CAHAYA UNTUK WANITA INDONESIA

 

Cahaya matahari pagi di tanggal 21 April 2014 ini bersinar begitu terangnya. Cahaya tersebut seakan merefleksikan semangatku sebagai wanita Indonesia hari ini. Aku memang bukan Kartini “Sang Pahlawan Emansipasi Wanita”, tapi aku berniat untuk membawa dunia yang gelap menjadi terang –Habis Gelap, Terbitlah Terang.
Usahaku untuk menjadi “Kartini reinkarnasi” memang tidak sekuat perjuangan kartini membela kaum wanita di masa kolonial Belanda dulu. Namun, aku yakin perjuanganku untuk menjadi wanita cerdas merupakan pancaran dari semangat Kartini membela kaum wanita.
Menjadi wanita cerdas, menurutku, bukan suatu kearogansian dari seorang wanita. Kecerdasan harus dimiliki seorang wanita untuk ikut memberi sumbangan terhadap kemajuan bangsa. Kecerdasan tersebut tidak hanya dalam hal “3R” (sumuR, kasuR, dapuR), tapi juga wanita harus memiliki pendidikan tinggi dan kemampuan untuk ikut berpartisipasi dalam mewujudkan bangsa yang mampu bersaing di panggung internasional.
Wanita kini bukanlah mahluk lemah yang hanya menunggu takdir. Sebagai mahluk berakal yang memiliki derajat yang sama dengan mahluk berakal lainnya, wanita pun harus ikut berperan dalam menjalankan roda dunia. Apalagi yang kita tunggu? Kita bisa mencontoh tokoh-tokoh wanita hebat. Seperti yang kita ketahui, banyak catatan sejarah yang mengungkapkan perjuangan wanita-wanita hebat baik dalam Sejarah Islam ataupun Sejarah Nasional. Dalam Islam misalnya, kita mengenal wanita-wanita hebat, seperti Siti Khodijah (saudagar kaya dari Makkah), Siti Aisyah (putri Nabi Muhammad SAW yang ikut terlibat dalam Perang Jamal), dan lain-lain. Begitu pula dalam sejarah Indonesia, kita mengenal Kartini, Dewi Sartika, Cut Nyak Dien, Mega Wati (Presiden Wanita Indonesia pertama), Sri Mulyani (Menteri Keuangan, sekarang di World Bank), dan lain-lain.
Sebagai refleksi dari tokoh-tokoh wanita hebat tersebut, Hari Kartini menjadi simbol kewajiban wanita Indonesia untuk berjuang untuk bangsa. Maka dengan itu, Hari Kartini bukan hanya sekedar hari kenangan perjuangan Kartini, tapi hari Kartini merupakan “alarm” bagi wanita Indonesia untuk bangkit dari tidur lelapnya. Merasa diri lemah tidak akan memberikan dampak apapun bagi negeri ini. Di saat wanita-wanita di negeri lain terus berinovasi, apakah wanita Indonesia hanya akan berpasrah dalam kelemahannya? Wanita Indonesia perlu cerdas dan mencerdaskan bangsa. Wanita Indonesia perlu maju dan ikut memajukan bangsa.

Selamat Hari Kartini
21 April 2014

Iklan

9 comments

  1. Yup! Wanita harus bangkit. Hari Kartini tiap tahun diperingati, tetapi kalau kaum wanitanya tak berubah ke arah lebih baik-itu yang payah. Bunda Theresa juga patut dijadikan contoh bagi kaum wanita. Tetapi, ibu kita sendiri, menurut saya adalah Kartini yang sebenarnya…:)

Tanggapi disini ya... ^_^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s