Tarekat Qadiriyah di Cisompet-Garut

SEJARAH DAN EKSISTENSI TAREKAT QADIRIYAH

DI DALAM MASYARAKAT CISOMPET-GARUT

By. Wina Sumiati

20130817_171338

B

erawal dari masuknya faham Tasawuf ke Nusantara pada abad-17 yang dibawa oleh ulama Ulama Jawi ketika berguru ke Haramayn, secara perlahan hal tersebut menumbuhkan timbulnya tarekat-tarekat yang ada di Indonesia. Menurut Prof. Dr. Abuddin nata, tarekat pada mulanya berarti tata cara dalam mendekatkan diri kepada Allah dan digunakan untuk sekelompok orang yang menjadi pengikut bagi seorang Syaikh. Kelompok ini kemudian menjadi lembaga-lembaga yang berkumpul dan mengikat sejumlah pengikut dengan aturan-aturan tertentu. Dengan demikian menurut Abuddin Nata, tarekat adalah tasawuf yang melembaga (Abuddin Nata: 2009).

Dalam perkembangannya, sampai pada abad ke-21 ini, perkembangan tarekat di Indonesia tidak pernah pupus tersapu oleh kemajuan zaman yang semakin modern dan dikuasai faham-faham rasionalis yang semakin meracuni pola pemikiran manusia supaya berpikir logis. Meskipun ilmu pengetahuan dan teknologi semakin berkembang, hal tersebut tidak menyurutkan pola pemikiran masyarakat untuk mempercayai hal-hal yang berada di luar akal sehat manusia. Hal ini dapat terlihat dari perkembangan tarekat yang ada di Indonesia, tarekat berkembang dari satu daerah ke daerah lain. Hal ini disebabkan karena adanya struktur organisasi yang ada dalam tarekat itu sendiri. Dalam struktur organisasi tarekat, ada yang disebut Syekh (guru), Khalifah (wakil), dan murid. Jika murid sudah menguasai ilmu dan mendapatkan ijazah (izin) dari Syekhnya, maka murid tersebut akan menyebarkan faham tarekat, bahkan sampai ke daerah lain yang jauh dari tempatnya mencari ilmu.

Fenomena tersebut terlihat di daerah Garut Selatan, tepatnya di Kp. Joho, Kec. Cisompet, Kab. Garut yang merupakan daerah asal penulis. Ditinjau dari sejarah adanya tarekat di daerah tersebut, tarekat dibawa oleh salah seorang anggota Tarekat Qadiriyah-Banten yang bernama Mas Gober[1]. Awalnya, kedatangan Mas Gober ke daerah Cisompet hanya sebagai warga pendatang yang melakukan beberapa pekerjaan seperti masyarakat desa pada umumnya, Beliau bekerja sebagai tukang pijat. Akan tetapi, pada tahun-tahun berikutnya, yaitu sekitar tahun 2009, beliau mendirikan rumah dan tempat tarekat yang disebut Ribath. Berdasarkan peninjauan dan pengalaman penulis yang pernah mengikuti kegiatan tersebut, kegiatan tarekat Qadariyah tersebut biasa disebut Manaqiban. Kegiatan manaqiban berlangsung dari jam 21.00 s.d. 23.00 WIB. Biasanya, isi dari kegaitan manaqiban tersebut diantaranya yaitu dimulai dengan dzikir bersama, shalat hajat dua rakaat dan witir, disambung dengan dzikir kembali dan do’a-do’a tertentu yang dinisbathkan pada Syekh Abdul Qadir Zaelani, serta diakhiri dengan makan nasi tumpeng bersama yang sudah disediakan oleh istri dan para pembantu.

Sebelum mengikuti kegiatan manaqiban, biasanya orang-orang selalu menyiapakan air mentah ke dalam botol-botol bekas untuk kemudian pada akhir manaqiban, air tersebut diberi do’a oleh Syaikh. Selain masyarakat Kp. Joho-Cisompet yang rutin mengikuti manaqiban, banyak pula masyarakat di luar daerah yang sengaja datang dengan kebutuhan tertentu dan untuk memecahkan solusi atas permasalahannya. Namun selain kebutuhan tersebut, pada hakikatnya tujuan dari tarekat itu sendiri adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Apabila ditinjau dari paradigma kebudayaan, tarekat Qadiriyah merupakan spesifikasi dari aspek organisasi social masyarakat yang masuk ke dalam kategori aspek social kebudayaan. Tarekat Qadariyah dimasukan ke dalam kategori tersebut karena hakikat dari tarekat itu sendiri adalh tasawuf yang melembaga, mempunyai struktur organisasi seperti syekh, khalifah, dan murid. Dengan demikian, tarekat merupakan aspek social yang timbul dari tingkah laku mansia sebagai pembentuk dari timbulnya kebudayaan.

Mengenai eksistensi dalam masyarakat, eksistensi manaqiban tidak sepenuhnya ditanggapi dengan baik, adapula yang menanggapinya dengan cuek dan beranggapan bahwa manaqiban hanya diperuntukan bagi orang-orang yang mempunyai masalah dan mempunyai kebutuhan tertentu.

Pola pikir masyarakat desa yang belum mengetahui hakikat yang sesungguhnya dari tarekat (manaqiban) seharusnya perlu dilusruskan, bahwa hakikat dari tarekat bukanlah semata-mata hanya untuk menemukan pemecahan masalah yang diderita oleh setiap orang, tetapi hakikat yang sebenarnya adalah untuk mendekatkan diri kepadda Allah SWT, dan adanya tarekat merupakan jalan untuk mencapai hal tersebut.

Dalam perkembangannya, eksistensi tarekat dalam masyarakat Kp. Joho-Cisompet dipengaruhi oleh tindakan masyarakat yang menjadi tokoh sentral dalam mengembangkan kebudayaan tersebut. Selama pola pikir masyarakat tidak sepenuhnya didominasi oleh rasionalisme, dan menanggapi tarekat sebagai suatu jalan untuk memenuhi kebutuhannya dalam mencapai sesuatu, eksistensi tarekat akan terus berjalan meskipun zaman akan terus berkembang.


[1] Sebutan bagi Beliau karena kebiasaannya yang selalu mengenakan sarung kemanapun Beliau pergi. Maka dengan itu, masyarakat menyebutnya “Mas Gober”, yang dalam bahasa Sunda “ngagober” artinya sarung yang dikenakan terlalu besar/panjang ukurannya. Sejauh ini penulis belum mengetahui nama Asli guru Tarekat tersebut.

Iklan

6 comments

Tanggapi disini ya... ^_^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s