatuhkan dirinya ke atas tanah. Lambayan daun kelapa menari-nari di tepian sawah. Di bawahnya, seorang wanita separuh baya menyibukan dirinya mencari ranting-ranting kering. Seikat kayu kecil turut pula ia kumpulkan dan ia ikat. Di samping gubuk tua itu, ia letakkan bahan pembakar api itu.

Di tangan kirinya, seekor ayam kampung tak berdaya tergoyang-goyangkan oleh gerakan tubuh Marwati yang berjalan kesana kemari. Dari kejauhan, di pemukiman warga, terdengar keributan orang-orang yang terdengar samar-samar. Samar-samar terdengar, warga kehilangan lagi ayamnya. Suara itu, terdengar bagai bisikan angin yang menggoyangkan ranting-ranting di dekat gubuk Marwati.

Bersama bisikan itu, kenangan pahit 20 tahun lalu terkenang lagi. Dalam kenangan pahit yang masih bersarang dalam pikirannya, Marwati mengurung dirinya dalam kesepian di gubuk itu. Belum bisa Marwati mengubur ingatannya. Semuanya ia rasakan bagaikan kejadian kemarin sore. Dalam pikirannya, Marwati masih menyesali nasib buruknya. Belum terbayar pula rasa penasarannya, misteri sebab kematian Nesi belum ia ketahui. Satu yang paling ia sesali, pernikahannya dengan Darso mengawali mimpi buruknya. Kini, ia pun terselimuti oleh lamunan yang tak kunjung padam, bagai api yang memburu bujur panci di depannya sekarang.

Iklan

Tanggapi disini ya... ^_^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s