SI AKU YANG MENARUH IMPIAN: STUDI S2 DI LUAR NEGERI

“Beranilah bermimpi. Jangan takut orang berkata apa tentang mimpimu. Gantungkan lah cita-citamu setinggi mungkin, jika harapanmu tidak sama persis denga apa yang kau impiankan, setidaknya harapanmu tidak akan terlalu jauh dengan apa yang kau cita-citakan. Yakinlah itu. Yakin. Ingat, yakin!”

–My great lecturer, Mr. Tolib Rohmatillah, MA.

Kisah menggapai impian ini bermula ketika aku duduk di bangku SMA semester I. Dibandingkan teman-teman lainnya, aku bukanlah siswa kaya raya yang bisa meminta segalanya dari orang tua. Aku pun bukan orang yang pintar bergaul dengan orang lain. Jadi untuk mendapatkan teman, aku hanya mengandalkan prestasiku di kelas.

Memang waktu itu aku sadar bahwa aku tak sepintar orang lain. Teman-teman di kelas begitu pandai menyampaikan argumennya dalam diskusi, sedangkan aku hanya bisa memperhatikan dan diam saja. Namun di balik diam itu, hati dan pikiranku tidaklah diam. Ketika teman sebaya yang lain sibuk bermain motor-motoran sepanjang harinya, secara diam-diam aku menggunakan waktu yang ada untuk menghapal pelajaran.

Ternyata perjuanganku tidak sia-sia. Tiba saatnya pembagian raport kelas I SMA, aku mendapatkan peringkat I di kelas dan juara III umum dari 200 siswa. Prestasi ini bertahan hingga aku lulus SMA. Di saat prestasi itu kugenggam, banyak teman-teman yang ingin belajar bersama denganku. Orang tua dan saudara pun bangga denganku.

Aku (ujung kanan) waktu mendapatkan Peringkat III Umum di SMAN 22 Garut

Aku (ujung kanan) waktu mendapatkan Peringkat III Umum di SMAN 22 Garut

Pada saat kelas II SMA, dua orang kakak kelasku diberi penghargaan karena prestasinya selama di SMA. Mereka mendapatkan beasiswa kuliah di UNPAD (Universitas Padjajaran), salah satu universitas terfavorit di Indonesia. Keinginanku untuk melanjutkan kuliah pun semakin kuat. Namun keinginan ini bukan sekedar keinginan biasa, tapi inilah impian.

Impian ini kemudian menuntunku setiap hari untuk tidak pernah berhenti berikhtiar dan berdoa kepada Ilahi Rabbi. Dalam sujud dan do’aku tidak pernah berhenti hati berbisik dan lisan berkata, “Ya Allah, aku ingin mendapatkan beasiswa kuliah. Ya Allah, ku mohon kabulkanlah. Ya Allah, aku janji aku tidak akan menyusahkan orang tua. Ya Allah, aku janji akan membanggakan orang tua. Ya Allah, kabulkanlah. Amiin ya Rabbal Alamiin.”

Hebatnya, setiap impian memang akan diuji. Setiap harapan memang akan melewati tantangan, dan tantangan untuk mendapatkan impian itu ternyata cukup menguji kesabaranku. Di masa-masa akhir sekolah SMA, siswa-siswa lain sibuk mempersiapkan diri mereka untuk daftar ke universitas favorit di Bandung dan Garut. Aku hanya diam karena tak tahu entah apa yang harus aku lakukan setelah lulus SMA ini. Impianku untuk melanjutkan kuliah S1 memang belum dan tidak pernah terhapus. Tapi aku sadar, orang tuaku tidak memiliki harta cukup untuk membiayaiku kuliah. Aku tidak ingin memberikan beban yang lebih besar kepada orangtuaku. Mungkin inilah yang dinamakan idealisme diuji dengan realita hidup.

Namun, meskipun secara harta aku tidak mampu, perjuanganku untuk kuliah tidaklah surut. Aku berusaha sekuat tenaga mencari informasi beasiswa S1 kepada guru. Aku pun menceritakan segala keinginan dan keadaanku kepada guru supaya beliau memberikan jalan keluar atas semua permasalahanku. Namun, mereka tetap  menyarankanku untuk berunding terlebih dahulu kepada orang tua.

Usai sekolah, sesuai saran yang kuterima dari guruku, aku memberanikan diri menghadap orang tua. Aku berusaha mencari dan mencuri-curi kesempatan yang tepat untuk memberitahukan keinginanku itu. Tapi ternyata impianku masih tetap diuji, orangtuaku marah karena beliau bilang aku tidak mengerti keadaan perekonomian keluarga. Aku masih ingat kata-kata yang beliau ungkapkan:

“Nak, kamu itu harus sadar gimana kondisi keluarga. Kalo kamu punya keinginan kuliah, silahkan! Tapi kalo harus dibiayai oleh ayah dan ibu, kami belum sanggup. Kerjalah dulu, baru kuliah. Kamu sadarkan gimana besarnya biaya kuliah? Belum lagi biaya kamu hidup sehari-hari. Kami bisa mendapatkan uang itu darimana??”

