AKU BUKAN MAHLUK INDIVIDUALIS

Gambar

Aku tersadar oleh celotehan seorang gadis polos tadi sore. Dia bilang, aku jangan terlalu sibuk mengurusi urusan pribadi, hingga melupakan urusan orang di sekitarku. Disadari atau tidak, terkadang aku berpikir perkataan gadis itu ada benarnya. Di dalam alam renungku, ku coba singkirkan sejenak keegoisan yang selama ini menyelimuti diriku. Ku coba berpikir ulang perkataannya. Sekali lagi, aku mengakui bahwa saat ini aku terlalu sibuk dengan diriku sendiri.

Jujur, aku sangat takut dengan dakwaan “mahluk individualis” terhadap diriku. Hal yang sangat aku yakini saat ini, aku hidup di Negara gotong royong, bukan individualis. Dari lahir sampai saat ini pun, aku hidup di lingkungan sosial. Dari kecil, orang tuaku sering menasehatiku untuk menabur kasih kepada semua orang. Hal ini semata-mata karena aku hidup tidak sendiri. Dari lahir sampai menuju ke liang lahat pun aku akan butuh bantuan orang –kecuali urusan amal di hari akhir.

Hah, sebenarnya bukan niatku untuk menjadi ‘mahluk individualis’. Sama sekali tidak pernah terbersit dalam jiwaku menjadi manusia paling egois. Tumpukan pekerjaan yang mendekati deadline menjadikan aku dicap ‘terlalu sibuk mengurusi urusan pribadi’ oleh gadis itu. Setiap detik waktu, aku jaga untuk diriku. Jujur, aku takut waktu akan membunuhku, seperti yang diajarkan guruku dulu, “waktu adalah pedang”. Sering sekali ku berfikir, aku tidak boleh membuang waktu untuk hal lain, kecuali menyelesaikan beberapa pekerjaan dan tugas kuliahku. Tapi keyakinan akan waktu itu kini hampir ambruk oleh dakwaan gadis polos itu.

Aku tidak menyalahkan waktu. Aku juga tidak menyalahkan pribahasa itu. Aku juga tidak mendakwa ‘celotehan gadis itu’ salah. Tapi, aku hanya menyalahkan diriku sendiri. Detik-detik waktu yang ku miliki hanya ku habiskan untuk urusanku. Aku melupakan lingkunganku. Aku mengunci telingaku untuk mendengarkan mahluk-mahluk di sekitarku. Aku menutup mataku untuk melihat prilaku mereka. Tapi akhirnya, aku terselamatkan oleh ‘celotehan gadis polos’ itu.

Iklan

14 comments

  1. Tak perlu risau dengan laku individualismu. Sebab, itu bukan suatu ksalahan yg membawamu pada keterpurukan. Juga tak perlu mengagungkan nonindividualis, sebab laku kduanya perlu dilakukan tanpa mengecap salah satunya lebih baik walau pada akhirnya saat menghadap Tuhan, kita wajib individualistis…haha…

Tanggapi disini ya... ^_^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s