CERPEN ROBOHNYA SURAU KAMI

20131110_093129CERPEN ROBOHNYA SURAU KAMI

Jika berbicara mengenai cerpen masa kini, alangkah baiknya jika kita tidak melupakan cerpen masa lalu. Kita bisa membedakan bagaimana cerita masa lalu disajikan pengarangnya dalam bentuk yang meng-asyikan, tak kalah mengasyikan dengan cerpen masa kini.

Seperti cerpen karangan A.A. Navis yang saya baca beberapa pekan lalu. Dengan judul utama Robohnya Surau Kami, cerpen ini begitu memikat hati saya untuk terus membaca dan membandingkannya dengan cerpen lainnya. Cerpen yang dikeluarkan pada tahun 1986 ini benar-benar sarat nilai moral. Bukan jenis cerita biasa yang hanya berbicara mengenai cerita kurang berbobot, tapi menyajikan nilai-nilai kehidupan yang dikemas dengan bentuk cerita yang mengasyikan.

Saya benar-benar yakin bahwa peminat kumpulan cerpen AA Navis ini tidak pernah habis ditelan masa. Bagaimana tidak, meski berbagai kumpulan cerpen dan novel masa kini merebak dimana-mana, tapi buku cerpen karangan AA Navis ini masih tetap dicetak beberapa kali. Anda tahu berapa kali buku ini dicetak ulang? Pertanyaan ini juga sempat menghantui saya, hingga saya menemukan jawabannya. Di lembar rincian percetakan, di sana dicantumkan bahwa buku Robohnya Surau Kami ini telah dicetak sebanyak 10 kali cetakan, dari tahun 1986 sampai tahun 2003. Waw, bukankah ini luar biasa?

Sedikit mengulas isi dari kumpulan cerpen ini, sebagaimana judulnya, Robohnya Surau Kami menceritakan mengenai kehidupan seorang lansia yang taat beribadah siang malam. Beliau menyerahkan hidupnya dari belas kasih orang lain. Namun demikian, ketaatannya dalam beribadah difahami secara salah. Kakek tua itu hanya memikirkan hablu minallah, sedangkan keluarga dan kerabatnya ia biarkan begitu saja. Apakah sikapnya yang seperti itu menjaminnya bisa masuk Syurga? Belum tentu. Karena sindiran seorang yang keterlaluan bercandanya, kakek Surau itu memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri dengan pisau yang dibuatnya. Dalam hal ini siapa yang salah atau patut disalahkan? Supaya anda bisa menentukan pilihan anda, saya sarankan supaya anda membaca cerpen ini.

Ini memang bukan kali pertama saya membaca cerpen Robohnya Surau Kami. Sejak menginjakan kaki di SMA, cerpen ini pernah menjadi bahasan dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Namun ketika itu saya tidak mengetahui nilai apa yang dapat saya petik dari cerpen tersebut. Baru saat ini, setelah kali kedua saya membaca cerpen karangan AA Navis ini, saya baru menyadari bahwa cerpen ini bukan sembarang cerpen, melainkan cerpen yang berisi nasihat-nasihat bagi kita semua. Hmm, andaikan semua cerpen masa kini pun berbobot seperti ini. Hebat bukan???

Iklan

7 comments

  1. kalo novel jaman dulu, saya suka novelnya Mira W. untuk novel ini sih sering liat, dulu malah sempat baca tapi belum tuntas. boleh tuh mbak novelnya dikirim ke saya, jadi penasaran pengen baca sampai selesai jadinya. hehe #modus 😀

Tanggapi disini ya... ^_^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s