Sejenak setelah menerima omongan itu, aku pergi ke kamar tanpa sepatah kata pun. Di tempat itu, aku hanya bisa merenung dan berdoa. Hanya itu yang aku lakukan.

Di saat hati tetap teguh pada pendirian untuk melanjutkan kuliah itu, ternyata disanalah tawakal diobati dengan pertolongan Allah. Keesokan harinya, seorang guru memberikan informasi beasiswa kepada aku dan teman-teman yang lainnya. Beasiswa itu menjamin biaya perkuliahan dan biaya hidup secara penuh. Subhanallah, kabar ini menumbuhkan kembali semangatku untuk terus berjuang menggapai impian.

UIN Bandung sebelum direnovasi

UIN Bandung sebelum direnovasi

Tanpa sepeserpun biaya pendaftaran, aku berhasil mendaftarkan diri di UIN Sunan Gunung Djati Bandung dengan jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam sebagai pilihan I, dan Manajemen Dakwah pilihan II. Jurusan itupun aku pilih atas suruhan hati, bukan basic. Kini saatnya aku menunggu keputusan dari sekolah.

Dua bulan berlalu, tapi tetap saja aku belum menerima pengumuman kelulusan beasiswa. Aku terus saja berdo’a dan berusaha membujuk hati supaya terus berharap. Rupanya di akhir dua bulan penantian ini, tepatnya pada bulan Juni sebelum acara kelulusan SMA, kesabaranku mulai surut. Di tambah lagi, di Sekolah ada info selembaran kuliah pelatihan perawat selama dua tahun dengan biaya kuliah hanya Rp. 1.250.000 sekali selama kuliah. Rupanya info ini juga mengujiku untuk berani membujuk orang tua supaya aku kuliah disana. Permintaanku dikabulkan. Orang tua memberikanku uang Rp. 1.002.5000 untuk kuliah di lembaga yang belum pernah aku kenal sebelumnya.

Beberapa hari setelah pendaftaran itu, aku mendapat issu bahwa prospek kedepan kuliah disana tidak jelas. Aku pun memberitahukan info ini kepada orangtuaku. Dan, hal yang tidak pernah terlintas dalam pikiranku pun terjadi. Orang tuaku marah besar atas semua ini. Beliau menyuruhku untuk mengembalikan semua uang itu, terserah bagaimana aku bisa membawa uang itu kembali. Orang tuaku hanya ingin tahu uang itu sudah kembali. Itu saja.

Selama uang itu belum kembali, orang tuaku pun tidak menyapa satu patah kata pun padaku. Inilah yang harus aku tanggung. Selama ujian ini pula, ibuku terbaring lemah di kamar. Beliau jatuh sakit. Ini mungkin karena uang pendaftaran itu adalah uang pinjaman. Di rumah aku merasa tidak memiliki siapa-siapa lagi, kecuali ayah yang masih memberikan kelapangan hati pada kekhilafanku.

Keesokan harinya, aku memberanikan diri untuk pergi ke Garut Kota. Gedung perkuliahan Pelatihan Perawat itu terletak di Garut Kota, sedangkan daerahku terletak di pedalaman, daerah Selatan kota Garut. Jarak dari daerahku ke kota Garut ± 65 KM (3 jam perjalanan). Meskipun aku belum pernah pergi ke kota sendirian, demi orang tuaku aku pun memberanikan diri berangkat sendiri.

Untungnya, di Garut Kota aku masih punyai saudara. Kakakku tinggal disana. Aku memberitahukan keluh-kesahku padanya. Beliau pun menolongku dengan menemui pihak kampus.  Akhirnya, uang itu pun bisa kembali 50 %. Aku pun masih bersedih hati karena uangnya tidak kembali sepenuhnya. Aku bingung harus meminjam uang pada siapa untuk menutupi kekurangan itu.

Di tengah kesedihan yang memuncak itu, ayahku tiba-tiba menelepon ku. Beliau bilang bahwa Kepala Sekolah mengumumkan kelulusanku mendapatkan beasiswa penuh di UIN SGD Bandung. Tanpa terasa, di saat-saat itu, air mataku keluar dengan derasnya. Rasa syukur yang tiada terkira atas kebahagiaan di puncak kesedihan itu. Kehilangan uang Rp. 500.000 itu pun tergantikan oleh kabar bahagia itu. Orang tuaku menyuruh aku pulang ke rumah. Beliau bilang, mereka bangga padaku.

