IDEALISME ANAK KAMPUNG, KATANYA…

gambar dari: lovelysmsforgirlfriends.blogspot.com
gambar dari: lovelysmsforgirlfriends.blogspot.com

Sulit untuk memulai tulisan, apalagi setelah lama ditinggalkan. Tapi, itu tak sebanding dengan sulitnya menjalani hidup sebagai sarjana muda. Manusia tanpa kepastian. Mau kuliah, harus menunggu proses satu tahun. Mau kerja, apapun harus dimulai dari hal kecil. Mau nikah, eh manaa. Hehe ya sudahlah.

Sebenarnya otak ini bukan sepenuhnya kosong tanpa tujuan. Ada beberapa rencana yang telah digumamkan sejak beberapa tahun lalu. Tujuan utama setelah lulus S1 memang melanjutkan ke tingkat selanjutnya, tapi karena memerlukan proses yang cukup panjang dan lama, jadi tanpa berpikir panjang, tentu kerja harus dicari. Ya, paling tidak sebelum kuliah dimulai. Insya’allah.

Setelah itu, sering tepikirkan dan benar-benar diniatkan dalam hati bahwa apa yang akan di dapat dari proses pencarian ilmu takan ku bawa jauh. Desa tercinta akan menjadi tempat pertama ilmu itu diamalkan kembali. Karena, masih banyak anak bangsa di Cisompet –tempat daku terlahir- yang sangat membutuhkan pengajaran dan motivasi untuk terus mencari ilmu.

Manusia dari desa ini memang tak istimewa. Apalah, hanya bermodalkan pengetahuan Sejarah, kemampuan menulis amatir, dan baru sedikit tahu tentang Bahasa Inggris. Tapi, sedikit ilmu itulah yang mereka nantikan. Kenyakinan dan semangat takan pernah berbohong. Tak ada yang salah jika ingin berbagi ilmu. Tak ada yang salah pula jika ingin mengabdi pada tanah kelahiran. Karena, melalui itulah perwujudan cintanya pada negeri. Bayangkan saja, jika setiap cendikiawan di pelosok negeri ini berusaha untuk mengabdi untuk daerahnya sendiri, akan kah kebodohan dan ketertinggalan masih berjaya di desa? Saya rasa tidak.

Sayangnya, hanya segelintir manusia yang ingin berjuang di kampungnya sendiri. Alasan belum berpengalaman, malu kalau tak berkualitas, kerjaan tak menjanjikan, dan susah kaya adalah dalih-dalih yang sering diucapkan. Tak ada kesuksesan yang diraih dengan sekejap mata. Lantas, jika mereka telah berhasil di tanah rantauan, akankah mereka benar-benar kembali dan mengabdi untuk desa? Saya tak yakin.

Mari kita membayangkan lagi. Andai saja setiap mahasiswa kembali ke kampung halamannya. Kemudian, sebagian dari mereka bekerja keras untuk mengamalkan ilmu kepada generasi muda di sana. Sebagian lagi membangun usaha sendiri dengan ilmu dan keahlian yang didapat dari univeristas. Bukan kah itu luar biasa dengan membangun kesuksesan di bumi sendiri?

Ketika para kepala pemerintahan di berbagai kota dibingungkan dengan masalah kemacetan, pengangguran, pemukiman kumuh, dan kejahatan, bukan kah membenahi pemikiran dan kembali ke daerah asalah adalah ide yang bagus? saya rasa jawabannya adalah ‘ya’.

Jangan terlalu dipikirkan, anggap saja apa yang telah tertulis di atas sebagai gurauan. Meskibagaimana pun, kita punya pilihan sendiri.

Iklan

10 comments

  1. Bener teh, sebagai anak kampung saya ge punya tanggung jawab moril buat memajukan daerah sendiri.
    Tapi kudu berjuang nyusun skripsi heula ieu teh. :mrgreen:

  2. Idealisme anak muda..
    Suamiku dulu juga semasa kuliah pengen kerja di kampung aja, atau kalo ga ya deket sekitar situ..Ogah banget ke ibukota..

    Tapi apa daya, susah Boo’ cari kerja di daerah.. Dapetnya mau ga mau di ibukota juga.. Maklum, semua seakan terpusat di sini..
    Dan di negara ‘liberal’ gini mau ga mau orang mengalir ke sumber uang..

    *ketika idealisme harus terkikis oleh realita*

    • ya mbak. Sebenarnya banyak orang-orang pintar yang mau mengembangkan daerahnya. Tapi karena banyak keterbatasan, mereka akhirnya pergi ke kota. Ah, akibat ketidakmerataan pembangunan desa dan kota.

      • Betul.. Banyak faktor yang ga mendukung itu, sebut saja:
        1. Kalo kerja kantoran, rekrutmennya masi kacau.. Ada yang diem-diem rekrut anaknya sendiri, ada yang lowongannya cuma ditempel di tembok kantor, dsb..
        2. Kalo wirausaha, banyak juga kendala.. Ada yang kudu bayar “retribusi” (alias dipalak), ada yang dikeroyok penjual lainnya, ada yang perizinannya susah, dsb prosesnya bakal lamaaaaa.. Kecuali kalo udah punya modal, dibeliin waralaba ortunya mungkin..
        3. Idealisme anak kampus yang pengennya setelah lulus langsung gajinya besar..
        4. Dll.

        Sementara kita dihadapkan pada tuntutan kebutuhan hidup, abis lulus pasti ditanya kapan nikah (kalo kerja di daerah fresh grad. gajinya lebih kecil jadi bakal lama sampe ‘mantep’), pandangan tentang prestige, sampe pada omongan tetangga..

        Nah saya kira di sini sebenernya perempuan lebih bisa masuk, soalnya tuntutan mapan ga sebesar laki-laki.. Dia bisa sekreatif mungkin ngembangin daerah, mau wirausaha, mau sosial, mau kerja kantoran.. Sebelum nikah jadi tanggungjawab ayahnya, setelah nikah jadi tanggungjawab suaminya..
        *kurang enak apa jadi perempuan coba?* 😀

        Maap malah kepanjangan jadi kayak kuliah.. wkwkwk..

Tanggapi disini ya... ^_^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s