BUMI MANUSIA, PRAMOEDIYA ANANTA TOER

Bumi Manusia, Pramoediya Ananta Toer
Bumi Manusia, Pramoediya Ananta Toer

“Harus adil sudah sejak dalam pikiran, kita tidak boleh menghakimi perkara yang belum tahu benar tidaknya”–Pramoediya Ananta Toer.

“Sungguh karya yang agung,” begitu pandangan saya setelah membaca novel Bumi Manusia, karya Pramoediya Ananta Toer. Pujian ini ternyata bukan saja keluar dari hati dan pikiran saya sebagai anak bangsa yang mencitai karya bangsanya, tapi ternyata seluruh dunia pun mengatakan hal yang sama.

Setiap kata pada lautan huruf dalam karya Pram begitu indah. Pram begitu mampu meramu setiap kata dan alur cerita dengan penuh mempesona. Benar-benar mempesona. Tema kemanusian sebagai nilai dalam cerita disampaikan dengan kisah kehidupan yang sangat pas. Hal ini bukan saja karena Pram pernah mengalami sendiri peristiwa yang dikembangkannya dalam bentuk novel, tapi juga tangan, hati, dan pikiran Pram benar-benar cerdik untuk meramu cerita yang memukau.

Cerita Pram dalam novel Bumi Manusia dimulai dalam zaman kolonialisme Belanda. Tapi, tentu saja cerita tidak disampaikan secara kaku. Peranan tokoh utama, MINKE, dalam novel ini benar-benar menjadikan cerita ini bisa membuat hati kita terenyuh. Minke adalah pemuda keturunan raja Jawa yang terpengaruhi oleh keilmuan Belanda. Dua kararakter inilah yang membentuk kepribadiannya menjadi sangat berbeda. Minke adalah manusia yang tidak senang dengan ketetapan adat Jawa, tapi juga tidak senang dengan hukum Belanda. Dia hanya ingin keadilan dalam hidupnya.

Perjuangan Minke dimulai sejak pertemuannya dengan sebuah keluarga rumit, tapi menarik, yaitu Keluarga Mellemma. Meskipun banyak orang yang menilai betapa buruknya keluarga itu, Minke tetap teguh pada sikap dan pikirannya. Ia tidak ingin terlalu percaya terhadap omongan orang yang belum tentu benar atau tidaknya. Ketertarikan Minke pada keluarga ini membawanya pada perjuangan hidup yang sebenarnya, cinta dan pembelaan terhadap hak pribumi.

Keluarga Mellemma adalah keluarga kaya raya yang hidup di daerah Wonokromo. Mereka memiliki ribuan hektar tanah yang dikelola dalam berbagai sector pekerjaan. Menariknya, keluarga Mellema ini bukan berada di bawah kuasa seorang Belanda, tapi seorang Nyai. Ya, seorang Nyai yang bernama Nyai Ontosoroh. Nama Mellemma sendiri berasal dari seorang Belanda kaya raya. Kehancuran keluarga Mellemma bermula dari datangnya anak istri syah Tuan Mellema yang menuntut pertanggungjwaban atas keluarganya.

Meskipun berstatus Nyai, Nyai Ontosoroh memiliki keilmuan yang tidak bisa dianggap remeh oleh orang Indonesia sezamannya, bahkan oleh orang Belanda sendiri. Kehadiran Nyai Ontosoroh, ditambah dengan keberadaan seorang puteri cantik bernama Annalies dalam keluarga Mellemma benar-benar telah menyihir sosok Minke untuk masuk ke dalam permasalahan keluarga Ontosoroh yang rumit dan pelik.

Puncak perjuangan Minke bermula ketika pembelaannya terhadap Keluarga Mellemma di Pengadilan Putih Eropa. Tuntutan harta gono-gini atas perceraian istri sah Tuan Mellema telah menuntun keluarga Nyai Ontosoroh menghadapi pengadilan putih yang anti-pribumi. Saat itulah dia menyadari bagaimana sosok pengadilan putih yang sebenarnya. Pengadilan Putih hanya membela orang-orang berkulit putih, keturunan Belanda dan Eropa. Tidak ada hak pribumi untuk menang dalam pengadilan ini. Semua kemenangan milik Belanda. Meskipun berbagai cara telah dilakukan oleh Nyai Ontosoroh dan Minke untuk memperjuangkan kekayaannya dan Annalies, Nyai Ontosoroh tetap harus kalah dalam hukum ini.

Di akhir cerita, tidak satu pun kebahagiaan dunia didapatkan Nyai Ontosoroh dari kekalahannya. Kekayaan yang telah diraih dari keringat seumur hidupnya kini hilang, begitu pun anak tercintanya Annalies, lenyap ditelan kekejaman hukum Belanda.

Iklan

8 comments

  1. Sebuah karya yang luar biasa, yang hampir lenyap di penjara di masa pemerintahan orba.
    Saya dengar dari dulu kabarnya mau di-filmkan, tapi sekarang belum kelihatan perkembangannya, kecuali munculnya teater tentang Nyai Ontosoroh.

Tanggapi disini ya... ^_^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s