Dari saat itu sampai saat inilah aku berkuliah di UIN SGD Bandung, jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam. Prestasiku tetap bertahan di kampus ini. Di tengah perkuliahan itu, aku tertarik pada dunia penulisan. Aku mencoba bergabung dengan komunitas penulisan di kampus ini. Beberapa artikel yang ku buat pun berhasil terbit di koran. Dari sinilah, impian-impianku selanjutnya dimulai.

Sejak beberapa tulisanku telah dimuat di koran dan banyak lomba penulisan yang aku menangkan, banyak dosen-dosenku yang menawariku untuk membuat jurnal, bergabung dalam penelitian sejarah, dan menjadi editor di komunitas penulisan. Aku sangat senang dengan pencapaian ini, aku bisa dikenal baik oleh para dosen di Jurusanku, Sejarah dan Kebudayaan Islam.

wisata sejarah ke Keraton Kasepuhan dan Kanoman Cirebon (SKI UIN Bandung)

wisata sejarah ke Keraton Kasepuhan dan Kanoman Cirebon (SKI UIN Bandung)

Di semester III, usai mata kuliah Bahasa Belanda seorang dosen tiba-tiba menemuiku, Pa Tolib namanya. Beliau adalah dosen Bahasa Belanda yang beberapa tahun lalu telah menyelesaikan kuliah S2 di Leiden University Belanda. Tanpa aku duga, beliau mengajakku bergabung di komunitas penerjemahnya. Beliau merasa tertarik dengan tulisan-tulisanku. Perkenalan inilah yang membangun motivasiku untuk berimpian mendapatkan beasiswa S2 di Luar Negeri.

 

Pa Tolib (Dosen Bahasa Belanda, Guru Expert, dan Great Motivator)

Pa Tolib (Dosen Bahasa Belanda, Guru Expert, dan Great Motivator)

Di dalam komunitas ini, beberapa buku berbahasa Inggris pun telah berhasil diterjemahkan, meskipun tidak sesuai sasaran rencana. Sebelum buku terakhir berhasil diselesaikan, masalah baru terjadi. Ini mungkin puncak dari toleransi yang diberikan Pa Tolib. Saat itu, sebelum komunitas ini dibubarkan, Pa Tolib mengeluarkan seluruh kekecewaannya kepada kami. Beliau kecewa atas kurangnya sikap disiplin yang kami miliki selama ini. Bagaimana tidak, hampir setiap pertemuan tim penerjemah, selalu saja ada diantara kami yang terlambat datang hingga 30 menit. Ditambah lagi, beberapa diantara kami yang tidak hardir tanpa kabar sedikit pun. Hingga akhirnya, komunitas penerjemah ini dibubarkan. Beliau bilang bahwa pantas kalau generasi Indonesia kurang berkembang.

Jujur aku sangat kecewa dengan bubarnya komunitas ini. Untuk tetap mempertahankan dan mencapai impian itu, aku pun memutuskan untuk mengambil kursus bahasa Inggris. Aku menyisihkan uang setiap bulan untuk tetap kursus. Beberapa bulan setelah kursus, aku menemui Pa Tolib lagi. Aku meminta beliau supaya aku diberi kesibukan apa saja, asalkan waktuku tidak terbuang sia-sia. Akhirnya, bersama tiga orang mahasiswi lainnya yang beliau percaya, aku diberi tugas mengurus perpustakaan yang berada di rumahnya.

Di tengah kegiatan itu, Pa Tolib tiba-tiba menyampaikan rencananya untuk mengadakan komunitas Bahasa Inggris lagi. Dan satu hal yang membuat aku begitu bersemangat dalam komunitas ini yaitu pertanyaan Pa Tolib di awal kesepakatan kami, “Kamu mau melanjutkan S2 dimana?”. Aku bilang, aku ingin melanjutkan S2 di SOAS, London dengan kajian Sejarah Asia Tenggara. Beliau bilang, UIN Bandung harus memiliki banyak orang-orang hebat, terutama perempuan yang hampir sangat kurang. Beliau menginginkan komunitas ini bisa menjadi generasi muda yang berprestasi dan memberi perubahan.

Untuk itu, sampai saat ini (semester VII), setiap Sabtu pagi dari pukul 09.00-18.00 WIB, aku bersama ke-empat kawan perempuan dan satu orang laki-laki lainnya diberi pelatihan bahasa Inggris oleh Pa Tolib. Selain pertemuan ini, setiap hari pun Pa Tolib memberikan tugas me-review buku berbahasa Inggris. Tidak pernah satu pun pertemuan yang terlewatkan tanpa motivasi. Aku tak tahu mahluk jenis apa Beliau. Makhluk jenis apa ciptaan Allah ini. Kata-katanya begitu masuk menembus hati terdalam ku. Bukan hanya masuk telinga kanan, keluar telinga kiri, bukan, tapi benar-benar mengisi penuh hati dan pikiranku. Mungkin hal yang sama juga dirasakan empat kawan lainnya. Melalui jalan beliaulah, hingga saat ini, aku masih menggenggam impianku untuk mendapatkan beasiswa S2 di Luar Negeri.

