PERMAINAN TRADISIONAL: NGADU MUNCANG

Permainan Anak-anak

Permainan Anak-anak

Arus globalisasi memang sedang hebat-hebatnya menggerus kebudayaan Indonesia, termasuk budaya permainan tradisional anak bangsa. Tapi siapa sangka di balik cepatnya arus globalisasi tersebut, permainan tradisional masih mendapatkan ruhnya di hati anak-anak desa. Seperti yang terjadi di desa Cisompet, daerah selatan Garut, anak-anak sedang ramai-ramainya menikmati permainan Ngadu Muncang yang saat ini sedang menjadi musimnya di kalangan anak-anak desa.
Anak-anak desa Cisompet memang perlu dijadikan contoh dalam mencintai permainan tradisional. Meskipun permainan modern dengan teknologi yang semakin canggih menyebar di seluruh dunia –termasuk Indonesia, tapi anak-anak desa masih menaruh perhatiannya pada permainan tradisional: Ngadu Muncang.
Sekilas memang permainan Ngadu Muncang ini kalah canggih dibandingkan dengan permainan modern sekelas Tendo, Game Online, Play Station, dan lain-lain. Akan tetapi kalau kita cermati lebih mendalam, permainan tradisional ini memiliki manfaat yang lebih berguna dibandingkan permainan modern, seperti ketelitian, kerjasama, kekuatan, dan kekreatifan. Empat manfaat tersebut bisa kita ketahui dari cara memainkan permainan Ngadu Muncang tersebut.
Dalam bermain Ngadu Muncang, pertama-tama seorang anak biasanya menyiapkan muncang (Indonesia: Kemiri) andalannya yang telah direndam selama seperempat/setengah jam di dalam air cuka. Perendaman di dalam air cuka tersebut berguna untuk menambah kekuatan kulit muncang. Setelah muncang andalan siap untuk ditandingkan dengan muncang teman sepermainan, salah seorang wasit muncang memberi aba-aba supaya kedua muncang tersebut siap untuk ditandingkan. Kedua muncang tersebut biasanya diletakan secara vertikal-bertumpuk di atas sebilah bambu yang telah dipotong mendatar. Kedua bambu mendatar tersebut diletakan di sisi bawah dan atas kedua tumpukan muncang tersebut yang di sisi paling bawahnya diberi alas sandal jepit. Setelah semua perlengkapan selesai dipersiapkan, maka seorang wasit muncang memberi aba-aba dari satu sampai tiga. Pada hitungan ketiga tersebut, wasit kemudian memukul tumpukan muncang dengan kayu yang agak besar. Di akhir permainan, anak-anak bisa melihat muncang mana yang masih bertahan dan muncang mana yang telah remuk. Di sini, anak-anak bisa mengetahui pihak mana yang lebih unggul.
Namun demikian, terkadang permainan tradisional Ngadu Muncang ini disalahgunakan oleh sebagian pihak. Permainan Ngadu Muncang yang pada awalnya memiliki nilai manfaat bagi anak-anak disalahgunakan oleh sebagian pihak yang ingin meraih keuntungan dengan menjadikannya taruhan, atau bahkan judi. Taruhan Ngadu Muncang pada umumnya disalahgunakan oleh para orang tua dan pemuda iseng. Mereka menggunakan media Ngadu Muncang supaya permainan bertambah mengasyikan. Akibatnya, penyalahgunaan permaianan tradisional ini menjadi salah satu target polisi dengan dugaan perjudian.
Penyalagunaan permainan tradisional ini memang bukan kesalahan anak-anak desa atau pihak yang menghadirkan permainan Ngadu Muncang ke tengah dunia anak-anak. Pihak-pihak yang tidak bertanggung jawablah yang harus disalahkan dengan penyalagunaan permainan tradisional ini. Kehadiran mereka di tengah masyarakat akan merusak citra permainan tradisional yang saat ini sedang giat bersaing dengan permainan modern.

Iklan

27 thoughts on “PERMAINAN TRADISIONAL: NGADU MUNCANG

  1. Ngadu muncang sama seperti ngadu gendok (biji karet) gak teh ?
    Sepertinya jika melihat dari posisinya sih sama akan tetapi pada ngadu gendok, kepalan tangan kita yang langsung memukul biji tersebut.

    • hampir sama.. tapi bedanya mungkin kalo ngadu muncang itu dipukul dengan kayu besar..
      hehe.. anak-anak disana juga berlomba untuk memiliki kualitas muncang paling bagus

  2. Akan tetapi kalau kita cermati lebih mendalam, permainan tradisional ini memiliki manfaat yang lebih berguna dibandingkan permainan modern, seperti ketelitian, kerjasama, kekuatan, dan kekreatifan. Saya kira, permainan tradisional apa pun–manfaatnya lebih beragam dibandingkan permainan nontradisional. Ka Tribun Jabar keun we tulisan ieu mah..:)

  3. read.ones berkata:

    Numpang ijin lapak ya teh…bt yg lg cari kemiri adu ready stok semua jenis paket campuran ato bijian invite 7e73b051 ato 082301318774

  4. fian berkata:

    Ingt loh sebagai permainan tradisional, muncangpun bisa menjadi bisnis yg lumbayan untuk diperjual belikan dengan harga yg berfariatip tergantung Dari jenis Dan kualitas muncangnya. Sbagai tambahan saja. Sebenarnya merendam/mematangkan Biji muncang itu lebih Sae ngangge cai lahang dibandingkan dengan air cuka.

  5. taufik budiman berkata:

    tapi muncang juga ada beragam jenis nya, dari mulai muncang jawa (jasun, jalim, jayanti,dll), muncang yanti, muncang eti, muncang sumatra, masih banyak juga beragam jenis muncang. namun permainan tradisional juga harus dilihat dari segi permainannya dulu, jika dalam permainan menggunakan uang atau taruhan sama aja permainan ini menimbulkan hal negatif (judi).

  6. taufik budiman berkata:

    jangan lupa muncang juga beragam jenis, dari mulai muncang sumatra , muncang jawa (jasun, jalim, jayanti, dll), ada juga muncang yanti, muncang eti dan lebih banyak lagi macamnya.

  7. juna berkata:

    Ada tips lain gk kang,kan biasanya sesudah d rendam pke air cuka trus d pale sama biji muncang atau kaliki,apa ada tips lain gk buat gosok muncang biar tmbah keras..

  8. radea berkata:

    abis di cuka direndam di air teh yang kemarin,,kalo kata bahasa sunda mh (teh bari) selama 3 hari terus di gosok” pake jempol (di pale) nyampe mengkilpa.

  9. dicky zulkarnaen berkata:

    ikuti dan daftar tgl 25-27 maret 2016 pagelaran eksebishi champions dan kontes muncang memperebutkan piala bupati di halaman exs setda tasikmalaya

  10. dicky zulkarnaen berkata:

    segera dan daftarkan tgl 25-27 maret 2016 pagelaran kontes dan eksebishi muncang memperebutkan piala bupati tasikmalaya di halaman exs setda tasikmalaya

Tanggapi disini ya... ^_^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s