Aku masih ingat kata-kata yang beliau sampaikan pada aku dan kawan-kawan di komunitas ini:

“Beranilah bermimpi. Jangan takut orang berkata apa tentang mimpimu. Gantungkan lah cita-citamu setinggi mungkin, jika harapanmu tidak sama persis denga apa yang kau impiankan, setidaknya harapanmu tidak akan terlalu jauh dengan apa yang kau cita-citakan. Yakinlah itu. Yakin. Ingat, yakin!”

“Berusahalah menggapai impian, Allah yang menentukan. Berdoalah. Buat kesepakatan dengan Sang Pemilik Keputusan di dalam setiap do’amu. Yang saya yakini yaitu doa 75 %, usaha 25. Ini bukan berarti kita kurang berusaha, tapi doa itu berarti kehendak Tuhan di atas segalanya.”

Ya, aku yakin dengan impianku. Aku yakin impianku akan menjadi nyata!

 

Kawan-kawan Sang Pemimpi, saat2 mengikuti tes TOEFL di ITB Bandung

Kawan-kawan Sang Pemimpi, saat2 mengikuti tes TOEFL di ITB Bandung

Sebenarnya, impian ini bukan hanya sekedar impian pribadi, aku pun memiliki mimpi mengamalkan ilmu yang telah ku dapat untuk memajukan kampungku, Cisompet, daerah Selatan Garut. Aku akan menyakinkan anak-anak desaku untuk BERANI BERMIMPI dan MAN JADDA WA JADDA (Siapa yang bersungguh-sungguh, maka ia akan berhasil!). Di sisi lain, aku memiliki impian untuk menjadi sejarawan Indonesia paling produktif dan berpengaruh baik di tingkat nasional ataupun internasional. Kuliah S2 di Luar Negeri adalah salah satu gerbang untuk menggapai semua itu. Amiin.

 

tulisan ini diikutsertakan pada Giveaway Kolaborasi: Apa Impianmu?

giveaway-kolaborasi-banner-ii2

 

 

Iklan

41 thoughts on “SI AKU YANG MENARUH IMPIAN: STUDI S2 DI LUAR NEGERI

  1. Banyak jalan, yg penting terus berdoa dan ikhtiar, tapi jika enggak dikabulkan yg jangan patah hati.

    dulu saya juga ngarep begitu, tidak dikabulkan sama yg diatas, tapi diganti dengan lebih baik, bisa kerja di LN dengan dibayar dolar.

    salam sukses

  2. saya doakan segera terwujud mimpinya, jadilah sejarawan muslim yang handal, sebagaimana Mansur Suryanegara

    saya juga dulunya tak pernah menyangka bisa S2, karena kondisi orang tua yang tak memungkinkan, nyatanya berjalannya waktu baru tahun 2013 kemaren bisa wisuda

  3. subhanallah, inspiratif sekali mbak, tulisannya bagus dan menggugah semangat.. saya juga ada mimpi S2 di luar negeri, tp banyak hal juga yang masih saya ingin wujudkan di Indonesia.. semoga tercapai ya mba 😀

    salam kenal dari saya, rainbowmaniswriting.blogspot.com

  4. Ping-balik: Gusti 'ajo' Ramli
  5. Subhannalah ya blognya menarik sekali, sebenarnya cita2 mbak denga saya sama, saya dulu juga mendapat beasiswa D3 di Jakarta di salah satu sekolah kedinasan dan sekarang sedang melanjutkan transfer ke S1 didaerah saya karena terikat kontrak dengan salah satu dinas di daerah saya.
    Saya juga punya impian untuk dapat meraih beasiswa fulbright di america lewat Aminef, saat ini saya juga berjuang agar tofl saya bagus dan di atas rata2, tapi sungguh berat karena sembari kuliah saya juga bekerja, sehingga cita – cita saya 2 tahun kedepan saya sudah S1 dan dapat lanjut di salah satu universitas di america

    • hehe.. mari kita sama2 berjuang meraih impian itu. Yakinlah ketika kita memiliki keinginan, bukan para malaikat saja yang mengamini, tapi alam pun akan bekerjasama menggerakan kaki kita ke arah impian itu. Semangattt ka Andree !!! Ouh iya salam kenal ya….

Tanggapi disini ya... ^_^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s